nataragung.id – Pemanggilan – Di antara adab berdoa yang paling agung adalah mengakui kelemahan, kebutuhan, dan kefakiran diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba tidak datang kepada Rabb-nya dengan kesombongan dan merasa mampu, tetapi datang dengan hati yang penuh kerendahan, menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.
Perhatikan bagaimana para nabi yang merupakan manusia pilihan Allah berdoa. Mereka tidak membanggakan kelebihan yang dimiliki, tetapi justru mengadukan kelemahan mereka kepada Allah.
Nabi Zakaria ‘alaihis salam berkata:
إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا
“Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban.” (QS. Maryam: 4)
Beliau mengungkapkan kondisi dirinya yang telah renta dan lemah sebagai bentuk ketundukan dan pengharapan kepada Allah agar doanya dikabulkan.
Demikian pula Nabi Ayyub ‘alaihis salam ketika ditimpa penyakit dan berbagai ujian yang berat. Beliau tidak mengeluh kepada manusia, tetapi mengadukan keadaannya kepada Allah:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83)
Karena keikhlasan dan kerendahan hatinya, Allah pun mengabulkan doanya dan mengangkat seluruh penderitaannya.
Begitu pula Nabi Musa ‘alaihis salam ketika berada dalam keadaan asing, lapar, dan tidak memiliki bekal. Beliau berdoa:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)
Beliau mengakui kefakirannya di hadapan Allah. Tidak lama kemudian Allah membukakan jalan keluar, memberikan tempat berlindung, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik.
Dari kisah para nabi ini kita belajar bahwa salah satu sebab besar dikabulkannya doa adalah mengakui kelemahan diri, menyadari kebutuhan kepada Allah, dan menampakkan kefakiran di hadapan-Nya. Semakin seorang hamba merasa membutuhkan Allah, semakin dekat ia dengan rahmat dan pertolongan-Nya.
Maka ketika berdoa, jangan hanya menyebutkan keinginan, tetapi hadirkan pula pengakuan bahwa kita lemah, tidak berdaya, penuh kekurangan, dan sangat membutuhkan pertolongan Allah. Sebab Allah mencintai hamba yang merendahkan diri di hadapan-Nya, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan doa orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang tunduk dan penuh harap. (*/266)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

