Legenda Air Hitam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam khazanah budaya Lampung Pepadun, alam bukan sekadar pemandangan, melainkan guru yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui setiap fenomenanya. Salah satu fenomena alam yang menyimpan legenda dan filosofi mendalam adalah air hitam, atau dalam bahasa Lampung disebut Way Itam.

Warna hitam yang sering dikaitkan dengan misteri atau ketidaktahuan, justru diterjemahkan secara berbeda oleh kearifan lokal masyarakat adat. Esai ini akan menelusuri legenda, silsilah marga, dan ritual yang terkait dengan Way Itam, mengungkap bagaimana sesuatu yang secara fisik gelap justru merepresentasikan kesucian, kedalaman ilmu, dan perlindungan.

Alkisah, di tepi sebuah anak sungai Way Kanan, hiduplah seorang perempuan pertapa dari marga Buay Itam yang dikenal sangat bijaksana dan menguasai ilmu pengobatan tradisional. Ia dipanggil dengan sebutan Inyai Itam. Suatu wabah penyakit misterius melanda pemukiman marga-marga di sekitarnya. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, namun wabah tak kunjung reda. Dengan kesedihan yang mendalam melihat penderitaan anak buahnya, Inyai Itam pun melakukan semedi di tepi sungai sambil menangis tiada henti memohon petunjuk dari sang pencipta.

Konon, air matanya yang jernih bercampur dengan sari-sari akar dan daun obat-obatan langka yang ia kunyah selama bertapa, menetes ke sungai. Ajaibnya, air sungai yang sebelumnya jernih berubah menjadi kehitam-hitaman. Seekor kijang yang sedang kehausan lalu meminum air yang menghitam tersebut, dan seketika itu juga sembuh dari luka di kakinya. Masyarakat yang melihat kejadian itu kemudian memberanikan diri meminum dan mandi di sungai tersebut. Secara perlahan, wabah penyakit pun sirna.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 2: "Sembah Rasa, Sopan dalam Bahasa" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak peristiwa itulah, sungai tersebut dinamai Way Itam (Sungai Hitam), sebagai penghormatan atas pengorbanan dan kesaktian Inyai Itam. Warna hitam pada air bukanlah simbol kotor, melainkan simbol dari ramuan kesembuhan, pengorbanan, dan ilmu pengetahuan yang dalam (ilmu itam yang berarti ilmu yang dalam dan misterius).

Legenda Inyai Itam tidak dapat dipisahkan dari sejarah marga Buay Itam. Berbeda dengan marga lain yang sering menggunakan nama hewan atau tempat, nama “Itam” (Hitam) dipilih dengan penuh kesadaran filosofis.

Sebuah catatan pada tumbuk lakhang (prasasti kayu) milik keluarga besar Buay Itam menyatakan: “Asal kami, Buay Itam, bukanlah hitam yang hina. Hitam kami adalah itam khambik, hitam pekatnya malam, hitamnya biji yang subur, hitamnya tanah yang menghidupi. Hitam kami adalah perlindungan, seperti malam melindungi mata yang lelah. Kami penjaga way itam, penjaga ilmu pengobatan, penjaga orang-orang yang sakit.”

Kutipan ini merupakan dekonstruksi makna yang brilliant. Hitam dilepaskan dari konotasi negatif dan diangkat menjadi simbol kehidupan dan perlindungan. Itam khambik (hitam pekat) adalah metafora untuk kedalaman ilmu dan kerahasiaan pengetahuan tradisional yang mereka jaga. Seperti malam yang memberi kesempatan bagi bumi untuk beristirahat, marga Buay Itam memposisikan diri sebagai pihak yang memberikan perlindungan dan penyembuhan. Mereka adalah “protector” dalam struktur masyarakat Pepadun. Falsafah ini juga tercermin dari warna kain tradisional (tapis) mereka yang didominasi warna hitam dengan sulaman benang emas, melambangkan bahwa dalam kegelapan selalu ada cahaya kebijaksanaan dan harapan.

Sebagai bentuk syukur dan untuk memohon kesembuhan serta keselamatan, masyarakat adat Pepadun di sekitar Way Itam melaksanakan ritual Nyeruh (atau Nyeruh di Way Itam). Ritual ini adalah sebuah prosesi penyucian jiwa dan raga yang memanfaatkan air hitam yang dianggap keramat.

Baca Juga :  Bejuluk Beadok, Nama yang Menjaga Makna. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ritual dipimpin oleh tetua adat dari keturunan Buay Itam. Peserta ritual akan diarak menuju tepi Way Itam. Sebelum masuk ke dalam air, tetua adat akan memimpin pembacaan mantera dengan menyertakan sesajian sirih pinang: “Hei Inyai Itam, kami datang ka titian batang, bukan ka tebing yang runtuh. Kami datang memohon kesembuhan, memohon nyeruh badan dan nyawa. Pageh blai, pageh jama, pageh tani, kami serahkan ka Way Itam. Jadikan kami jama sai lindung (orang yang bersih) dan sai sihat (orang yang sehat).” (Wahai Inyai Itam, kami datang ke jembatan batang, bukan ke tebing yang runtuh. Kami datang memohon kesembuhan, memohon menyucikan badan dan nyawa. Penyakit rumah, penyakit orang, penyakit tanaman, kami serahkan ke Way Itam. Jadikan kami orang yang bersih dan orang yang sehat.)

Analisis mendalam terhadap ritual dan mantera ini menunjukkan:
1. Penyatuan dengan Alam: Kalimat “kami serahkan ke Way Itam” menunjukkan keyakinan bahwa alam (dalam hal ini sungai) memiliki kekuatan untuk menetralisir dan menyucikan segala bentuk energi negatif (pageh). Manusia bukan menaklukkan alam, tapi memohon bantuannya.
2. Penyucian Holistik: Permohonan kesembuhan tidak hanya untuk penyakit fisik (sai sihat), tetapi juga untuk kesucian jiwa (jama sai lindung). Air Hitam diyakini membersihkan dari dalam (penyakit) dan dari luar (niat jahat, kesialan).
3. Metafora Perjalanan: Ungkapan “ka titian batang, bukan ka tebing yang runtuh” adalah metafora bahwa ritual ini adalah perjalanan spiritual yang aman dan terpimpin, bukan tindakan yang ceroboh. Ini menekankan pentingnya tuntunan adat dalam setiap proses penyembuhan.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 2: Nemui Nyimah - Kedermawanan yang Memberkahi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Legenda Air Hitam (Way Itam) adalah sebuah narasi yang mengajarkan kita untuk melihat melampaui penampilan fisik. Warna hitam pada air bukanlah suatu aib, melainkan kanvas yang mencatat pengorbanan, kedalaman ilmu, dan kekuatan penyembuhan.

Melalui legenda Inyai Itam, silsilah marga Buay Itam, dan ritual Nyeruh, masyarakat Lampung Pepadun mewariskan pesan abadi: kesucian dan keselamatan seringkali datang dari tempat yang paling tidak kita duga. Way Itam adalah simbol dari resilien, ketahanan yang lahir dari kemampuan untuk menemukan makna dan kekuatan dalam setiap keunikan, bahkan dalam kegelapan sekalipun.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Buku Fisik).
2. Sistowardi, dkk. (2017). Eksistensi Hukum Adat Lampung Pepadun dalam Modernisasi Hukum Nasional. Jurnal Rechts Vinding Vol. 6 No. 2. (Jurnal Digital Terverifikasi). – Memberikan konteks tentang peran marga dalam struktur adat.
3. Raffles, S. (2021). Memahami Prasasti dan Naskah Kuno Lampung: Sebuah Kajian Filologis. Jurnal Patanjala Vol. 13 No. 2. (Jurnal Digital Terverifikasi). – Sebagai acuan untuk interpretasi tumbuk lakhang.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini