nataragung.id – Pemanggilan – Allah Subhanahu wa Ta’ala melukiskan neraka dalam Al-Qur’an bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia tentang azab, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari azab itu sendiri. Setiap ayat tentang neraka adalah panggilan kasih sayang agar manusia kembali kepada jalan-Nya sebelum semuanya terlambat.
Allah berfirman:
﴿إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا لِّلطَّاغِينَ مَآبًا لَّابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا﴾
“Sesungguhnya Neraka Jahanam itu benar-benar tempat mengintai, menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya dalam waktu yang sangat lama.” (QS. An-Naba’: 21–23)
Bayangkan sebuah tempat yang sejak dahulu telah “menunggu”. Allah menggunakan kata مرصادًا (mirṣādā), yaitu tempat pengintaian atau pos penjagaan. Seolah-olah Jahannam bukan sekadar tempat yang diciptakan, tetapi sebuah tempat yang telah bersiap menyambut setiap orang yang memilih jalan kedurhakaan. Tidak ada seorang pun yang dapat melewatinya dengan tipu daya atau kekuatan.
Kemudian suasana berubah menjadi semakin mencekam.
Waktu di sana tidak lagi dihitung dengan hari, bulan, atau tahun. Allah menggunakan kata أحقابًا (aḥqābā), menggambarkan rentang waktu yang sangat panjang. Setiap kali penghuni neraka berharap penderitaan itu akan berakhir, datanglah masa berikutnya yang lebih panjang. Harapan demi harapan hancur, digantikan oleh keputusasaan yang tak bertepi.
Lalu Allah menggambarkan penderitaan fisik mereka:
﴿لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا﴾
“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula minuman, kecuali air yang sangat panas dan cairan nanah.” (QS. An-Naba’: 24–25)
Di dunia, ketika seseorang kehausan di bawah terik matahari, seteguk air dingin menjadi kenikmatan yang luar biasa.
Namun di neraka…
Tidak ada kesejukan.
Tidak ada hembusan angin yang menenangkan.
Tidak ada setetes air yang menyegarkan tenggorokan.
Yang tersedia hanyalah ḥamīm, air yang mendidih hingga membakar wajah sebelum sempat diminum.
Dan ketika mereka berharap ada minuman lain, yang datang adalah ghassāq, cairan menjijikkan yang keluar dari tubuh para penghuni neraka. Sesuatu yang di dunia manusia akan berpaling karena jijik, di sana justru menjadi “minuman”.
Betapa mengerikannya ketika rasa haus tidak pernah hilang, tetapi setiap usaha menghilangkannya justru menambah penderitaan.
Allah kemudian menegaskan:
«﴿جَزَاءً وِفَاقًا﴾»
“Sebagai balasan yang setimpal.” (QS. An-Naba’: 26)
Azab itu bukanlah kezaliman.
Ia adalah cerminan dari pilihan hidup yang dahulu mereka ambil dengan penuh kesadaran.
Mengapa mereka mendapatkan balasan seperti itu?
Allah menjawab:
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا﴾
“Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan adanya hisab, dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naba’: 27–28)
Mereka hidup seolah-olah tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.
Mereka mengira dosa akan terkubur bersama jasad.
Mereka menganggap hidup hanya berakhir di liang lahat.
Padahal tidak satu pun amal yang hilang.
Allah berfirman:
﴿وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا﴾
“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab.” (QS. An-Naba’: 29)
Setiap tatapan.
Setiap ucapan.
Setiap langkah.
Setiap niat.
Tidak ada yang luput dari catatan Allah.
Maka terdengarlah kalimat yang paling menyayat harapan penghuni neraka:
﴿فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾
“Maka rasakanlah! Kami tidak akan menambahkan kepadamu selain azab.” (QS. An-Naba’: 30)
Kalimat ini seolah memutus seluruh harapan.
Di dunia, setiap malam yang gelap selalu diikuti fajar.
Setiap sakit biasanya diikuti kesembuhan.
Setiap kesulitan ada harapan kemudahan.
Namun di neraka, yang datang setelah azab bukanlah keringanan, melainkan azab yang lebih berat lagi.
Itulah puncak kengerian.
Bukan hanya karena sakitnya azab, tetapi karena hilangnya harapan bahwa azab itu akan berakhir.
Ayat-ayat ini bukan untuk membuat seorang mukmin putus asa, tetapi agar ia segera kembali kepada Allah sebelum hari itu tiba. Selama napas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka. Selama matahari masih terbit dari timur, rahmat Allah masih lebih luas daripada dosa manusia.
Maka jangan menunggu penyesalan yang tidak lagi berguna. Jadikan gambaran menggetarkan dalam Surat An-Naba’ ayat 21–30 sebagai pengingat untuk memperbanyak taubat, memperbaiki amal, menjaga shalat, memperbanyak sedekah, dan mengisi hidup dengan ketaatan.
Sebab Allah memperlihatkan dahsyatnya neraka bukan karena Dia menginginkan hamba-Nya memasukinya, tetapi karena Dia menginginkan hamba-Nya selamat darinya. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

