Cermin Retak: yang Datang dan yang Pergi. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Bangsa ini dikejutkan informasi pencopotan Ketua dan dua Wakil Ketua Badan Gizi Nasional (BGN). Konon, selain melakukan mark up, juga menerima setoran dana 1 miliar per hari dari yayasan mitra pelaksana MBG.

“Gayeng dunia media dua hari ini,” kata Yuk Nah.

Dengan berbusa-busa ia menceritakan digaan-dugaannya mengenai pelaksanaan MBG ini. Misalnya, mulai dari siapa yang berhak dan ke mana mendapatkan titik dapur MBG. Belum lagi gonjang-ganjing mengenai harga per porsi yang enggak pernah surut saban harinya

“Sekarang njebluk,” katanya.

Baca Juga :  100 Hari Lampung Selatan Maju bersama Egi-Syaiful

Berbeda dengan Yuk Nah, Pakde No malah menganggap kasus pencopotan itu merupakan strategi pengalihan isu dari para elit penguasa.

Pakde No bilang. Negeri ini sedang hancur lebur dalam bidang ekonomi. Rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika. Belum lagi soal ramainya orang membicarakan plesirannya Prabowo ke luar negeri yang tak habis-habisnya

Bangsa ini juga sedang terus mengkritik mengenai kebijakan luar negeri Prabowo yang terbaca bergantung kepada Amerika. Bahkan sampai saat ini meski didesak berbagai elemen bangsa, tak juga keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).

Baca Juga :  Layar di Tangan, Masa Depan di Taruhan: Dampak Gadget pada Otak Anak. Oleh: Zahra Shafira

“Maksudmu?’ tanya Yuk Nah.

Pencopotan itu, tak ubahnya untuk meredam seluruh isu yang saat ini mencuat dan menjadi bulanan-bulanan rakyat. Semuanya perlu dibelokkan, dialihkan, sehingga menjadi hilang semuanya.

Lalu, jagat media segera dipenuhi dengan roasting terhadap Ketua dan Wakil Ketua BGN. Bukankah, sekarang sudah terbukti?

Saya mengamini cara berpikir Pakde No yang jeli terhadap berjibakunya berbagai informasi. Kalau saja ia dikasih dana riset analisisnya tentu akan lebih tajam lagi.

Kalau bukan karena memiliki tujuan lain, bisa saja Kejagung melakukan pengusutan sebelum terjadinya pencopotan. Dan banyak kemungkinan lain yang bisa dikembangkan.

Baca Juga :  Mengapa Bangsa yang Gemar Bicara Moral Justru Ahli Bermuka Dua? Membaca Kembali Kritik Mochtar Lubis tentang Watak Manusia Indonesia Oleh: Kiagus Bambang Utoyo

“Selalu kritis lah, wahai bangsaku,” ujar Pakde No dengan suara mendayu, dan tangan membuka lebar di depan dada.

Saya terbayang saat masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah, ketika guru meminta setiap siswa membaca puisi di depan kelas. Dulu kita menyebutnya deklamasi. (*/45).

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini