Cermin Retak: Hilangnya Sumber Pendapatan Anak. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Yuk Nah tampaknya sedang angin-anginan. Apa pasal? Ia sedang bingung lantaran akhir bulan ini cucunya enggak bisa lagi menggunakan akun YouTube.

“Cucuku itu sudah menghasilkan uang dari iklan di YouTube itu,” kata Yuk Nah dengan nada suara seperti orang nggrundel.

Menurut Yuk Nah, cucunya sudah memproduksi video tutorial belajar matematika yang menyenangkan sejak masih di SD. Pengikutnya saja sekarang sudah mencapai 15 jutaan.

“Berapa uang yang dihasilkan,” tanya Pakde Kliwon sambil menggeser duduknya mendekati Yuk Nah yang sedang mengiris bawang merah.

“Geser lagi enggak? Tua-tua kok enggak berubah kelakuannya,” ujar Yuk Nah sambil menodongkan pisau dapur yang beberapa bagiannya berkarat.

Baca Juga :  Harmoni, Cara Ulama Klasik Menyikapi Perbedaan - MAJALAH NATAR AGUNG

Pakde Kliwon menjauh lagi. Ia khawatir pisau berkarat itu benar-benar ditusukkan. Kalau tajam sih, mati langsung enggak merasakan apa-apa. Pisau berkarat matinya bisa seperti orang sedang kredit panci keliling enggak lunas-lunas.

“Sebulan bisa dapat uang 175 juta,” kata Yuk Nah setelah Pakde Kliwon jarak duduknya satu setengah meter.

“Kalau sudah dibatasi berarti dia enggak mengkases akunnya, enggak bisa dapat uang lagi,” ujar Pakde Kliwon.

“Sedang bahas apa, sepertinya serius banget,” kataku sambil duduk di samping Pakde Kliwon.

“Ini lo, akses media sosial, termasuk YouTube kan mau dibatasi. Cucunya Yuk Nah kan baru berusia 16 tahun kurang tiga seperempat bulan,” ujar Pakde Kliwon merasa percaya diri mewakili Yuk Nah.

Baca Juga :  Tips Anti Sinusitis dan Penyembuhan Tanpa Obat

Menurut saya sih kebijakan membatasi akun media sosial itu baik-baik saja. Namun, enggak bisa gebyah uyah, dengan hantam kromo begitu saja.

Ini baru soal YouTube sebagai sumber pendapatan. Perkara lain akan muncul, misalnya, anak-anak yang mendapatkan tugas membuat video untuk mendukung pembelajaran di sekolah

“Mereka harus mengunggah video mereka di YouTube. Piye, jal?” kataku bingung sendiri dengan ucapanku.

Pakde Kliwon menyambung, “benar-benar itu.” Ia menceritakan beberapa guru juga mengunggah video pembelajaran di YouTube, Ini akan menjadi rumit ketika anak-anak enggak bisa akses akunnya.

Yuk Nah mengatakan kebijakan menyangkut anak dan remaja tetapi mungkin enggak melibatkan mereka. Ini tidak partisipatif dan tentu tidak mendengarkan suara anak dan remaja yang bakal terkena dampak kebijakan.

Baca Juga :  Catatan Lepas Gunawan Handoko, (Pensiunan PNS) : Proposal Lebaran

“Mestinya melibatkan remaja secara penuh. Bagaimana mereka memandang dunia digital. Strategi apa menurut mereka yang tepat untuk mencegah bahaya ruang digital,” ujar Yuk Nah seperti sedang mengisi kuliah subuh di masjid desa Bluwangan.

Ya, ya, ya, hanya itu yang keluar dari mulut Pakde Kliwon. Seumpama jamaah pengajian yang enggak punya kata lain selain menganggukkan kepala berulang-ulang, meski enggak paham isi ceramahnya. **

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini