nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman Kerajaan Sekala Brak masih berjaya, hiduplah empat bersaudara keturunan Umpu Bejalan Diway: Umpu Pernong, Umpu Nyerupa, Umpu Belunguh, dan Umpu Belunguh yang lain. Mereka dikenal sebagai pemberani dan bijaksana.
Namun suatu ketika, perdebatan sengit muncul di antara mereka tentang siapa yang paling berhak memimpin perburuan besar menyambut musim panen. Masing-masing merasa memiliki kelebihan dan mengklaim hak sebagai pemimpin.
Sang ayah, Umpu Bejalan Diway, tidak serta merta memutuskan. Beliau memerintahkan keempat putranya untuk berpuasa dan bermeditasi di empat penjuru bukit selama tujuh malam. Pada malam ketujuh, masing-masing mendapatkan mimpi yang berbeda tentang cara mendapatkan air di padang gersang. Ketika berkumpul kembali, sang ayah menyajikan hidangan istimewa dalam satu wadah besar: nasi kuning dengan jantung pisang, daging rusa buruan termuda, ikan gabus dari sungai tersuci, dan sayur paku paling muda.
“Siapa yang harus makan pertama?” tanya sang ayah. Keempatnya terdiam. Kemudian Umpu Bejalan Diway berkata: “Mimpi kalian adalah petunjuk. Umpu Pernong bermimpi menemukan mata air dengan menaiki pohon tertinggi, karena itu kau akan memimpin dari ketinggian kebijaksanaan dan makan paling awal. Umpu Nyerupa bermimpi menggali sumur yang dalam, kau akan mengurusi tanah dan air kehidupan, makan setelah kakakmu. Umpu Belunguh bermimpi menemukan embun di daun talas, kau akan menjaga tunas-tunas muda, makan ketiga. Dan yang termuda bermimpi menghimpun tetesan hujan, kau akan mengumpulkan apa yang tersisa untuk disempurnakan.”
Sejak itulah lahir sistem Bejuluk (gelar adat) dan Kukuk (aturan/tata cara) dalam tatanan masyarakat Saibatin.
Aturan makan yang tertib dan terhormat menjadi cerminan dari tatanan kosmis yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.
LAMBAN SEBAGAI PETA KOSMOLOGI
Dalam masyarakat Saibatin (adat Lampung Peminggir), lamban (rumah adat) bukan sekadar tempat tinggal, melainkan miniatur alam semesta yang terstruktur. Setiap bagian rumah memiliki makna filosofis mendalam yang tercermin dalam tata cara makan.
Bagian haluan (depan rumah) merupakan area paling terhormat, ditempati oleh para penyimbang (pemangku adat) dengan gelar tertinggi. Bagian tengah untuk keluarga inti dan tamu terhormat, sementara buntut (belakang) untuk generasi muda. Konsep ini dikenal sebagai Tiyuh Tigo Tungku, tiga tungku kehidupan yang saling mendukung.
Ketika hidangan disajikan, arah dan urutannya mengikuti peta kosmologi ini. Sebagaimana tercatat dalam naskah kuno Piil Pesenggiri: “Haluan nengah buntut, sai sai bejuluk beadek, sai sai bepanggik bepengahuan” (Haluan tengah buntut, masing-masing memiliki gelar dan adat, masing-masing memiliki panggilan dan pengetahuan).
Analisis: Kutipan ini menunjukkan bahwa hierarki dalam masyarakat Saibatin bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menegaskan tanggung jawab dan peran masing-masing individu dalam menjaga keseimbangan sosial. Setiap posisi dalam lamban memiliki martabat dan kewajibannya sendiri, yang dihormati melalui tata cara makan.
TIGA TINGKATAN JULUK DALAM TATA MAKAN.
Sistem gelar dalam Saibatin memiliki tiga tingkatan utama yang mempengaruhi tata cara makan:
1. Penyimbang/Princeps: Gelar tertinggi seperti Pangeran, Batin, dan Dalom. Dalam penyajian makanan, mereka mendapatkan bagian pertama dari setiap jenis hidangan. Sebelum mereka menyentuh makanan, tidak seorang pun boleh mulai makan. Ini bukan keistimewaan, melainkan tanggung jawab, sebagai penguji kualitas makanan dan penerima resiko pertama jika ada masalah.
2. Bumi Jurai/Tokoh Adat: Gelar menengah seperti Khaja, Khadin, Minak. Mereka menerima hidangan setelah penyimbang, dan biasanya mendapatkan bagian yang lebih spesifik seperti daging bagian paha atau dada yang dianggap paling baik.
3. Anak Jurai/Anak Buah: Golongan muda atau yang belum bergelar. Mereka makan terakhir, seringkali dari bagian yang tersisa. Prosesi ini mengajarkan kesabaran, penghormatan, dan siklus kehidupan, bahwa yang muda harus menghormati yang tua, dan kelak akan menjadi tua yang dihormati.
Dalam naskah Kuntara Raja Niti dijelaskan: “Makan bukan sekedar kenyang, tapi pangkat pengajaran. Yang tua dapat duluan, bukan karena lapar lebih dahulu, tapi karena tanggung lebih berat. Yang muda dapat belakangan, bukan karena kurang kasih, tapi karena belajar sabar dan hormat.”
Analisis: Filsafat ini menunjukkan bahwa setiap prosesi makan adalah pelajaran hidup. Sistem hierarki dalam makan mencerminkan sistem tanggung jawab sosial di mana hak istimewa selalu sebanding dengan beban tanggung jawab yang dipikul.
SIMBOLISME MAKANAN DALAM STRATIFIKASI SOSIAL.
Jenis makanan yang disajikan juga mencerminkan stratifikasi sosial yang penuh makna:
• Nasi Putih: Disajikan pertama untuk semua kalangan, melambangkan kehidupan dasar yang setara. Semua manusia sama-sama membutuhkan nasi sebagai penyambung nyawa.
* Daging Bagian Tertentu: Daging paha depan untuk penyimbang (simbol kekuatan memimpin), dada untuk bumi jurai (simbol keberanian dan pengayoman), sayap dan kaki untuk anak jurai (simbol kesigapan dan dasar berpijak).
* Ikan Utuh: Kepala ikan selalu menghadap ke penyimbang tertinggi, melambangkan kebijaksanaan dan arah kepemimpinan. Badan ikan dibagikan menurut urutan gelar.
* Air Minum: Disajikan dalam cangkir khusus untuk penyimbang, cawan untuk bumi jurai, dan gelas biasa untuk anak jurai. Perbedaan wadah melambangkan perbedaan tanggung jawab, bukan perbedaan nilai manusia.
Dalam tradisi lisan diwariskan petuah: “Satu ladang padi, satu kolam ikan, tapi bukan sama bagian. Bukan tidak adil, tapi mengingatkan: yang dapat bagian terbaik harus ingat yang menanam, yang dapat bagian sedang harus ingat mengolah, yang dapat bagian akhir harus ingat bersyukur.”
RITUAL SEBELUM, SELAMA, DAN SESUDAH MAKAN.
Prosesi makan dalam acara adat Saibatin adalah ritual lengkap:
1. Sebelum Makan: Doa dipimpin oleh penyimbang tertua dengan menyebut nama leluhur. Air pembasuh tangan disajikan mulai dari yang tertinggi gelarnya. Hal ini melambangkan penyucian niat dan penghormatan pada leluhur yang telah membuka jalan.
2. Selama Makan: Tidak berbicara dengan mulut penuh, tidak mengambil bagian orang lain, tidak berdiri sebelum yang lebih tinggi selesai. Aturan ini melatih pengendalian diri dan kesadaran sosial. Jika harus berbicara, tangan kanan diletakkan di atas paha sebagai tanda sopan santun.
3. Sesudah Makan: Tangan dibasuh kembali mulai dari yang tertua. Sisa makanan tidak dibuang sembarangan, melainkan dikumpulkan untuk binatang atau dikubur. Ini mengajarkan penghargaan pada sumber daya dan menghindari kesombongan.
Kitab Adat Saibatin mencatat: “Makan selesai, mulut bersih, tangan bersih, tapi hati harus paling bersih. Kenyang dari rezeki sama, tapi ingat yang belum dapat, ingat yang menanam, ingat yang memasak, ingat yang melayani.”
KUKUK BEJULUK DI ZAMAN MODERN.
Dalam masyarakat kontemporer, nilai-nilai Kukuk Bejuluk tetap relevan sebagai penjaga harmoni sosial. Meski praktik formal mungkin telah disederhanakan, filosofinya hidup dalam bentuk menghormati orang tua, memahami tanggung jawab sesuai posisi, dan menjaga tata krama dalam kebersamaan.
Etika makan Saibatin mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan media pendidikan karakter, peneguhan identitas, dan pemeliharaan tatanan sosial yang beradab. Setiap suapan mengandung sejarah, setiap sajian membawa filosofi, setiap posisi mengajarkan tanggung jawab.
Di tengah gaya hidup individualistik modern, tradisi Kukuk Bejuluk mengingatkan kita bahwa makan bersama adalah ibadah sosial, ritual yang mengikat manusia dalam jaring-jaring penghormatan, tanggung jawab, dan kasih sayang yang terstruktur namun penuh kehangatan.
SUMBER REFERENSI:
1. Raja Niti: Naskah Adat Lampung (alih aksara dan terjemahan). Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung, 2015. [Format Fisik]
2. Piil Pesenggiri: Identitas dan Jati Diri Orang Lampung karya Prof. Dr. Hilman Hadikusuma. Penerbit Mandar Maju, 1998. [Format Fisik]
3. Sistem Kekerabatan dan Pewarisan Gelar Adat Lampung Saibatin (Disertasi) oleh Dr. Rika Anggraini, Universitas Indonesia, 2012. [Format Digital]
4. Katalog Naskah Kuno Lampung Museum Negeri Provinsi Lampung, edisi revisi 2019. [Format Fisik/Digital]
5. Adat Istiadat Lampung: Upacara-Upacara Lingkaran Hidup oleh Tim Penyusun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, 2003. [Format Fisik]
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

