nataragung.id – Mandah – Kajian Fiqih yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali asuhan Al-Habib Ahmad Ghozali Assegaf Pimpinan PP Daarul Ma’arif, Banjar Negeri – Natar Lampung Selatan, untuk periode bulan Juni yang merupakan bulan ketiga dilaksanakan pada Selasa Malam Rabu 9 Juni 2026 di Masjid Al Istiqomah, Desa Mandah, Ba’da Shalat Maghrib berlangsung amat dinamis, santai tapi khusu’. Pada bulan Ketiga ini, Habib Ahmad Ghozali Assegaf membahas topik permasalahan tentang wudhu.
Mengawali penjelasannya Habib Ghozali memaparkan tentang rukun wudhu. Menurut beliau rukun wudhu ada 6 yaitu: Niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, membasuh sebagian kepala, membasuh kedua kaki sampai mata kaki dan tertib atau berurutan.
Secara gamblang pengasuh PP Daarul Ma’arif ini menjabarkan satu persatu tentang rukun wudhu tersebut menurut Mazhab Syafi’i yang paling umum di pakai di Indonesia. Dikatakannya niat dilakukan dalam hati bersamaan saat membasuh muka, mengenai lafadz tidak wajib yang terpenting maksudnya adalah ‘sengaja berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah’.
Mengenai membasuh muka adalah mengalirkan air ke seluruh wajah sampai merata. “Jika ada bagian muka yang kering/kelewat, maka wudhunya tidak sah,” Ucap Habib Ghozali.
Batas muka yang wajib di basuh, menurut Mazhab Syafi’i adalah: Atas-bawah dari tempat tumbuh rambut kepala bagian atas/pinggir dahi, sampai ke bawah dagu/ujung jenggot. Kemudian Kanan-kiri dari daun telinga kanan sampai daun telinga kiri.
Beliau juga menggarisbawahi saat membasuh muka ada detail yang sering terlewatkan yaitu pangkal rambut depan yaitu bagian dahi yang tertutup rambut harus kena air, namun jika rambutnya tebal cukup usap air ke kulit dibawahnya. Kemudian alis dan bulu mata, sela-sela jenggot atau kumis, lipatan hidung dan sudut mata serta bibir yaitu bagian luar bibir wajib sedangkan bagian dalam mulut tidak. “Makanya ada sunah kumur sebelum basuh muka, namun untuk hal-hal sunah dalam berwudhu, akan kita bahas pada kesempatan lain,” ucapnya.
“Intinya membasuh muka itu, silahkan tepuk air 3x ke muka, sambil diratakan pakai tangan dan pastikan tidak ada area kering, apalagi dipinggir rambut dan bawah dagu,” tegasnya dengan gamblang.
Kemudian rukun ketiga dalam berwudhu adalah membasuh kedua tangan sampai siku, yaitu mengalirkan air keseluruh tangan dari ujung jari sampai siku, wajib kena air semua. “Pastikan dari ujung jari, sela-sela jari, telapak tangan serta punggung tangan, pergelangan tangan, lengan sampai siku, semua harus kena air,” katanya.
“Yang sering terlewat adalah kuku panjang ada kotoran dibawahnya, kutek atau gelang jam tangan ketat yang menutupi kulit, bagian bawah siku atau pangkal lengan dan bulu lengan yang tebal, tapi air tetap harus tembus ke kulit,” urainya.
Lantas rukun wudhu yang ke-4 adalah mengusap sebagian kepala yaitu mengusap rambut atau kepala memakai tangan yang basah. “Apa perbedaan antara membasuh dan mengusap. Kalau membasuh, harus mengalirkan air kalau mengusap cukup usapkan saja,” lanjutnya.
Lantas bagian mana dari kepala yang di usap? Dengan cermat Habib Ghozali memaparkan batas kepala yang di usap yaitu dari tempat tumbuh rambut depan atau dahi sampai batas belakang kepala tempat tumbuh rambut leher. Intinya adalah area yang ada rambutnya. “Bagaimana yang botak atau gundul? Tetap wajib di usap kulit kepalanya, usap bagian yang biasanya tumbuh rambut.” Tandasnya seraya mengatakan kerudung dan jilbab bagi wanita harus dibuka dan tidak boleh mengusap kerudung.
Rukun yang ke-5 adalah membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Bagian mana saja yang wajib kena air, yaitu dari ujung jari kaki, sela-sela jari kaki, punggung kaki, telapak kaki dan tumit sampai mata kaki. “Perlu diketahui batas mata kaki yaitu ada dua tulang menonjol di pergelangan kaki kanan-kiri. Keduanya wajib kena air.”
Terakhir Habib Ahmad Ghozali Assegaf menjelaskan rukun wudhu yang ke-6 adalah tertib, maksudnya bahwa urutan harus mulai dari nomer 1 hingga nomer 5. “Tidak boleh Kita basuh muka kemudian basuh kaki atau usap kepala dulu baru basuh muka, itu tidak tertib,” tutup Ahmad Ghozali Assegaf mengakhiri paparannya.
Usai memberikan paparan bab wudhu, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Disesi ini jama’ah sangat antusias mengajukan pertanyaan, karena Habib Ghozali tidak membatasi pertanyaan pada masalah wudhu saja, materi lainpun boleh ditanyakan. Sedikitnya ada 7 orang yang mengajukan pertanyaan terkait masalah fiqih dan semua pertanyaan tersebut dijawab oleh pemateri dengan lugas dan jelas, sehingga tampak terlihat wajah para jamaah amat puas malam itu, baik dari sisi paparan pemateri maupun dari pertanyaan yang diajukan. “Malam ini saya puas sekali dengan penjelasan Habib Ghozali, luar biasa gamblangnya,” ucap Aman Saputra salah seorang peserta Kajian.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB, dan kajian Fiqih untuk periode ketiga ini harus berakhir dan dilanjutkan dengan shalat Insya berjamaah yang di Imami langsung oleh Habib Ahmad Ghozali Assegaf. (SMh)

