Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 4: Dari Sekura ke Sesat – Ruang-Ruang Menumbuhkan Adab. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di Kampung Batu Brak, Lampung Barat, para lelaki dan perempuan berkumpul di lapangan. Mereka bukan sekadar berkumpul. Mereka bersiap untuk Sekura, pesta topeng tahunan yang digelar setiap Idul Fitri sebagai luapan kegembiraan setelah sebulan berpuasa.
Di antara kerumunan itu, seorang Punyimbang (tetua adat) tua bernama Dalom Putekha memandang dengan mata berbinar. Ia bukan melihat hiburan semata. Ia melihat ruang pertama tempat anak-anak Lampung belajar menjadi manusia.
Cucunya, seorang gadis bernama Sekala Bekhak, menghampiri dengan langkah ragu. “Yakh (panggilan untuk tetua), aku malu. Wajahku tertutup topeng kayu yang jelek. Orang akan menertawakanku.”
Dalom tersenyum. “Itulah tujuannya, Nak. Di balik topeng itulah kau akan belajar kendali diri yang sesungguhnya.”

Sekura: Topeng yang Mengajarkan Kendali Diri.

a. Filosofi topeng – mulut diam, mata melihat, hati bekerja

Tradisi Sekura yang hidup di Lampung Barat sejak zaman Kerajaan Sekala Bekhak ini memiliki dua jenis topeng yang tak terpisahkan. Yang pertama disebut Sekura Kamak, topeng kotor. Wajahnya kasar, menyeramkan, dan penuh noda. Yang kedua bernama Sekura Betik, topeng bersih. Rapih, indah, dan bercahaya.

Dalom menjelaskan kepada Sekala, “Kedua topeng itu adalah isi hatimu sendiri, Nak. Sekura Kamak adalah nafsu amarah, kesombongan, sifat buruk yang melekat. Sekura Betik adalah kebaikan, kesabaran, dan cahaya iman.”

Pada masa prasejarah, Sekura digunakan dalam upacara pemujaan kepada roh leluhur dan penguasa alam. Namun setelah Islam masuk ke Lampung melalui para penyebar agama dari Pagaruyung, tradisi ini bertransformasi total. Sekarang, Sekura menjadi pesta rakyat yang dihelat setiap Idul Fitri, sarat dengan nilai-nilai syukur dan kebersamaan.

Ketika seseorang menari dengan sekura, mulutnya tidak bisa berbicara. Hanya matanya yang melihat, dan hatinya yang bekerja. Inilah inti filosofinya: “tahan mulut, jaga pandangan, bersihkan hati.” Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Sekura melatih itu dalam bentuk yang paling nyata.

b. Tari sekura: gerak santun dalam irama adat

Tari Sekura tidak asal goyang. Gerakannya terukur, tidak ugal-ugalan. Para sekura berjalan meliuk pelan mengikuti tabuhan gamolan pekhing dan rebana. Setiap langkah adalah pengingat bahwa manusia yang sudah melewati Ramadhan harus kembali ke fitrah.

Menurut adat, tarian ini mengajarkan bahwa Pesenggiri (harga diri) tidak perlu diumbar dengan tingkah laku kasar. Cukup dengan gerak yang santun, kita sudah menunjukkan siapa diri kita. Sekala Bekhak yang awalnya malu akhirnya menari dengan penuh penghayatan. Ia sadar bahwa topeng bukan untuk menyembunyikan diri, tapi untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 2: Bahasa Tubuh yang Berbicara Lebih Lantang. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sesat – Beranda Tempat Orang Lampung Menjadi Manusia.

Setelah pesta Sekura usai, Dalom mengajak Sekala masuk ke Nuwo Sesat, balai adat di Kampung Pugung. Bangunan panggung ini adalah jantung peradaban Lampung. Bagi masyarakat Pepadun (salah satu sistem adat Lampung yang egaliter), Nuwo Sesat adalah tempat musyawarah, tempat para Punyimbang merumuskan adat, dan tempat generasi muda belajar menjadi manusia.
Di dalam sesat, tidak ada kursi tinggi untuk orang kaya. Semua duduk di lantai anyaman bambu membentuk lingkaran. Inilah yang disebut himpun, musyawarah adat.
“Lihat,” kata Dalom sambil menunjuk ke arah para Punyimbang yang duduk melingkar. “Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Di hadapan adat, semua sama. Raja dan rakyat, kaya dan miskin, semua duduk di lantai yang sama.”

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, naskah kuno yang ditulis dengan aksara Lampung dan huruf Arab gundul, aturan ini mengajarkan bahwa di hadapan hukum adat, derajat semua orang setara. Ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Dalom melanjutkan, “Di sesat ini, Nak, kamu tidak boleh memotong pembicaraan siapa pun. Jika kamu melakukannya, kamu akan ditegur. Jika diulangi, kamu akan dikucilkan.”
Memotong pembicaraan dalam musyawarah adat dianggap sebagai penghinaan halus. Sebab dengan memotong, kamu mengatakan bahwa perkataanmu lebih penting dari perkataan orang lain.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 13 tentang tata tertib adat, berbicara harus bergiliran.
Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman.
Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Baca Juga :  Pepadun dan Saibatin Warisan Identitas Lampung yang kian terlupakan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Imam Al-Qurthubi menafsirkan bahwa mencela orang lain sama dengan mencela diri sendiri. Memotong pembicaraan adalah bentuk celaan halus yang melukai harga diri orang lain.
Di sudut sesat, ada bangunan kecil bernama Gajah Merem atau Kelubuan, tempat istirahat bagi para Punyimbang sekaligus tempat belajar bagi mereka yang belum paham adat.

Dalom mengajak Sekala duduk di sana. “Ini adalah bangku bagi yang sedang belajar. Duduklah di sini, dengarkan, dan jangan bicara sebelum waktunya.”
Sekala mengangguk. Dari Kelubuan, ia bisa melihat seluruh ruang sesat. Ia bisa mendengar setiap kata yang diucapkan para Punyimbang tanpa harus ikut campur. Inilah pendidikan adab paling awal: belajar mendengar sebelum berbicara.

Ruang Dapur dan Ruang Tamu.

Dari sesat, Dalom mengajak Sekala ke rumah tradisional Lamban, rumah panggung masyarakat Saibatin (sistem adat pesisir yang cenderung aristokratis) di Kampung Kenali. Di sinilah adab yang paling sederhana namun sering terlupa diajarkan.
Saat masuk ke rumah, Nenek Umi, pemilik lamban, menyambut mereka dengan segelas air. Ia menyodorkannya dengan kedua tangan, tangan kanan memegang gelas, tangan kiri menopang bagian bawah.
“Ini adalah Nemui Nyimah (keramahan) yang paling sederhana,” kata Dalom. “Dua tangan berarti kita memberi dengan sepenuh hati. Satu tangan memberi, satu tangan lagi menahan. Keseimbangan.”
Dalam Islam, memberi dengan tangan kanan adalah sunnah. Rasulullah saw. selalu mendahulukan kanan dalam hal-hal baik (HR. Muslim). Adat Lampung memperluasnya menjadi kedua tangan sebagai isyarat bahwa tamu benar-benar dimuliakan.
Dalom menunjukkan ijan geladak, tangga masuk ke rumah panggung. “Di Lampung, Nak, kita tidak boleh membuka pintu dengan kaki. Harus dengan tangan kanan, pelan-pelan.”
Kaki adalah simbol rendah, tangan adalah simbol hormat. Membuka pintu dengan kaki berarti merendahkan pemilik rumah.
Dalam masyarakat Lampung, pelanggaran ini disebut cepalau dan dapat dikenai sanksi sosial.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 2: Nemui Nyimah - Kedermawanan yang Memberkahi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Begitu masuk ke dalam lamban, Dalom dipersilakan duduk di anjung, serambi kanan. Ini adalah posisi paling terhormat dalam arsitektur rumah adat Lampung. Sisi kiri biasanya diperuntukkan bagi keluarga atau tamu yang derajatnya lebih rendah.
“Tamu adalah raja di rumah kita,” kata Dalom. “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya’ (HR. Bukhari).”
Menempatkan tamu di sisi kanan adalah bentuk pemuliaan yang paling konkret. Ini juga selaras dengan hadits tentang mendahulukan kanan dalam segala kebaikan.

Sekala Bekhak pulang ke rumahnya dengan hati yang penuh. Ia menyadari bahwa sopan santun tidak diajarkan di ruang kelas. Ia diajarkan di lapangan Sekura, saat mulut dibungkam topeng dan hati dipaksa bekerja. Ia diajarkan di sesat, saat ia duduk di Kelubuan dan belajar mendengar. Ia diajarkan di lamban, saat ia menyajikan air dengan dua tangan dan mengetuk pintu sebelum masuk.

Dalom Putekha yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum. “Dari Sekura ke Sesat, Nak, itulah jalan Orang Lampung menuju adab. Bukan dengan suara keras, tapi dengan hati yang lembut. Bukan dengan kekayaan, tapi dengan keramahan. Bukan dengan kesombongan, tapi dengan kerendahan.”

Daftar Pustaka
1. Kitab Kuntara Raja Niti (Manuskrip kuno aksara Lampung & Arab gundul)
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Membina Rumah Tangga. Hatipena
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Pusaka Kerajaan Sekala Bekhak. Hatipena
4. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Portal Berita Natar Agung
5. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Raja Terakhir Sekala Bekhak. Hatipena
6. Djausal, & Dariyus. (2002). Arsitektur Rumah Sesat dan Filosofi Kosmologi Masyarakat Lampung
7. Fauzan. (2016). Sejarah dan Transformasi Tradisi Sekura di Lampung Barat
8. Peraturan Daerah Provinsi Lampung No. 22 Tahun 2002 tentang Persyaratan dan Penerapan Arsitektur Lampung pada Bangunan Gedung
9. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Surat Al-Hujurat ayat 11)
10. HR. Bukhari (Hadits tentang memuliakan tamu)
11. HR. Muslim (Hadits tentang mendahulukan kanan)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini