Kecerobohan yang Berakibat Fatal Perspektif Psikologi: Pelajaran dari Gol Bunuh Diri di Piala Dunia 2026

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

nataragung.id – Metro – Dalam kehidupan, tidak semua kegagalan lahir karena kurangnya kemampuan. Ada kalanya seseorang telah berlatih bertahun-tahun, memiliki pengalaman yang matang, bahkan berada pada puncak performa, namun hanya karena satu detik kecerobohan, seluruh perjuangannya seakan runtuh. Di dunia psikologi, fenomena ini menunjukkan bahwa kesalahan kecil dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada penyebabnya. Fenomena tersebut tampak mencolok pada Piala Dunia 2026. Turnamen yang diikuti 48 negara itu mencatat 14 gol bunuh diri, memecahkan rekor sebelumnya pada Piala Dunia 2018 (12 gol bunuh diri). Bahkan, pada salah satu fase turnamen, jumlah gol bunuh diri sempat melampaui koleksi gol para pencetak gol terbanyak seperti Lionel Messi dan Kylian Mbappé. Salah satu catatan paling menyedihkan dialami bek Mesir, Mohamed Hany, yang menjadi pemain pertama yang mencetak dua gol bunuh diri dalam satu edisi Piala Dunia. Fenomena ini bukan sekadar statistik olahraga, melainkan cermin bagaimana tekanan psikologis, kelelahan mental, dan kesalahan sepersekian detik dapat menghasilkan dampak yang sangat besar.

Mengapa Orang Bisa Ceroboh?.
Psikolog James Reason melalui “Human Error Theory” (1990) menjelaskan bahwa sebagian besar kesalahan manusia bukan terjadi karena kebodohan, melainkan akibat kegagalan perhatian (attention failure), gangguan konsentrasi, kelelahan, tekanan waktu, atau beban mental yang tinggi. Dalam pertandingan sepak bola, seorang bek hanya memiliki waktu sepersekian detik untuk mengambil keputusan. Ketika perhatian sedikit terganggu atau terjadi salah persepsi terhadap arah bola, keputusan yang keliru dapat berubah menjadi gol bunuh diri. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak musibah besar berawal dari kelalaian yang tampak sepele.

Baca Juga :  Layar di Tangan, Masa Depan di Taruhan: Dampak Gadget pada Otak Anak. Oleh: Zahra Shafira

Tekanan Psikologis Memperbesar Risiko Kesalahan.
Hukum “Yerkes-Dodson” yang dikemukakan oleh Robert M. Yerkes dan John Dillingham Dodson (1908) menjelaskan bahwa performa seseorang meningkat ketika tekanan berada pada tingkat sedang. Namun ketika tekanan menjadi terlalu tinggi, kemampuan berpikir justru menurun. Di panggung sebesar Piala Dunia, pemain menghadapi jutaan pasang mata, sorotan media, ekspektasi negara, dan keputusan yang harus diambil dalam hitungan detik. Dalam kondisi seperti ini, peluang melakukan kesalahan menjadi lebih besar. Dengan kata lain, gol bunuh diri sering kali bukan akibat pemain tidak berbakat, melainkan karena kapasitas kognitif sesaat “kewalahan” menghadapi tekanan.

Bagi seorang pemain profesional, gol bunuh diri bukan hanya tercatat di papan skor, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang dalam. Beberapa reaksi psikologis yang umum muncul antara lain yaitu rasa malu (shame). Pemain merasa dirinya menjadi penyebab kekalahan tim dan mengecewakan jutaan pendukung, rasa bersalah (guilt). Menurut June Price Tangney (2002), rasa bersalah muncul karena menilai tindakan yang dilakukan salah, sedangkan rasa malu membuat seseorang merasa dirinya yang buruk. Rasa malu biasanya lebih berat dampaknya, menurunnya kepercayaan diri. Pemain menjadi ragu mengambil keputusan pada pertandingan berikutnya, overthinking dan rumination. Kesalahan terus diputar dalam pikiran sehingga sulit tidur, sulit fokus, dan kehilangan ketenangan, dan takut terhadap penilaian publik. Di era media sosial, kritik, ejekan, dan perundungan dapat memperparah tekanan psikologis. Dalam beberapa kasus olahraga internasional, atlet yang melakukan kesalahan fatal bahkan membutuhkan pendampingan psikolog olahraga agar dapat kembali percaya diri.

Kecerobohan Tidak Hanya Terjadi di Lapangan Bola.
Fenomena ini juga banyak terjadi dalam kehidupan nyata, seperti: Kecelakaan lalu lintas akibat bermain telepon genggam. Banyak kecelakaan fatal terjadi bukan karena kendaraan rusak, tetapi karena pengemudi melihat telepon hanya beberapa detik. Menurut berbagai penelitian keselamatan lalu lintas, gangguan perhatian selama beberapa detik saja sudah cukup membuat kendaraan melaju puluhan meter tanpa kendali, Kasus tertinggalnya alat operasi di tubuh pasien. Di berbagai negara pernah terjadi kasus alat bedah atau kain kasa tertinggal di tubuh pasien akibat kelalaian prosedur. Kesalahan kecil tersebut menyebabkan operasi ulang, penderitaan pasien, bahkan gugatan hukum, Bencana nuklir Chernobyl disaster. Salah satu faktor penyebab tragedi ini adalah kombinasi kesalahan manusia, pengambilan keputusan yang keliru, dan pengabaian prosedur keselamatan. Dampaknya dirasakan selama puluhan tahun. Tenggelamnya RMS Titanic sinking. Investigasi menunjukkan bahwa selain faktor gunung es, terdapat unsur kesalahan pengambilan keputusan, komunikasi, dan rasa terlalu percaya diri (overconfidence) yang memperbesar skala bencana, dan Kesalahan mengirim pesan. Tidak sedikit rumah tangga retak, hubungan kerja rusak, bahkan konflik hukum bermula dari pesan yang terkirim ke orang yang salah atau dikirim dalam keadaan emosi. Kecerobohan digital pun dapat berdampak panjang.

Baca Juga :  Bobby Kertanegara Masuk Istana, Ini Cerita soal Kucing Kesayangan Prabowo

Mengapa Kecerobohan Terjadi?
Menurut Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow (2011), manusia memiliki dua sistem berpikir, yaitu pada Sistem pertama yaitu cepat, spontan, otomatis dan pada Sistem kedua yaitu lambat, teliti, analitis. Ketika seseorang berada di bawah tekanan tinggi, ia lebih sering mengandalkan Sistem pertama sehingga peluang melakukan kesalahan meningkat. Selain itu, kelelahan, kurang tidur, multitasking, dan tekanan emosional juga menurunkan kemampuan perhatian dan pengambilan keputusan.

Hati-hati dalam Perspektif Islam

Islam mengajarkan pentingnya kehati-hatian (itqan) dalam setiap pekerjaan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36). Ayat ini mengingatkan agar setiap tindakan dilakukan dengan kesadaran, ketelitian, dan tanggung jawab. Allah juga berfirman: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. Al-Baihaqi). Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Hadis ini mengandung pesan bahwa pengendalian diri merupakan bagian penting dari kualitas psikologis seseorang. Banyak kecerobohan muncul ketika emosi, panik, atau tergesa-gesa menguasai diri.

Baca Juga :  Cermin Retak: Hilangnya Sumber Pendapatan Anak. Oleh : Mukhotib MD *)

Akhirnya penting untuk dijadikan Pelajaran bahwa kecerobohan dapat dialami siapa saja. Bahkan atlet dunia, dokter, pilot, insinyur, maupun pemimpin negara tidak sepenuhnya kebal terhadap kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang membangun sistem untuk meminimalkan kesalahan, berani mengakui kekeliruan, belajar darinya, dan bangkit tanpa terjebak dalam rasa malu yang berkepanjangan. Gol bunuh diri di Piala Dunia 2026 mengingatkan kita bahwa satu detik kehilangan fokus dapat mengubah hasil pertandingan. Dalam kehidupan pun demikian. Satu keputusan yang diambil tanpa kehati-hatian dapat berdampak pada keluarga, karier, bahkan masa depan. Karena itu, psikologi mengajarkan pentingnya “mindfulness”, perhatian penuh terhadap apa yang sedang dilakukan, sedangkan Islam mengajarkan “itqan”, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh, teliti, dan penuh tanggung jawab. Perpaduan keduanya akan membantu seseorang mengurangi kecerobohan, menjaga kualitas keputusan, dan membangun kehidupan yang lebih aman, bijaksana, serta bermakna. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini