CERMIN RETAK : Pendengung, Mana Benar, Mana Salah? Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragunh.id – Yogyakarta – Dulu sekali, berlaku adagium kebaikan yang tak terorganisir kalah oleh kejahatan yang terorganisasikan. Lantas, apakah sekarang adagium itu sudah tak berlaku lagi?

“Tentu tidak,” sergah Pakde Kliwon seperti jurus smash di permainan voli yang selalu siap ketika ada umpan bola bagus di depannya.

“Saya sih melihatnya masih relevan, hanya terjadi transformasi pada teknis operasionalnya,” lanjut Pakde Kliwon.

Ia menjelaskan kalau dahulu orang mengorganisasikan kejahatan dengan secara langsung, door to door, dan menggunakan kekuasaan kasat mata.

Mengorbankan kejahatan saat ini dengan cara merusak pemahaman orang, membingungkan masyarakat dengan menyandarkan mana yang baik dan buruk, dan mana yang khayalan dan kenyataan sosial.

“Benar Won. Sekarang orang benar-benar bingung mana cerita yang benar dan mana yang buatan. Orang juga bingung mana sungguhan, dan mana yang diciptakan,” ujar Pakde No.

Baca Juga :  Mati Bulan Puasa Ini atau Puasa Ramdan Tahun Depan. Oleh : Mukhotib MD *)

Pengakuan itu tentu saja membuat Pakde Kliwon besar sebelah telinganya. Wajahnya tiba-tiba merona merah, merah jambu, seperti kertas surat yang digunakan menyatakan cinta kepada Yuk Nah. Dan menurut pengakuannya sendiri sampai sekarang belum juga mendapatkan balasan. Gusti Gusti, nyuwun kawelasan

Saya berpikir andaikan yang memuji Yuk Nah, entah apa yang akan terjadi. Mungkin saja wajahnya sungguh-sungguh akan memerah darah. Asap mengepul dari tujuan lubang pada tubuhnya.

“Perlu contoh transformasi itu, Won,” lanjut Pakde No.

“Contoh sederhana, dengan adanya AI orang menciptakan video yang sungguh sangat mirip, dan susah dibedakan dengan produksi video yang sesungguhnya,’ kata Pakde Kliwon.

Kalau itu dalam bentuk narasi, kata Pakde Kliwon, orang benar-benar akan kacau untuk memahami masalah yang sedang terjadi. Menulis menjadi sangat efektif untuk memengaruhi masyarakat.

Baca Juga :  Bongkar Trik Rahasia Punya Website Media Sendiri!

Di sinilah kita saat ini, yang baik bisa terkapar menghadapi yang buruk. Yang benar tergantikan oleh yang salah. Karena kita enggak bisa menulis dengan masif yang berbiaya mahal itu.

“Digoreng langsung amblas,” kata Pakde Kliwon.

“Ya, ya, saya paham,” ujar Pakde No sambil melambai ke arah Yuk Nah.

“Ada apa?” tanya Yuk Nah mendekati Pakde Kliwon.

“Saya pesan tiga porsi bakso kuah dan teh manis tiga gelas. Kalau kau mau ya empat porsi,” katanya.

“Halah, guyonan bapak-bapak,” kata Yuk Nah melanjutkan menggoreng pisang.

Pakde No bilang itulah pekerjaan para pendengung. Memberikan perlawanan secara masif terhadap isu-isu yang sedang dikritik masyarakat.

Baca Juga :  Fenomena Menjamurnya Café dan Alasan Orang Suka Ngopi di Dalamnya

Pesan yang terus menerus dikirimkan ke berbagai platform menjadi masyarakat kebingungan. Dan akhirnya, masyarakat justru menganggap pesan pada pendengung itu lah yang benar.

“Begitu ya modus operandinya?” kataku santai tanpa menunjukkan betapa berapa pikiranku mengenali berbagai konsep komunikasi di era post truth ini.

“Cucuku ahli soal beginian. Dia sering dibayar mahal untuk itu. Miliaran,” kata Pakde Kliwon.

“Kita mau ndengungin apa?” tanyaku.

“Ya, setidaknya kalau telinga kemasukan air saat wudu menjelang salat Isya dan Tarawih,” ujar Yuk Nah, disusul dengan ketawa terkekeh kami bertiga. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini