nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, ketika kabut pagi masih sering turun menyelimuti tepian Way Sekampung dan suara burung hutan terdengar sampai ke halaman rumah panggung, hiduplah seorang pemuda bernama Raden Jaya dari sebuah kampung tua di sekitar Kota Agung.
Ia anak seorang Punyimbang (tetua adat yang memegang amanah adat). Tubuhnya kuat, bicaranya lantang, dan pikirannya cerdas. Namun ada satu perkara yang sering membuat ayahnya mengelus dada. Raden Jaya gemar membanggakan diri dan merasa tidak perlu mendengar nasihat orang lain.
Suatu hari, ketika berlangsung musyawarah kampung, seorang lelaki tua mengingatkannya agar lebih santun dalam berbicara. Akan tetapi, Raden Jaya justru menertawakan nasihat itu di depan banyak orang.
Malamnya, sang ayah memanggilnya ke beranda rumah. Angin dari arah bukit bertiup pelan. Lampu minyak bergoyang diterpa udara malam.
“Wahai anakku,” kata sang ayah, “orang Lampung tidak hanya dikenal karena keberaniannya. Leluhur kita lebih dahulu mengajarkan malu sebelum mengajarkan keberanian.” Raden Jaya terdiam.
Sang ayah melanjutkan, “Jika seseorang sudah kehilangan rasa malu, maka hilang pula penjaga akhlaknya.” Pemuda itu belum benar-benar memahami maksud perkataan tersebut.
Beberapa bulan kemudian datang musim paceklik. Banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Kampung mengadakan gotong royong membantu warga yang kekurangan.
Semua turun tangan. Ada yang membawa beras, ada yang membawa hasil kebun, ada yang menyumbangkan tenaga. Namun Raden Jaya memilih pergi berburu dan tidak ikut membantu.
Ketika warga berkumpul di sesat adat, namanya disebut-sebut. Bukan karena keberanian atau kecerdasannya, melainkan karena sikapnya yang dianggap tidak peduli. Saat itulah wajahnya memerah. Ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Malu. Bukan malu karena diejek. Bukan malu karena dimarahi. Melainkan malu karena telah mengecewakan masyarakat yang selama ini menghormatinya.
Sejak hari itu, ia berubah. Ia menjadi orang pertama yang hadir ketika ada kerja bersama. Ia membantu membangun rumah warga yang roboh. Ia menyambut tamu dengan ramah dan tidak lagi memandang rendah orang lain.
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sendiri menjadi pemimpin adat, orang-orang mengenangnya sebagai sosok yang menjaga Piil Pesenggiri, yaitu falsafah kehormatan hidup orang Lampung.
Begitulah cerita yang sering dituturkan para tetua. Ceritanya sederhana, tetapi maknanya dalam seperti mata air yang tidak pernah kering.
Anak-anakku, menurut adat Lampung, Piil Pesenggiri bukan sekadar harga diri. Banyak orang salah memahami seolah-olah harga diri berarti mudah tersinggung atau gemar membalas perlakuan orang lain. Padahal bukan demikian.
Menurut cerita lisan para leluhur, Piil Pesenggiri adalah kesadaran untuk menjaga kehormatan diri melalui akhlak yang baik. Salah satu bentengnya adalah rasa malu.
Orang yang masih memiliki rasa malu akan berpikir sebelum berbuat. Ia malu berbohong. Ia malu mengambil hak orang lain. Ia malu jika namanya tercoreng karena perilaku buruk.
Karena itu para leluhur Lampung menempatkan rasa malu sebagai penjaga marwah keluarga, marga, dan kampung.
Di wilayah Lampung dikenal berbagai kelompok adat besar seperti Pepadun dan Saibatin. Keduanya memiliki corak adat yang berbeda, tetapi sama-sama menjunjung kehormatan.
Di kampung-kampung tua seperti Sukadana, Jabung, Gunung Sugih, Menggala, Liwa, Krui, Kota Agung, dan Kalianda, petuah mengenai kehormatan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Para leluhur menceritakan bahwa marga-marga Lampung berasal dari keturunan yang kemudian menyebar mengikuti aliran sungai, pesisir, dan dataran tinggi. Dari sana lahir berbagai penyimbang dan pemimpin adat yang menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Dalam beberapa tambo dan naskah adat Lampung yang diwariskan turun-temurun terdapat ungkapan yang sering diucapkan para tetua: “Adok ghik gelagh dijaga, malu ghik martabat dipelihara.”
Artinya, gelar dan nama baik harus dijaga, sementara rasa malu dan martabat harus dipelihara.
Kalimat pendek itu mengandung pesan besar. Menurut adat, seseorang boleh memiliki gelar tinggi, tetapi gelar tidak akan berarti jika perilakunya buruk. Nama baik tidak diwariskan melalui kata-kata, melainkan melalui perbuatan.
Saya masih ingat cerita seorang penyimbang tua di daerah Way Lima. Beliau pernah berkata, “Rumah adat dapat dibangun kembali jika roboh, tetapi malu yang hilang karena perbuatan buruk sulit ditegakkan kembali.”
Petuah itu terdengar sederhana, namun sering terbukti benar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam falsafah hidup orang Lampung, Piil Pesenggiri berdiri bersama nilai lain yang saling menguatkan.
* Juluk-Adok mengajarkan bahwa gelar adalah amanah, bukan kebanggaan kosong.
* Nemui Nyimah mengajarkan keramahan dan kemurahan hati kepada tamu.
* Nengah Nyappur mengajarkan kemampuan bergaul dan hidup berdampingan.
* Sakai Sambayan mengajarkan gotong royong serta saling membantu.
Semua nilai itu akan berjalan baik jika manusia memiliki rasa malu kepada Allah SWT dan malu kepada sesama manusia.
Menurut syarak, rasa malu merupakan bagian dari iman.
Rasulullah SAW bersabda: “Al-hayā’u minal īmān.” “Malu adalah bagian dari iman.”
Hadis ini sangat dekat dengan makna Piil Pesenggiri. Orang yang memiliki iman akan menjaga kehormatan dirinya melalui perilaku yang baik.
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar menjaga kemuliaan akhlak. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”
Ayat ini turun untuk memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat Madinah yang terdiri atas berbagai kelompok. Menurut penjelasan para ulama mengenai asbāb al-nuzūl, ayat tersebut mengingatkan agar tidak ada seorang pun yang merasa lebih mulia daripada orang lain.
Pesannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Lampung. Orang yang memahami Piil Pesenggiri tidak akan menghina sesamanya karena ia malu melakukan perbuatan yang merendahkan martabat manusia.
Kemudian dalam Surah Al-Isra ayat 70, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia dimuliakan oleh-Nya.
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ
wa laqad karramnâ banî âdama wa ḫamalnâhum fil-barri wal-baḫri wa razaqnâhum minath-thayyibâti wa fadldlalnâhum ‘alâ katsîrim mim man khalaqnâ tafdlîlâ
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
Menurut adat, menjaga kehormatan berarti menjaga ucapan, menjaga janji, menjaga amanah, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat.
Karena itulah berbagai upacara adat Lampung pada hakikatnya bukan untuk bermewah-mewahan. Tujuan utamanya adalah mempererat persaudaraan, menghormati keluarga, dan memperkuat tanggung jawab sosial.
Selama pelaksanaannya tidak mengandung hal yang bertentangan dengan syariat Islam, adat menjadi sarana memperkuat silaturahmi dan pendidikan karakter.
Di sinilah terlihat keindahan hubungan antara adat dan agama. Orang Lampung memiliki ungkapan yang sangat terkenal: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Ungkapan itu mengingatkan bahwa adat yang baik berjalan seiring dengan tuntunan agama. Nilai tersebut juga sejalan dengan Pancasila.
* Sila pertama mengajarkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
* Sila kedua mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab.
* Sila ketiga mengajarkan persatuan.
* Sila keempat mengajarkan musyawarah.
* Sila kelima mengajarkan keadilan sosial.
Bukankah semua itu hidup pula dalam semangat Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan? Karena itulah jejak hidup Lampung tidak boleh berhenti pada cerita masa lalu. Jejak itu harus dirawat. Anak-anak perlu mendengar kisah para leluhur. Pemuda perlu memahami makna gelar adat. Para orang tua perlu memberi teladan melalui perbuatan. Sebab marwah adat tidak hidup dalam buku semata. Ia hidup dalam perilaku sehari-hari.
Ketika seorang anak malu berbohong, di situlah Piil Pesenggiri hidup. Ketika seorang pemuda membantu tetangganya tanpa diminta, di situlah Sakai Sambayan hidup. Ketika seorang keluarga menyambut tamu dengan ramah, di situlah Nemui Nyimah hidup. Ketika masyarakat bermusyawarah mencari jalan terbaik, di situlah semangat Pancasila dan adat Lampung berjalan berdampingan.
Maka ingatlah petuah para tetua. “Jaga malu sebelum menjaga nama. Sebab nama baik tumbuh dari rasa malu yang benar.”
Selama rasa malu kepada Allah SWT, malu kepada agama, malu kepada adat, dan malu kepada masyarakat masih terpelihara, selama itu pula kehormatan Lampung akan tetap berdiri tegak.
Dan selama kehormatan itu dijaga, jejak hidup Lampung akan terus menyala, menerangi jalan generasi mendatang sebagaimana pelita yang tak pernah padam di beranda rumah para leluhur.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). Berbagai karya dan tulisan mengenai sejarah, adat, serta falsafah masyarakat Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung.
3. Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
4. Tradisi lisan para Punyimbang adat Lampung yang berkembang di wilayah Saibatin dan Pepadun.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

