Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Kalimat tentang takdir tidak dijemput oleh orang yang berhenti berjuang. Hal ini nampak dari peristiwa Comeback Dramatis Argentina atas Inggris pada Piala Dunia 2026. Pertandingan ini telah memberikan pelajaran psikologis yang sangat berharga. Inggris sempat unggul dan tampak berada di ambang final. Namun, hingga menit-menit terakhir Argentina tetap menyerang, mempertahankan keyakinan, dan tidak berhenti berikhtiar. Hasilnya, Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-88, kemudian Lautaro Martínez memastikan kemenangan pada masa injury time sehingga Argentina menang 2-1 dan melaju ke final. Peristiwa tersebut bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia merupakan metafora kehidupan. Banyak orang kehilangan kesempatan bukan karena kurang berbakat, melainkan karena berhenti berusaha sebelum waktunya. Sebaliknya, banyak orang yang tampaknya biasa-biasa saja justru berhasil karena terus memperbaiki diri hingga detik terakhir.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan “Grit Theory” yang diperkenalkan oleh Angela Duckworth (2016). Duckworth menjelaskan bahwa keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh kegigihan jangka panjang (perseverance and passion for long-term goals) dibanding kecerdasan semata. Hal senada juga dikemukakan oleh Albert Bandura (1997) melalui teori “Self-Efficacy”, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menyelesaikan tantangan akan membuatnya bertahan lebih lama menghadapi kesulitan. Islam pun mengajarkan bahwa manusia diwajibkan berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah. “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat tersebut menunjukkan bahwa perubahan takdir kehidupan selalu diawali dengan perubahan usaha manusia.
Psikologi Orang yang Tidak Pernah Menyerah.
Dalam psikologi motivasi dikenal konsep Growth Mindset dari Carol Dweck (2006). Orang dengan growth mindset meyakini bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, evaluasi, dan kerja keras. Argentina memperlihatkan karakter tersebut. Mereka tidak larut ketika tertinggal. Sebaliknya, mereka meningkatkan intensitas permainan hingga akhir pertandingan. Fenomena ini sering kali berbeda dengan kehidupan nyata. Banyak orang yang lahir dari keluarga kaya, memperoleh fasilitas lengkap, pendidikan terbaik, kendaraan mewah, bahkan modal usaha dari orang tua. Namun sebagian justru kehilangan semangat belajar karena merasa semua kebutuhan telah tersedia. Dalam psikologi dikenal sebagai “Comfort Zone Effect”, yaitu kondisi ketika rasa aman yang berlebihan justru menurunkan motivasi berkembang. Teori Achievement Motivation dari David McClelland (1961) menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi akan terus mencari tantangan baru. Sebaliknya, mereka yang terlalu nyaman cenderung menghindari tantangan sehingga perkembangan dirinya melambat.
Tidak sedikit kekayaan keluarga akhirnya habis sedikit demi sedikit karena tidak diimbangi kemampuan menghasilkan nilai tambah. Biaya hidup meningkat, kebutuhan bertambah, sedangkan kemampuan berkembang tidak ikut bertumbuh. Pepatah Melayu mengingatkan: “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Pepatah ini memiliki kesesuaian dengan prinsip Delayed Gratification yang dipopulerkan oleh Walter Mischel (1972) melalui Marshmallow Experiment. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menunda kesenangan sesaat berkorelasi dengan keberhasilan akademik, karier, dan kehidupan di masa depan. Al-Qur’an juga mengajarkan: “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7).Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan bukan tempat beristirahat dalam kemalasan, melainkan ruang perjuangan yang berkesinambungan.
Istiqamah dalam Ikhtiar: Menjemput Takdir Kebahagiaan.
Salah satu kesalahan psikologis terbesar manusia adalah menganggap takdir berarti menunggu. Padahal Islam mengajarkan bahwa takdir tidak bertentangan dengan usaha. Viktor Frankl (1959) dalam Man’s Search for Meaning menjelaskan bahwa manusia mampu bertahan menghadapi penderitaan ketika memiliki tujuan hidup yang jelas. Demikian pula Argentina. Mereka tetap memiliki tujuan yang sama meskipun waktu pertandingan hampir habis. Mereka tidak kehilangan harapan. Mereka tidak bermain sekadar menyelesaikan pertandingan, tetapi terus mengejar kemenangan hingga peluit panjang berbunyi. Dalam kehidupan sehari-hari, pelajaran ini sangat relevan Dimana mahasiswa yang terus belajar hingga sidang akhir sering kali berhasil meskipun awalnya biasa saja, peneliti yang konsisten menulis akhirnya menghasilkan publikasi bereputasi, guru yang terus meningkatkan kompetensi perlahan memperoleh kepercayaan Masyarakat, dan pengusaha yang bertahan melewati berbagai kegagalan sering kali menemukan keberhasilan pada percobaan berikutnya.
Sebaliknya, banyak orang berhenti beberapa langkah sebelum keberhasilan datang. Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memperlihatkan bahwa istiqamah lebih bernilai daripada semangat yang hanya sesaat. Allah juga berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6). Ayat ini bukan sekadar janji spiritual, tetapi juga memiliki makna psikologis bahwa setiap kesulitan menyimpan peluang bagi mereka yang tetap bertahan. Dalam perspektif psikologi positif, Martin Seligman (2011) menyebut karakter “perseverance” sebagai salah satu kekuatan utama yang membuat individu mampu mencapai kesejahteraan psikologis (well-being) dan keberhasilan jangka panjang.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa comeback dramatis Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran bahwa kemenangan sering kali lahir pada saat banyak orang mengira semuanya telah berakhir. Mereka yang terus berikhtiar hingga detik terakhir memiliki peluang lebih besar untuk “menjemput” takdir kemenangan dibanding mereka yang menyerah sebelum waktunya. Dalam psikologi terapan, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh bakat atau fasilitas, tetapi oleh grit (Duckworth), self-efficacy (Bandura), growth mindset (Dweck), achievement motivation (McClelland), delayed gratification (Mischel), dan makna hidup (Frankl). Seluruh teori tersebut menunjukkan bahwa ketekunan, keyakinan, kemampuan menunda kenyamanan, dan konsistensi dalam berusaha merupakan fondasi keberhasilan. Islam memperkuat prinsip tersebut melalui ajaran tentang ikhtiar, istiqamah, dan tawakal. Takdir bukan alasan untuk pasif, melainkan motivasi untuk bekerja lebih sungguh-sungguh. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memperoleh kemenangan, kebahagiaan, ilmu, rezeki, maupun keberkahan hendaknya tidak terlena oleh zona nyaman atau fasilitas yang dimiliki. Sebab, sebagaimana ditunjukkan Argentina di lapangan hijau, kemenangan sering kali datang kepada mereka yang tetap berlari ketika yang lain mulai berhenti. (*)

