Orba Dihapus, Ruang Didik Pancasila Ikut Lenyap

0

Oleh : Gunawan Handoko.
Dewan Pakar Forum Literasi Lampung, mantan Aktivis Organisasi Pemuda

nataragung.id – Bandar Lampung – MESTINYA Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi momentum refleksi penting untuk merealisasikan nilai-nilai dasar negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan pengingat bahwa ideologi Pancasila harus terus dihidupkan sebagai kompas moral dalam menghadapi tantangan modernitas. Di era pemerintahan Orde Baru, selain kewajiban mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) bagi pelajar dan mahasiswa serta seluruh elemen masyarakat. Ada juga program Latihan Kepemimpinan Pemuda dan Bela Negara bagi kaum muda dari berbagai organisasi. Tujuannya jelas, untuk menanamkan wawasan kebangsaan, disiplin, dan rasa cinta tanah air serta bela negara sejak dini. Penerapannya memang doktriner dan sentralistik lewat BP7, Kemenpora dan ABRI. Tapi ruang untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila itu ada. Begitu reformasi 1998 berhasil menumbangkan Orba, kita seperti alergi dengan semua yang berbau Orba.

Program penataran P4 dihapus, Latihan Kepemimpinan Pemuda dihentikan. Program Bela Negara untuk masyarakat sipil ikut dibuang karena dianggap militeristik. Semua peninggalan Orba dianggap haram untuk dilanjutkan. Memang, reformasi berhasil meruntuhkan tembok otoritarianisme, tapi belum berhasil membangun ruang baru untuk internalisasi Pancasila. Kita sibuk merayakan demokrasi dan kebebasan, tapi lupa menyiapkan pagar moral dan wadah kepemimpinan bagi generasi muda. Akibatnya lahir kekosongan besar. Pancasila hanya hidup di buku pelajaran PPKn dan spanduk peringatan 1 Juni. Pendidikan bela negara lepas dari kurikulum. Kaderisasi kepemimpinan pemuda diserahkan ke mekanisme pasar.

Baca Juga :  Sabar, Allah Tahu Kamu Mampu. Oleh : Rita Mia Anjani *)

Hari ini kita menuai dampaknya. Banyak pelajar yang hafal urutan lima sila, tapi gagap ketika diminta untuk memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Krisis kepemimpinan juga terasa di berbagai lini. Organisasi sosial kepemudaan banyak, tapi kader yang paham wawasan kebangsaan dan siap memimpin semakin sedikit. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi kita yang gagal menyediakan wadah penanaman nilai yang kekinian setelah program-program Orba dihapus total.

Kita tentu tidak ingin kembali ke model indoktrinasi Orba. Tapi menolak semua warisan Orba secara membabi buta juga berbahaya. Yang harus kita lakukan adalah mengambil ruh P4, Latihan Kepemimpinan Pemuda, dan Bela Negara. Yaitu penghayatan, kepemimpinan, dan cinta tanah air, lalu mengemasnya dengan cara reformasi: dialogis, demokratis, sukarela, dan relevan dengan dunia digital. Kalau dulu P4 diselenggarakan melalui penataran, sekarang bisa melalui proyek sosial. Kalau dulu Latihan Kepemimpinan Pemuda terpusat, sekarang bisa bottom-up dari OSIS, Karang Taruna, Pramuka, KNPI dan komunitas lainnya. Kalau dulu latihan Bela Negara identik dengan baris-berbaris, sekarang bisa lewat gerakan relawan bencana, literasi digital, dan ketahanan siber.

Baca Juga :  Rahasia di Balik Puasa Senin Kamis, Simak Lafadz Niatnya - MAJALAH NATAR AGUNG

Maka kita perlu mengemas ulang Pancasila menuju kekinian. Pertama, hidupkan kembali pendidikan bela negara versi sipil. Bukan militerisasi, tapi pelatihan tanggap terhadap berbagai bencana, anti hoaks, dan budaya gotong royong. Kedua, gunakan media yang dipakai kaum muda dalam melakukan sosialisasi. Ketiga, hubungkan Pancasila dengan isu yang mereka rasakan. Keempat, tunjukkan contoh nyata dari lingkungan kaum muda, baik lembaga sekolah maupun masyarakat. Pendek kata, 1 Juni harus menjadi momentum evaluasi, sudah sejauh mana kita membuat Pancasila relevan bagi anak muda?

Menyelamatkan Pancasila merupakan tugas kita semua. Apapun profesi kita, anggota TNI, anggota POLRI, guru, politisi, aktivis pemuda dan tokoh agama maupun masyarakat, hendaknya merasa terpanggil untuk melibatkan diri didalamnya. Menunggu program dari pemerintah itu perlu, tapi menyelamatkan Pancasila tidak boleh ditunda-tunda. Kita semua dapat memberi tauladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari ditengah masyarakat. Mengajarkan tentang kepedulian dan kerukunan hidup bertetangga, saling mengasihi dan menghindari permusuhan. Guru bisa memulai menjadikan kelas sebagai ruang dialog. Orang tua bisa mencontohkan musyawarah saat ada masalah di rumah. Jurnalis bisa melawan hoaks dengan dengan menyajikan berita yang mendidik. Anak muda bisa mulai dari hal-hal kecil dengan tidak menyebar ujaran kebencian. Tokoh masyarakat dapat mengajarkan tentang kepedulian bertetangga, dan banyak contoh lainnya. Pancasila tidak akan hidup karena Instruksi Presiden, tapi karena kita memilih mengamalkannya setiap hari. Tanpa harus menunggu komando, dan tanpa menunggu tersedianya anggaran. Kalau setiap kita berani jadi BP7 berjalan di lingkungan masing-masing, maka Pancasila tidak akan pernah luntur.

Baca Juga :  Cermin Retak: BBM untuk Orang Kaya. Oleh : Mukhotib MD *)

Mari berhenti mengutuk masa lalu dan mulai merumuskan masa depan. Pancasila tidak butuh dihafal lewat penataran atau di ruang kelas, tapi butuh dirasakan lewat tindakan nyata. Dan itu tugas kita bersama, bukan tugas Orba atau reformasi semata. Sudah saatnya Pancasila turun dari mimbar upacara untuk turun ke jalan, turun ke gawai, dan turun ke hati kaum muda. Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa khidmat kita mengikuti upacara 1 Juni, tetapi oleh seberapa dalam Pancasila hidup dalam tindakan masyarakat, khususnya generasi muda hari ini. Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Selamat Hari Lahir Pancasila 2026. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini