Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 2: Bahasa Tubuh yang Berbicara Lebih Lantang. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di Kampung Kenali, hiduplah seorang pemuda marga (klan) Saibatin bernama Bujang Kayo. Tubuhnya tegap, wajahnya tampan, tetapi ada satu keanehan: setiap kali ia berjalan melewati tetua di kampungnya, ia tetap menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat. Bukan karena sombong, pikirnya. Ia hanya merasa bahwa menunduk adalah tanda kelemahan.
Suatu sore, Punyimbang (tetua adat) Dalom Ngekhaga Tuan memanggilnya ke sesat (balai adat). Dalom duduk bersila di atas tikar pandan, menatap Bujang Kayo dengan mata sayu penuh makna.
“Nak,” katanya pelan, “tubuhmu sudah besar, tapi hatimu belum tahu bahasa yang paling tua di dunia ini. Bahasa yang tidak butuh suara. Bahasa tubuh.”
Bujang Kayo mengerutkan dahi. “Maksud Yakh (panggilan kehormatan untuk tetua)?”
Dalom tersenyum. “Di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai ini, sebelum ada kata-kata, sudah ada cara berdiri, cara duduk, cara berjalan, dan cara memandang. Itulah yang membuat Orang Lampung dikenal santun hingga ke seberang lautan.”
Tegak, Duduk, dan Berjalan yang Menunjukkan Hati
Dalom Ngekhaga Tuan lalu mengajak Bujang Kayo berjalan-jalan di sekitar tiyuh (kampung). “Lihat pohon bambu itu,” katanya sambil menunjuk. “Ia tegak tegughu, berdiri tegap, tidak membungkuk kepada siapa. Tapi, lihat pangkalnya. Ia tidak kaku. Ia melentur saat angin kencang.”
Tegak tegughu – berani tapi tidak sombong

Dalam falsafah Piil Pesenggiri, tegak tegughu berarti berdiri dengan tegap sebagai lambang keberanian dan harga diri. Namun, tegap di sini bukan berarti mendongak ke langit, merendahkan yang lain. Seseorang yang tegak tegughu tahu kapan harus mengalah, kapan harus menunduk hormat.
Menurut adat, sikap badan saat berbicara dengan orang yang lebih tua harus sedikit membungkuk ke depan, bahu tidak terlalu tegang, kepala tidak terlalu tegak. Ini adalah isyarat bahwa kita siap mendengar, siap belajar.
Dalom lalu bercerita tentang Raja Puncak Pesagi, raja terakhir Kerajaan Sekala Bekhak (kerajaan kuno di kaki Gunung Pesagi, cikal bakal masyarakat Lampung). “Raja itu dikenal tegas, tapi tidak sombong. Saat rakyatnya berbicara, ia menunduk sedikit untuk mendengar. Itulah sebabnya ia dicintai hingga akhir hayatnya. Dalam pertempuran melawan Belanda, ia gugur sebagai pahlawan karena mempertahankan Sekala Bekhak (kerajaan yang menjadi simbol kemuliaan dan kebanggaan Orang Lampung)”.
Di balik ketegasannya, tersimpan kerendahan hati. Dan itulah Pesenggiri sejati: berani bukan berarti angkuh.
Duduk tebekhak – merendah tetapi tidak hina.
Dalom lalu mengajak Bujang Kayo masuk ke dalam sesat. Di sana, beberapa Punyimbang sudah duduk melingkar. Dalom mempersilakan Bujang Kayo duduk di Kelubuan (bangku rendah tempat mereka yang sedang belajar adab). “Kau lihat posisi duduk kami?” tanyanya. “Kami duduk tebekhak, bersila dengan tubuh agak membungkuk ke depan, tidak bersandar. Ini tanda bahwa kita datang dengan hati terbuka.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dalam Ingatan Kolektif Masyarakat Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip kuno yang ditulis dengan aksara Lampung dan huruf Arab gundul, posisi duduk dalam musyawarah diatur dengan rinci. Siapa pun yang duduk dengan badan terlalu tegak atau bersandar dianggap tidak sungkan, alias tidak hormat.
Tebekhak mengajarkan bahwa merendah bukan berarti hina. Padi yang berisi justru merunduk. Semakin tinggi ilmu dan martabat seseorang, semakin rendah hatinya di hadapan Tuhan dan sesama.
Dalom menjelaskan, “Dalam syarak, sikap ini sejalan dengan larangan sombong. Rasulullah saw. bersabda dalam HR. Muslim: ‘Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.’ Duduk tebekhak adalah latihan harian untuk membunuh kesombongan itu.”
Isyarat Tangan dan Mata dalam Bertegur Sapa
“Mari kita keluar,” ajak Dalom. Di halaman sesat, beberapa anak kecil sedang bermain. Dalom memanggil satu per satu, menunjukkan cara yang benar dalam bertegur sapa.
Dalam masyarakat Lampung, tangan kanan adalah simbol kemuliaan, keikhlasan, dan kesucian. Saat memberi sesuatu, sekecil apapun, harus menggunakan tangan kanan. Saat menunjuk arah, gunakan ibu jari atau telunjuk tangan kanan, bukan jari telunjuk sembarangan.
Bahkan saat menerima sesuatu, masyarakat Lampung secara otomatis menjulurkan kedua tangan, tangan kanan di bawah, tangan kiri menopang. Ini adalah bentuk Nemui Nyimah (keramahan) yang paling sederhana: memberi dan menerima dengan penuh penghormatan.
Di Kampung Pugung, jika ada tamu yang datang, tuan rumah akan menyodorkan kopi dengan kedua tangan. Tangan kanan memegang cawan, tangan kiri menopang bagian bawah. Ini adalah isyarat bahwa kita menghormati tamu melebihi diri sendiri.
Dalom menunjukkan contoh. “Kau lihat anak-anak itu?” Bujang Kayo mengangguk. Mereka berjalan melewati Dalom dengan menunduk, mata ke bawah, tidak menatap wajah Dalom secara langsung.
“Ini adalah isyarat bahwa mereka menghormati orang yang lebih tua,” jelas Dalom. “Bukan karena takut, tapi karena tahu batasan.”

Dalam budaya Lampung, seorang anak dilarang menatap tajam mata orang tua saat berbicara. Pandangan cukup tertuju ke hidung atau dagu. Saat berjalan di depan orang yang lebih tua, harus membungkukkan badan sedikit, menunduk, dan meminta izin (ngelangkok). Pelanggaran atas tata krama ini dalam hukum adat bisa dikenai sanksi sosial.
Dalom mengisahkan asbāb al-nuzūl (sebab turunnya) surat An-Nur ayat 27
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tadkhulû buyûtan ghaira buyûtikum ḫattâ tasta’nisû wa tusallimû ‘alâ ahlihâ, dzâlikum khairul lakum la‘allakum tadzakkarûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran.”

Baca Juga :  Legenda Air Hitam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ayat ini turun ketika seseorang masuk ke rumah orang lain tanpa izin, lalu penghuni rumah merasa tidak nyaman. “Dari situlah Islam mengajarkan pentingnya ngelangkok, meminta izin. Adat kita sudah lama mengajarkan hal yang sama.”
Khanai – membungkuk ringan sebagai tanda hormat tanpa sungkem
Istilah khanai dalam bahasa Lampung berarti membungkukkan badan sedikit saat berhadapan dengan yang lebih tua atau yang lebih tinggi derajatnya. Ini bukan sungkem yang dalam seperti budaya Jawa, tapi cukup dengan sedikit menekuk punggung, menundukkan kepala, dan kedua tangan dijulurkan ke depan dengan posisi sedikit terbuka.
Dalom mencontohkan. Ia memanggil seorang muli (gadis remaja) dari marga Pepadun bernama Ani. Ani berjalan mendekat, lalu sedikit membungkuk, tangannya ia julurkan ke depan dengan posisi agak ke bawah.
“Lihat,” kata Dalom. “Ia tidak menyentuh lututku. Ia hanya memberi isyarat bahwa ia menghormati usiaku.”
Khanai adalah bahasa tubuh yang mengajarkan bahwa kita tidak perlu merendahkan diri berlebihan untuk menunjukkan rasa hormat. Cukup dengan isyarat kecil, sopan santun sudah tersampaikan. Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang keseimbangan (tawazun), tidak berlebih-lebihan, tidak pula meremehkan.

Rumah dan Halaman: Cermin Sopan Santun Keluarga

Dalom lalu mengajak Bujang Kayo berkeliling ke beberapa rumah di Kampung Sukamarga, Gedungtataan, Pesawaran. Di setiap rumah, ia menunjukkan bagaimana arsitektur dan tata letak rumah mengajarkan adab.
Sesat – tempat belajar batin dan lahir
“Sesat (balai adat) adalah universitas pertama Orang Lampung,” kata Dalom sambil menunjuk bangunan panggung beratap rumbia. “Di sinilah anak-anak belajar Piil Pesenggiri, belajar bejuluk beadek (menjaga nama baik), dan belajar nemui nyimah (keramahan).”
Di dalam sesat , tidak ada kursi untuk bersandar. Semua duduk di lantai. Tidak boleh berbicara keras. Tidak boleh memotong pembicaraan. Anak-anak yang masih kecil diajak masuk, diminta duduk diam dan mendengar. Inilah pendidikan karakter paling awal.
“Konon,” Dalom melanjutkan, “di sesat inilah para Punyimbang dari marga Saibatin dan Pepadun duduk bersama merumuskan Pi’il Pesenggikhi sebagai falsafah hidup. Mereka tidak bertengkar meski berbeda sistem. Karena di sesat, semua orang sama di hadapan adat.”
Anak-anak diajari ngelangkok sebelum masuk ke halaman orang
Dalom mengajak Bujang Kayo ke rumah seorang janda bernama Nenek Umi. Sebelum menaiki ijan geladak (tangga rumah panggung), Dalom berhenti di bawah. “Nek Umi!” panggilnya pelan. “Dalom datang berkunjung. Boleh naik?”
“Ini,” kata Dalom kepada Bujang Kayo, “adalah ngelangkok sebelum masuk rumah. Tidak boleh sembarangan menaiki tangga tanpa dipersilakan.”
Di Kampung Bumi Agung, ada sanksi adat bagi yang melanggar, disebut cepalau lanjat-lanjit (masuk rumah tanpa izin). Denda adatnya bisa berupa beras atau uang yang diserahkan kepada tuan rumah sebagai permintaan maaf.
Bahkan saat hanya ingin masuk halaman, seorang anak harus mengucapkan, “Nyak, nyak, kham haluwak” (Permisi, kami lewat). Jika tidak, ia dianggap tidak punya mulim (rasa malu) dan akan ditegur oleh siapa pun yang melihatnya.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 3: Kukuk Bejuluk, Etika Makan dan Tatanan Sosial dalam Saibatin. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti Bab XIII, tata cara bertamu diatur secara rinci. Tamu harus menyebut juluk (gelar) dan marga-nya dari bawah tangga, menunggu izin, baru naik. Ini bukan formalitas. Ini adalah tembok terakhir yang menjaga privasi dan kehormatan setiap keluarga Lampung.
Matahari mulai terbenam. Dalom Ngekhaga Tuan dan Bujang Kayo duduk di beranda rumah Dalom sambil menikmati kopi tubruk.
“Nak,” kata Dalom, “kau sekarang tahu bahwa sopan santun tidak selalu diucapkan. Ia ditunjukkan melalui bagaimana kau berdiri, bagaimana kau duduk, bagaimana kau berjalan, bagaimana kau memandang, bagaimana kau memberi, dan bagaimana kau meminta izin.”
Bujang Kayo mengangguk. Ia tersadar bahwa selama ini ia salah. Menunduk bukan tanda takut. Membungkuk bukan tanda hina. Khanai bukan kelemahan. Semua itu adalah bahasa tubuh yang berbicara lebih lantang daripada seribu kata.
Sebagai penutup, Dalom membisikkan sebuah petuah yang hingga kini masih saya ingat: “Tandani jemma sai bepiil, sikokh dano tapi nyelip, Dikenal orang yang berpiil, seperti danau yang jernih beriak”. Setiap gerak tubuhnya, setiap isyarat tangannya, setiap tatapan matanya meninggalkan riak kebaikan. Dan riak itu akan sampai kepada siapa pun yang melihatnya.

Referensi Karya Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga)
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani. (2022). Serial Buku – Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 2: Sembah Rasa, Sopan dalam Bahasa. Pemerintah Provinsi Lampung – JDIH
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Piil Pesenggiri di Era Digital. Hatipena
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Pusaka Kerajaan Sekala Bekhak. Hatipena
4. Kitab Kuntara Raja Niti (Manuskrip kuno aksara Lampung & Arab gundul)
5. Hadikusuma, Hilman. (1976). Seminar Sejarah Lampung
6. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Surat An-Nur ayat 27, Al-Isra ayat 53)
7. HR. Muslim (Hadits tentang kesombongan)
8. Ramadhoni, Ismi. Skripsi: Asal-Usul Penduduk Lampung dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Universitas Lampung

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini