Cermin Retak: Sedang Tidak Baik-baik Saja. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Rakyat sedang susah. Nasibnya terhimpit disana-sini. Tidak saja soal diperas terus penghasilannya dengan pajak macam-macam, tetapi dipaksa menyaksikan akrobat penguasa yang keterlaluan. Pemain-pemain lawakan yang sungguh menyinyirkan.

Pertemax naik di tengah malam. Tentu ini akan merambat ke mana-mana. Demo akan segera muncul reaksinya. Bahan bakar kendaraan bermotor dan gas untuk kompor itu ibarat nafas kehidupan. Maka ia akan mudah menyulut amarah saat rakyat merasa tersumbat aliran nafasnya.

“Apakah ini bagian dari tanda zaman yang akan menunjukkan bunga mangga tak harus selalu menjadi buah,” kata Pakde No

Pakde Kliwon tengok kanan kiri. Agaknya ia tak paham maksud perkataan Pakde No. Maklumlah, dia memang bukan pecinta bahasa-bahasa sindiran, melainkan orang tulus, yang ingin mengatakan apa adanya.

Baca Juga :  Kinerja APBN April 2026: Menjaga Optimisme Fiskal di Tengah Tantangan Ekonomi. Oleh : Abi Khoiri // Warga Kelahiran Desa Mandah (Natar) - Kepala Seksi Verifikasi Akuntansi dan Kepatuhan KPPN Kuala Tungkal - Jambi

“Maksudnya, apa?” tanya Pakde Kliwon dengan wajah berhias kejujurannya.

Yuk Nah tampaknya tak tega melihat keculunan Pakde Kkiwon, dan menjelaskan makna dari kiasan itu. Pemerintahan bisa dalam bahaya, bisa tak sampai akhir periodenya

Pakde Kliwon manggut-manggut. Cangkir kopi yang sudah setengah jalan menuju bibirnya yang pecah-pecah ia letakkan kembali ke atas meja.

“Iya, benar. Rakyat yang susah, rakyat yang terjepit itu akan mudah tersulut,” katanya dengan berbinar.

“Memangnya rakyat sudah susah benar?” kata Pakde Kliwon.

“Ente enggak melihat tanda kesusahan lainnya?” tanya Pakde No dengan nada sedikit kesal.

Baca Juga :  Kisah Fulanah: Ketika Istighfar, Tahajud, dan Al-Baqarah Menjadi Titik Balik Hidup Seorang Wanita

“Enggak,” kata Pakde Kliwon.

Pakde No menyebut satu tanda kesulitan nasib rakyat. Pegadaian. Ya, sekarang Pegadaian tumbuh di mana-mana. Rakyat sungguh membutuhkan uang. Ia menggadaikan apa yang bisa digadaikan. Meskipun akhirnya enggak bisa menebus kembali barangnya.

Jika barang-barang yang layak gadai habis, mungkin saja mereka akan menggadaikan nyawanya. Menggantungkan di pinggir jalan, dan tumpukan sampah.

Kalau sudah begini, kata Pakde No, rakyat tak akan diam. Rakyat bisa melakukan perlawanan. Bukan kah dalam berbagai catatan sejarah, rakyat marah kepada penguasa yang zalim. Yang terus menerus mengancam kehidupan rakyat. Pemerintah yang menodongkan bedik ke arah kepala rakyatnya sendiri.

Baca Juga :  Ziarah Kubur Jelang Ramadan sebagai Persiapan Spiritual

“Apakah ini sudah berada masa senja kekuasaan?” tanya Pakde Kliwon.

“Mungkin masih membutuhkan beberapa situasi yang mampu menyulutnya,” kata Pakde No.

Saya mencoba memahami obrolan sahabat-sahabatku. Mereka yang pernah merasakan nasib sebagai pelaku perlawanan. Tentu saya yakin, mereka tahu persis tanda-tandanya.

Apakah sekarang sudah mencapai 30% dari tanda-tanda pemicu ledakan? Atau malah 60%?

Entah lah. (*/46)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini