Cermin Retak: Kelaparan. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Menurut data Global Hunger Index (GHI) 2025, Indonesia menduduki peringkat ke 70 dari 123 negera yang masuk penilaian. Skor Indonesia berada pada point 14.6.

Point ini sesungguhnya masih berada pada posisi moderat. Namun, tetap saja masih adanya masalah dari berbagai indikator.

“Kita harus kritis terhadap data ini,” kata Yuk Nah

Pasalnya, menurut Yuk Nah, indeks ini dirumuskan berdasarkan empat indikator penting. Indikator ini yang harus diperhatikan secara serius.

“Bocorin dong, empat indikator itu,” kata Pakde Kliwon.

Saya paham, kalau Pakde Kliwon sudah mau mengejar informasi lanjutan, berarti menunjukan masalah ini penting. Dan mesti menjadi perhatian pemerintah di desa Bluwangan.

Baca Juga :  Manfaat Ajaib Bawang Putih untuk Kesehatan, Nomor 5 Paling Banyak Dicari - MAJALAH NATAR AGUNG

Yuk Nah nenengadah memandang atap jerami warungnya. Lalu membenarkan posisi duduknya, dan berdehem beberapa kali. Mata Pakde Kliwon tak sedetik pun beralih dari wajah Yuk Nah.

Entah sedang menunggu jawaban dari Yuk Nah, atau justru sedang melambung ke masa lalu, saat mereka berdua masih menjadi aktivis mahasiswa yang ditakuti pihak rektorat

“Indikator pertama soal kekurangan gizi pada anak,” ungkap Yuk Nah dengan suara mantap dan tanpa ragu.

Baca Juga :  Terbongkar Manfaat Mandi dan Minum Kopi di Pagi Hari - MAJALAH NATAR AGUNG

Saya benar-benar tak menyangka Yuk Nah menguasai benar soal Indeks Kelaparan Global ini. Saya mengira dia sudah berhenti rajin membaca pengetahuan dan informasi seperti itu. Dugaanku saat Yuk Nah hanya membaca dan menonton video mengenai menu malah meleset total.

Yuk Nah melanjutkan indikator yang lain, yaitu angka stunting pada anak, kurus pada anak. Kalau skornya rendah, sementara kita merasa masih tinggi problem pada dua indikator itu, maka kritisilah laporan mengenai angka stunting dan kurus pada anak ini.

“Indikator terakhir, angka kematian anak. Ini berkelindan dengan angka kematian bayi, tidak sendiri-sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Cermin Retak: Darurat Kekerasan Seksual. Oleh : Mukhotib MD *)

“Apakah MBG mampu menyelesaikan angka pada setiap indikator?” tanya Pakde Kliwon.

“Jangan sandarkan pada program MBG, itu hanya untuk keuntungan politik,” ujar Yuk Nah

Saya hanya manggut-manggut sambil menyambar pisang goreng yang hanya tinggal sepotong. Jangan sampai keduluan Pakde Kliwon yang sedari tadi sudah melirik tiada henti. (*/43)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini