Mutiara Pagi: Sumpah Iblis: Perang Abadi untuk Menyesatkan Manusia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Kisah permusuhan antara manusia dan iblis bukanlah sekadar kisah masa lalu. Ia adalah awal dari peperangan panjang yang akan berlangsung hingga hari kiamat. Perang itu bukan perang senjata, melainkan perang akidah, hati, pikiran, dan kehendak.

Semuanya bermula ketika Allah memerintahkan seluruh malaikat dan iblis untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Adam `alaihis salam. Seluruh malaikat tunduk, namun iblis menolak karena kesombongan telah memenuhi jiwanya. Ia lebih mencintai dirinya daripada menaati Rabbnya.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu, karena tidak patut bagimu menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13)

Kesombongan adalah dosa pertama yang menyebabkan makhluk terputus dari rahmat Allah. Iblis tidak jatuh karena kurang mengetahui Allah, tetapi karena enggan tunduk kepada perintah-Nya. Kesombongan telah menutup pintu hidayah.

Namun iblis tidak menerima hukuman itu dengan penyesalan. Ia justru meminta penangguhan umur agar dapat melancarkan balas dendam kepada manusia.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Bahagia Itu Bukan di Mana Engkau Berada, Tapi Dengan Siapa Engkau Bersama. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah berfirman:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ۝ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ

“Ia berkata, ‘Berilah aku penangguhan sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi penangguhan.” (QS. Al-A’raf: 14–15)

Penangguhan itu bukanlah kemuliaan bagi iblis, tetapi ujian bagi manusia. Allah membiarkan adanya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan agar tampak siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya.

Lalu keluarlah sumpah paling berbahaya dalam sejarah manusia.

Allah berfirman:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Ia berkata, ‘Karena Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16–17)

Perhatikan sasaran iblis. Ia tidak berkata bahwa ia akan menghalangi manusia menuju dunia, harta, atau jabatan. Yang ia hadang adalah “ṣiraaṭaka al-mustaqiim” jalan Allah yang lurus. Sebab selama manusia berada di jalan Allah, iblis tidak akan pernah menang.

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (30) : Perpisahan dengan Ramadhan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ia datang dari depan, menakut-nakuti manusia dengan masa depan sehingga lalai dari akhirat.

Ia datang dari belakang, membuat manusia bangga terhadap masa lalu, keturunan, dan dosa-dosa yang telah diperbuat.

Ia datang dari kanan, merusak amal saleh dengan riya’, ujub, ghuluw, dan merasa paling benar.

Ia datang dari kiri, menghiasi kemaksiatan sehingga tampak indah dan ringan untuk dilakukan.

Namun menariknya, Allah tidak menyebut bahwa iblis datang dari atas dan dari bawah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa dari atas turun rahmat Allah yang tidak mampu dihalangi iblis, sedangkan seorang hamba yang merendahkan diri dengan sujud akan semakin dekat kepada Allah sehingga menjadi benteng dari godaan setan.

Target akhir iblis sangat jelas:

وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi mengakui nikmat Allah, menggunakannya dalam ketaatan, dan menjadikan seluruh hidup sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya. Ketika syukur hilang, manusia mudah diperbudak oleh hawa nafsu dan tipu daya setan.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Syukur yang Dicuri: Tipu Daya Iblis yang Paling Halus. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena itu, kehidupan seorang mukmin adalah kewaspadaan yang terus-menerus. Ia sadar bahwa setiap langkah menuju Allah akan selalu dihadang oleh musuh yang telah bersumpah. Namun ia juga yakin bahwa pertolongan Allah jauh lebih besar daripada tipu daya iblis.

Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa’: 76)

Setan memiliki tipu daya, tetapi tidak memiliki kekuasaan memaksa. Ia hanya membisikkan, menghias, dan mengajak. Keputusan terakhir tetap berada di tangan manusia. Oleh sebab itu, siapa yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, memperbanyak zikir, menjaga shalat, dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah, niscaya ia akan selamat dari sumpah iblis dan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus hingga berjumpa dengan Rabbnya. (*/297).
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini