Seri Buku: Kearifan Lokal Lampung dalam Kehidupan sehari-hari. SERI 3: EMPAT PILAR PENOPANG ADAT (BAGIAN 2). Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Setelah Cakra memahami arti penting Bejuluk Beadek dan Nemui Nyimah, sang ayah kembali memanggilnya ke beranda pada suatu senja. Langit mulai memerah, dan suara azan Maghrib menggema dari surau kecil di ujung kampung. Namun, sang ayah ingin menyampaikan satu pesan lagi sebelum malam tiba.
“Nak,” ujar sang ayah sambil mengisap rokok daunnya perlahan, “kini saatnya kau belajar tentang Nengah Nyappur. Inilah pilar yang akan membawamu hidup berdampingan dengan siapa pun, tanpa memandang suku, agama, atau kedudukan.”
Cakra mendekat. Ia penasaran. Sebab, selama ini ia memang tergolong pemuda yang pendiam dan lebih suka menyendiri di rumah membaca kitab tua peninggalan leluhur. Ia jarang ikut bergaul dengan teman-temannya di sesat (balai adat) atau menghadiri hajatan warga.
“Ayah, apa sebenarnya Nengah Nyappur itu?” tanyanya.

Sang ayah tersenyum. “Secara harfiah, Cakra, nengah berarti menuju ke tengah atau kerja keras, dan nyappur berarti bercampur, berbaur, serta memiliki tenggang rasa. Jadi, Nengah Nyappur adalah kemampuan seseorang untuk terjun ke tengah masyarakat, berbaur dengan siapa saja, dan bekerja keras demi kepentingan bersama. Bukan sekadar bergaul, tapi juga siap bersaing secara sehat dan memiliki rasa tenggang rasa yang tinggi.”

Menurut Kitab Kuntara Raja Niti, Nengah Nyappur merupakan salah satu unsur penting dalam falsafah Pi’il Pesenggiri. Ia menjadi bekal intelektual dan spiritual bagi orang Lampung untuk mengatur kehidupannya. Dalam kitab itu disebutkan, “Maka wat jelma anjak jadi jarahan atawa taban, ya mulang tiyuh mesol kibaw sai, nukhun khiyal petelu pak likukh pakaini pigang tangan jama batin telu suku, ya nyawakan ‘mati anjak mak bangikku’ cawani” (KRN. Pasal 140/141).
Kurang lebih, pasal ini mengajarkan bahwa seseorang yang telah terjun ke tengah masyarakat tidak boleh putus asa; ia harus terus berjuang dan bekerja keras hingga mencapai tujuan. Jika gagal, ia akan merasa malu kembali ke kampung halaman.
“Jadi,” lanjut sang ayah, “Nengah Nyappur mengajarkan kita untuk tidak mengisolasi diri. Kita harus bergaul, berinteraksi, dan membangun jaringan pertemanan yang luas. Sebab, dengan bergaul, pengetahuan kita bertambah. Dengan berinteraksi, kita belajar memahami orang lain.”

Cakra mulai mengerti. Selama ini ia terlalu banyak diam di rumah. Ia jarang menghadiri undangan hajatan atau sekadar mengobrol dengan tetangga. Padahal, dalam adat Lampung, seseorang yang tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial akan merasa malu. Ia akan dianggap tidak memiliki Pi’il Pesenggiri, karena harga dirinya sebagai makhluk sosial tidak terpenuhi.
“Tapi, Ayah,” Cakra menyela, “bagaimana cara menerapkannya dalam pergaulan sehari-hari?”
Sang ayah menatapnya lembut. “Pertama, jaga sikap dan mimik mukamu di depan umum. Jangan pernah menunjukkan wajah cemberut atau ketus kepada siapa pun, karena itu akan merusak hubungan. Kedua, biasakanlah untuk selalu hadir dalam setiap kegiatan kemasyarakatan, sekecil apa pun. Ketiga, jika kau diajak bermusyawarah, sampaikanlah pendapatmu dengan santun, dan terimalah pendapat orang lain dengan lapang dada.”
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti disebutkan bahwa Nengah Nyappur adalah pencerminan dari asas musyawarah untuk mufakat. Untuk bisa bermusyawarah dengan baik, seseorang harus memiliki pengetahuan yang luas dan sikap toleransi yang tinggi. Ia harus siap mendengarkan, menganalisis, dan menyampaikan informasi secara tertib dan bermakna.

Baca Juga :  Pangeran Negeri Besar. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakra mengangguk. Ia bertekad untuk mulai bergaul lebih aktif. Ia akan menghadiri setiap acara yang diadakan di kampungnya, dan ia akan belajar untuk mendengarkan serta berbicara dengan bijak.
Sang ayah lalu menambahkan, “Ingatlah, Nak, dalam Nengah Nyappur juga terkandung makna kesetaraan. Kita semua sama di hadapan adat dan agama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hanya dengan saling menghormati dan menghargai, kita dapat hidup rukun dan damai.”

Malam itu, Cakra tidak hanya belajar tentang bagaimana bergaul, tetapi juga tentang bagaimana menjadi pribadi yang terbuka dan adaptif. Ia menyadari bahwa Nengah Nyappur adalah jembatan yang menghubungkan dirinya dengan masyarakat luas, dan dengan menjalaninya, ia akan menjadi orang Lampung yang sejati.

Beberapa pekan kemudian, Cakra mulai aktif bergaul. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa keluarga Pak Tuha di ujung kampung akan menggelar begawi (kenduri adat) untuk menaikkan gelar anaknya. Seluruh warga kampung diundang untuk membantu. Cakra pun datang, meskipun ia belum begitu akrab dengan keluarga itu.
Di sana, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya hangat. Para lelaki sibuk mendirikan tenda darurat, sementara para wanita bergotong royong di dapur menyiapkan hidangan. Ada yang membawa beras, ada yang membawa sayuran, dan ada pula yang menyumbangkan uang untuk membeli kerbau yang akan disembelih. Semua bekerja dengan gembira tanpa ada yang mengeluh.
Cakra mendekati sang ayah yang sedang mengawasi pembagian tugas. “Ayah, mengapa semua orang begitu antusias membantu? Bukankah ini urusan keluarga Pak Tuha?”
Sang ayah tertawa kecil. “Itulah Sakai Sambayan, Nak. Salah satu pilar utama dalam falsafah hidup kita. Sakai berarti memberi atau menyumbang, dan sambayan berarti saling tolong-menolong tanpa mengharap balasan. Secara keseluruhan, Sakai Sambayan adalah semangat gotong royong dan bahu-membahu untuk meringankan beban sesama.”
Cakra terkejut. “Tanpa mengharap balasan, Ayah?”
“Benar,” jawab sang ayah tegas. “Sebab dalam adat Lampung, Sakai Sambayan adalah kewajiban sosial setiap individu. Kita tidak boleh egois. Ketika ada warga yang membutuhkan, kita harus datang membantu, baik dengan tenaga, materi, maupun pikiran. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, Sakai Sambayan adalah fondasi bagi terciptanya keadilan sosial di tengah masyarakat.”
Sang ayah lalu menceritakan sejarah panjang Sakai Sambayan. Pada zaman dulu, tradisi ini diberlakukan saat membuka lahan pertanian, menanam padi, hingga masa panen. Masyarakat saling membantu secara bergantian tanpa diminta. Bahkan, ketika seorang punyimbang (pemimpin adat) akan membuka ladang, seluruh masyarakat di bawah kepemimpinannya akan datang berbondong-bondong membantu dengan sukarela.
“Tapi tidak hanya dalam pertanian, Cakra. Sakai Sambayan juga terlihat dalam setiap hajatan adat, seperti begawi yang sedang kau lihat sekarang. Dalam upacara begawi ini, semua orang bahu-membahu mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang mendirikan tenda, memasak, hingga menjadi panitia acara. Tidak ada yang bekerja sendirian. Di sanalah nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas benar-benar terlihat.”

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 3: Nemui Nyimah Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakra memandangi para tetangga yang sibuk bekerja. Ia melihat Pak Kadir, seorang petani miskin, ikut mengangkat kayu meskipun tubuhnya kurus. Ia juga melihat Ibu Minah, seorang janda, menyumbangkan telur ayamnya untuk dimasak. Semua memberikan apa yang mereka punya, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Tapi, Ayah,”Sangat bertanya lagi, “apa hukumnya dalam Islam? Apakah tolong-menolong seperti ini diperbolehkan?”
Sang ayah tersenyum lebar. “Tentu saja, Nak. Islam sangat menganjurkan tolong-menolong. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ۝٢
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (Al Maidah – 2).

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 4: Sakai Sambayan - Gotong Royong sebagai Ibadah Sosial. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Itulah sebabnya, adat Lampung tidak pernah bertentangan dengan syariat. Justru, adat ini selaras dengan ajaran Islam.”
Cakra merenung. Ia teringat firman Allah lainnya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah sesuai dengan kemampuannya…”. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang wajib membantu orang lain sesuai dengan kemampuannya, tanpa membebani diri.

Malam itu, Cakra ikut bekerja hingga larut. Ia membantu mengangkat kayu, menyiapkan hidangan, dan menyapu halaman. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya gembira. Ia merasakan kebahagiaan yang tak terkira saat melihat wajah-wajah para tetangga yang tersenyum puas setelah acara selesai. Mereka tidak pernah meminta imbalan. Mereka hanya ingin melihat kebahagiaan keluarga Pak Tuha.
Sejak saat itu, Cakra memahami bahwa Sakai Sambayan adalah napas kehidupan sosial masyarakat Lampung. Ia adalah wujud nyata dari gotong royong, solidaritas, dan kasih sayang antar sesama. Dengan Sakai Sambayan, manusia tidak pernah merasa sendirian. Setiap masalah dapat diatasi bersama. Setiap beban dapat dipikul bersama.
Dan ketika Cakra pulang ke rumah, sang ayah memeluknya erat. “Kau telah belajar dua pelajaran besar hari ini, Nak: Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan. Teruslah berpegang pada keduanya, dan kau akan menjadi orang Lampung yang dihormati oleh siapa pun.”

Daftar Pustaka
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Warisan Budaya Tak Benda. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
2. Hadikusuma, Hilman. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
3. Hadikusuma, Hilman. (1986). Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Perpustakaan Pribadi Hilman Hadikusuma.
4. Karsiwan, dkk. (2019). Piil Pesenggiri Values. Makalah Seminar ISSSHE, Universitas Pendidikan Indonesia.
5. Minandar, Camelia Arni. (2018). Aktualisasi Piil Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Mahasiswa Lampung di Tanah Rantau. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 8(2).
6. Roveneldo, dan Rinaldo. (2020). Implementasi Sakai Sambayan dalam Upacara Begawi Adat pada Tiyuh Karta. Prosiding Seminar Nasional, Universitas Lampung.
7. Syahrul, M. (2011). Naskah Kuno Lampung: Kitab Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Pustaka Adat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini