nataragung.id – Pesawaran – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam, kegiatan pendakian kini tidak lagi sekadar soal mencapai puncak berburu panorama dan menyalurkan hobi. Bagi Komunitas Linimasa Pendaki Lampung, aktivitas di alam terbuka juga menjadi ruang edukasi sekaligus sarana membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Gagasan itulah yang diusung dalam kegiatan perayaan 1st Anniversary MT Kantong Semar bertajuk, “Funcamp 666: Anniversary 1666 Mdpl” yang digelar di kawasan wisata alam MT. Kantong Semar di Desa Gunung Rejo, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, pada 6–7 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 100 peserta yang berasal dari komunitas pecinta alam, organisasi, dan pendaki umum dari berbagai daerah di Provinsi Lampung.
Selama dua hari, peserta tidak hanya diajak menikmati lanskap pegunungan di ketinggian 1.666 meter di atas permukaan laut, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam.

Rangkaian kegiatan diawali di basecamp MT. Kantong Semar melalui acara seremonial pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur atas perkembangan destinasi wisata tersebut. Pada kesempatan yang sama juga diluncurkan Kopi Kantong Semar, produk lokal masyarakat yang diharapkan mampu memperkuat keterlibatan warga dalam pengembangan wisata berbasis alam.
Acara pembukaan dihadiri Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pesawaran Kurnia Oktaviani, jajaran Pemerintah Desa Gunung Rejo, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta masyarakat setempat.

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas mengatakan kegiatan yang melibatkan komunitas pecinta alam seperti ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Pesawaran kepada masyarakat yang lebih luas. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi untuk membangun kesadaran bahwa keberlanjutan wisata alam sangat bergantung pada kepedulian pengunjung terhadap lingkungan.
“Jangan sampai kita berwisata hanya menikmati keindahan alam, tetapi lupa bagaimana menjaganya. Ketika kita menjaga alam, mudah-mudahan alam juga akan menjaga dan menyelamatkan kita,” ujarnya.
Usai pembukaan, peserta melanjutkan perjalanan menuju area camping ground di ketinggian 1.111 Mdpl. Jalur pendakian yang didominasi tanjakan dan medan berbatu menjadi tantangan tersendiri bagi peserta. Namun kondisi tersebut justru menjadi daya tarik yang membedakan MT. Kantong Semar dengan sejumlah destinasi pendakian lain di Lampung.

Sepanjang perjalanan, peserta disuguhi panorama perbukitan hijau yang berhadapan langsung dengan kawasan Gunung Ratai dan Puncak Pesawaran. Dengan waktu tempuh sekitar satu hingga satu setengah jam, jalur ini dinilai cukup ramah bagi pendaki pemula namun tetap menawarkan pengalaman petualangan yang menarik.
Memasuki malam hari, suasana camping ground berubah menjadi ruang belajar bersama. Panitia menggelar sesi berbagi pengalaman mengenai teknik bertahan hidup (survival) di alam bebas serta etika pendakian yang bertanggung jawab.

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa meningkatnya aktivitas wisata alam perlu diiringi dengan pemahaman yang baik tentang keselamatan dan pelestarian lingkungan.
Suasana kebersamaan semakin terasa melalui berbagai permainan, kuis interaktif, serta pembagian puluhan doorprize yang melibatkan seluruh peserta.

Memasuki hari kedua, setelah sarapan bersama, peserta melakukan aksi penanaman pohon di kawasan sekitar lokasi perkemahan. Berbagai jenis tanaman seperti cendana, durian, dan sejumlah pohon kayu keras ditanam sebagai upaya menjaga tutupan vegetasi sekaligus mendukung keberlanjutan kawasan wisata alam tersebut. Setelahnya semua peserta bersiap untuk melanjutkan pendakian menuju puncak 1.666 Mdpl.
Ketua Pelaksana Komunitas Linimasa Pendaki Lampung, Ki Ageng Selo atau yang akrab disapa Mas To, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata komunitas pecinta alam dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut dia, kecintaan terhadap alam harus diwujudkan melalui tindakan konkret yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
“Kami ingin kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang berkumpul para pendaki, tetapi juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kepedulian terhadap alam. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi cara untuk memperkenalkan potensi wisata alam Pesawaran kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Mas To.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, sponsor, masyarakat setempat, dan Pemerintah Kabupaten Pesawaran yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Bagi teman-teman komunitas, kegiatan ini bukan hanya tentang bermain di alam, tetapi membawa pesan yang lebih besar: bahwa wisata alam tidak hanya tentang menikmati keindahan, melainkan juga tentang memastikan keindahan itu tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. (*/Diah)

