Gunung Balak. (Peradaban yang hilang). Oleh : M. Habib Purnomo // Aktivis PWNU Lampung asal Lampung Timur, Tinggal di Bandar Lampung

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di Lampung Timur tidak jauh dari Taman Purbakala Pugung Raharjo ada sebuah desa tua yang tidak jauh dari tepian sungai Way Sekampung yang legendaris namanya yaitu Desa Gunung Sugih Besar.

Nama desa ini menarik karena biasanya nama desa kuno itu ada kaitannya dengan sejarah daerah setempat; misal nama kerajaan Majapahit berasal dari kata buah maja yang rasanya pahit, atau kerajaan Tulang Bawang (menurut penulis) berasal dari bahasa setempat tulung (sungai ) dan bawang (rawa-rawa).

Namun nama desa Gunung Sugih Besar ini tidak kentara bahasa setempatnya (bahasa Lampung) tapi penulisannya malah menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Indonesia dalam konteks sejarah belum lama berlaku di Indonesia .

Bila melihat bahwa tidak jauh dari Desa Gunung Sugih Besar itu ada gunung bernama Gunung Balak yang kemudian nama gunung itu menjadi nama kecamatan yaitu kecamatan GUNUNG BALAK, sangat mungkin awalnya nama Desa Gunung Sugih besar itu yaitu desa Gunung Balak titik, (bahasa Lampung gunung balak artinya gunung besar) dan berada di tepi sungai Way Sekampung. Namun kemungkinan di kemudian hari nama desa ini di bahasa Indonesiakan dan di tambah kata sugih mirip Gunung Sugih di Lampung Tengah.

Baca Juga :  Standar Seorang Bisa Dinamakan Ulama

Bila nama Kabupaten Pesawaran karena ada gunung Pesawaran atau nama kabupaten Tanggamus karena ada gunung Tanggamus, idealnya dulu kabupaten Lampung Timur itu nama nya kabupaten GUNUNG BALAK karena ada sebuah gunung namanya gunung Balak di dekat pasar Sidorejo lokasi gunung itu dan juga berdekatan dengan taman Purbakala Pugung Raharjo (Raharjo nama tambahan karena pada masa orde lama kawasan Purbakala Pugung yang di hutankan di masa lalu di buka kembali oleh orang-orang Jawa dari kecamatan Batanghari Lampung Timur).

Baca Juga :  Awas, Jangan Terlalu Dekat dengan Si Impulsif! Ini Bahaya yang Mengintai - MAJALAH NATAR AGUNG

Tapi jangankan nama Kabupaten, kecamatan GUNUNG BALAK pun sekarang sudah musnah di reboisasi (hutan kan) era presiden Soeharto awal tahun ’80 an karena masuk kawasan hutan register 48. Konon banyak legenda rakyat yang berkaitan dengan puncak Gunung Balak yang tidak tinggi di Sekampung Udik ini.

Karena dimasa lalu sejak era kerajaan Sriwijaya hingga era kesultanan Banten sungai Way Sekampung satu-satunya jalan TOL dari muara sungai hingga Batu Tegi ( batu tegak/Lingga), Tanggamus baik yang ke arah Banten maupun arah Palembang maka kampung-kampung tua dan peninggalan peradaban masa lalunya pun bekasnya bisa kita telusuri di sepanjang tepian sungai Way Sekampung itu dan sebagian sudah tersimpan di musium.

Baca Juga :  NU Care-UPZISNU Merbau Mataram Bersinergi, Pemdes Panca Tunggal jalankan Program KoIn NU

Ibu-ibu dan para gadis yang ramai mencuci pakaian di tepi sungai. Anak-anak riang gembira berenang , orang-orang sibuk memikul lada di bawa ke tepi sungai di naikkan ke perahu, para pedagang dan punggawa yang hilir mudik dari Sungai Way Sekampung ke kesultanan Banten, semua itu tinggal kenangan yang tertelan oleh jaman. Tabiik  (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini