nataragung.id – Metro – Ibadah kurban bukan hanya ritual keagamaan yang berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Dalam konteks pendidikan modern, latihan berkurban di sekolah dapat menjadi media pembelajaran karakter, sosial, kepemimpinan, dan keterampilan hidup (life skill). Kegiatan ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan penguatan mutu pendidikan berbasis instrumen akreditasi sekolah dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah atau BAN PDM tahun 2026 yang menekankan budaya mutu, pembelajaran bermakna, kepemimpinan partisipatif, serta penguatan karakter peserta didik.
Latihan berkurban di sekolah pada dasarnya adalah kegiatan edukatif berupa praktik penyembelihan hewan untuk melatih siswa memahami syariat kurban, keterampilan pengelolaan hewan dan daging, serta pembentukan kepedulian sosial. Program ini biasanya didukung melalui infak siswa, iuran sukarela, atau dana sosial sekolah. Karena dilakukan secara kolektif atas nama institusi pendidikan, kegiatan tersebut diposisikan sebagai sarana pembelajaran, bukan ibadah udhiyah individu secara fikih.
Dimensi Psikologi Pendidikan dalam Latihan Berkurban
Dalam kajian psikologi pendidikan, pengalaman langsung (experiential learning) merupakan salah satu metode paling efektif dalam membentuk perilaku dan karakter. Teori experiential learning dari David Kolb menjelaskan bahwa pembelajaran yang melibatkan pengalaman nyata akan lebih membekas dibandingkan pembelajaran teoritis semata. Ketika siswa terlibat dalam proses penyembelihan, pengulitan, pengemasan, hingga distribusi daging, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi mengalami sendiri proses pembelajaran sosial dan emosional.
Kegiatan latihan kurban juga berkaitan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Dalam proses berbagi daging kepada masyarakat sekitar sekolah, siswa belajar memahami nilai keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial. Mereka tidak lagi memandang ibadah hanya sebagai kewajiban pribadi, tetapi sebagai sarana membangun solidaritas sosial.
Selain itu, pendekatan Social Learning Theory dari Albert Bandura menjelaskan bahwa siswa belajar melalui observasi dan keteladanan. Ketika guru, kepala sekolah, dan panitia menunjukkan sikap disiplin, kerja sama, kebersihan, dan kepedulian terhadap masyarakat, siswa akan meniru perilaku tersebut sebagai model sosial positif.
Pembentukan Karakter Peserta Didik
Latihan berkurban dapat menjadi sarana konkret penguatan pendidikan karakter di sekolah. Nilai-nilai yang tumbuh antara lain empati sosial, ketika siswa memahami pentingnya berbagi kepada Masyarakat; gotong royong, melalui kerja kolektif antarsiswa dan guru; kedisiplinan, terutama dalam pembagian tugas dan pengelolaan waktu; kepemimpinan, saat siswa dipercaya menjadi panitia kegiatan; dan kemandirian dan tanggung jawab, dalam menyelesaikan tugas teknis maupun sosial. Dalam perspektif psikologi humanistik Abraham Maslow, kegiatan sosial-keagamaan seperti latihan kurban membantu siswa mencapai aktualisasi diri karena mereka merasa memiliki makna, kontribusi, dan kebermanfaatan sosial.
Relevansi dengan Instrumen Akreditasi BAN PDM 2026
Instrumen akreditasi BAN PDM 2026 tidak hanya menilai administrasi, tetapi menekankan budaya mutu dan dampak nyata pendidikan. Dalam hal ini, latihan berkurban relevan dengan beberapa indikator utama, yaitu: penguatan karakter dan Profil Pelajar melalui pembiasaan religius, kepedulian sosial, kerja sama, dan tanggung jawab; pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan PAI, IPA, IPS, dan kewirausahaan dalam praktik nyata; penguatan kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun budaya religius dan kolaboratif; pelibatan masyarakat melalui distribusi daging kurban sebagai bentuk kemitraan sosial; serta pengembangan soft skill dan life skill seperti komunikasi, kerja tim, problem solving, dan manajemen kegiatan.
Tantangan Psikologis dan Edukatif
Meski memiliki banyak manfaat, latihan kurban di sekolah juga perlu dikelola secara hati-hati. Tidak semua siswa siap secara psikologis menyaksikan proses penyembelihan hewan. Oleh karena itu, sekolah perlu untuk memberikan edukasi awal tentang makna kurban, memperhatikan kesiapan emosional siswa, memastikan prosedur penyembelihan dilakukan secara manusiawi, menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan, menghindari eksploitasi atau tontonan yang menimbulkan trauma.
Pendampingan guru PAI dan Bimbingan dan Konseling juga penting agar siswa mampu memahami kegiatan tersebut sebagai pembelajaran nilai, bukan sekadar aktivitas fisik.
Penutup
Latihan berkurban di sekolah merupakan media pendidikan karakter yang sangat kaya nilai psikologis, sosial, dan spiritual. Kegiatan ini bukan hanya mengenalkan syariat kurban, tetapi juga membentuk empati, kepemimpinan, tanggung jawab, dan budaya gotong royong peserta didik. Dalam perspektif akreditasi BAN PDM 2026, latihan kurban dapat menjadi bukti nyata implementasi pembelajaran bermakna dan budaya mutu sekolah. Jika dirancang secara sistematis, edukatif, dan humanis, kegiatan ini mampu memperkuat citra sekolah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berhasil membentuk karakter dan kepribadian peserta didik yang utuh.
*) Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA adalah Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

