Oleh: Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Final Piala Dunia 2026 menghadirkan kisah yang jauh melampaui sepak bola. Dunia menyaksikan bagaimana Lionel Messi, legenda Barcelona dan Argentina, harus berhadapan dengan generasi muda Spanyol yang sebagian besar tumbuh dengan menjadikan dirinya sebagai idola. Bahkan salah satu kisah yang paling menyentuh adalah Lamine Yamal yang ketika masih bayi pernah difoto bersama Messi dalam kegiatan sosial Barcelona, lalu hampir dua dekade kemudian justru menjadi lawannya di panggung terbesar sepak bola dunia. Fenomena ini merupakan gambaran nyata tentang siklus kehidupan. Seorang guru pada akhirnya akan menghadapi muridnya. Seorang senior suatu saat akan berkompetisi dengan juniornya. Seorang pemimpin akan melihat kader binaannya tumbuh menjadi pesaing.
Menurut psikologi perkembangan, Erik H. Erikson (1963) menjelaskan bahwa salah satu tugas perkembangan orang dewasa adalah “generativity”, yaitu keberhasilan mencetak generasi penerus. Keberhasilan seorang senior bukan hanya diukur dari prestasi pribadinya, tetapi juga dari kualitas generasi yang berhasil ia lahirkan. Namun, ketika murid mulai menyamai bahkan mengalahkan gurunya, muncul berbagai dinamika psikologis: rasa bangga, kehilangan, ancaman status, kecemburuan, hingga konflik identitas. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan memang berjalan melalui proses pergantian generasi. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140). Ayat tersebut menunjukkan bahwa pergiliran kepemimpinan, kejayaan, dan peran sosial merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihentikan.
Psikologi Rivalitas: Konflik Emosi Senior vs Yunior.
Menurut Leon Festinger (1954) melalui “Social Comparison Theory”, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain, terutama dengan mereka yang memiliki kedekatan psikologis. Ironisnya, pesaing terberat sering bukan orang asing, tetapi justru mantan murid, mantan bawahan, mantan kader, mantan partner, bahkan mantan sahabat. Mengapa?. Karena mereka mengetahui akan kekuatan kita, kelemahan kita, pola berpikir kita, bahkan strategi yang pernah diajarkan. Dalam psikologi organisasi kondisi ini disebut “knowledge competition”, yaitu persaingan yang muncul karena adanya transfer pengetahuan dari senior kepada junior.
Contoh dalam dunia politik. Fenomena ini sangat sering terjadi. Mantan kader partai maju melawan ketua partainya sendiri dalam Pilkada, Mantan wakil gubernur mencalonkan diri melawan gubernur yang dahulu menjadi atasannya, Mantan menteri berhadapan dengan presiden atau tokoh yang dahulu mengangkatnya, dan Kader partai yang pernah dididik seniornya justru menjadi rival pada Pilpres atau Pilgub karena perbedaan arah politik. Secara psikologis, konflik seperti ini sering dipicu oleh perbedaan visi, perebutan legitimasi, atau kebutuhan aktualisasi diri, bukan semata-mata permusuhan pribadi. Contoh dalam dunia Pendidikan. Mahasiswa menjadi dosen di kampus yang sama lalu bersaing memperoleh jabatan akademik dengan mantan pembimbingnya, alumni pesantren mendirikan pesantren baru yang kemudian berkembang lebih besar daripada pesantren asalnya.
Contoh dalam dunia bisnis. Mantan karyawan mendirikan perusahaan sendiri lalu menjadi kompetitor perusahaan tempat ia dahulu bekerja, murid seorang chef membuka restoran yang akhirnya memperoleh penghargaan lebih tinggi daripada gurunya. Contoh dalam keluarga. Anak yang dahulu belajar usaha dari orang tua kemudian mengembangkan bisnis dengan cara berbeda, kakak dan adik akhirnya bersaing dalam dunia politik lokal atau organisasi kemasyarakatan. Dalam Islam, persaingan seperti ini diperbolehkan selama tetap berada dalam koridor kebaikan. Allah berfirman: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Artinya, kompetisi bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan saling meningkatkan kualitas. Rasulullah SAW juga bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini sangat relevan ketika seorang senior harus menghadapi kenyataan bahwa muridnya kini menjadi lawan. Kekuatan sejati bukan terletak pada mempertahankan posisi dengan emosi, tetapi pada kemampuan mengelola hati dengan lapang.
Psikologi Kedewasaan: Regenerasi adalah Keberhasilan, Bukan Ancaman.
Dalam perspektif Abraham Maslow (1970), individu yang telah mencapai “self-actualization” tidak lagi sibuk mempertahankan status. Ia justru menikmati keberhasilan orang lain sebagai bagian dari makna hidupnya. Demikian pula Carl Rogers (1961) menjelaskan bahwa pribadi yang matang (fully functioning person) tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain karena identitas dirinya tidak bergantung pada posisi sosial semata. Dari sudut pandang ini, pertandingan Messi melawan para juniornya dapat dimaknai sebagai simbol keberhasilan regenerasi. Jika para pemain muda tumbuh dengan kualitas tinggi, itu menunjukkan bahwa warisan, budaya kerja, dan inspirasi yang ditinggalkan senior telah membuahkan hasil.
Sayangnya, dalam kehidupan nyata tidak semua senior siap menghadapi fase tersebut. Sebagian mengalami apa yang dalam psikologi disebut “status threat”, yaitu kecemasan ketika merasa kedudukannya mulai tergeser. Akibatnya muncul perilaku seperti menghambat promosi junior, menutup akses kesempatan, menyebarkan citra negatif, atau enggan berbagi pengalaman. Sebaliknya, senior yang matang akan menjadi mentor, memberi ruang berkembang, mendoakan keberhasilan junior, dan tetap menjaga hubungan meskipun berada pada kubu yang berbeda. Begitu pula seorang junior yang berintegritas tetap menjaga adab kepada seniornya. Ia bersaing pada gagasan dan prestasi, bukan dengan merendahkan orang yang pernah membimbingnya. Dalam konteks politik, seorang kader yang maju melawan seniornya hendaknya tetap menghormati jasa dan kontribusi pendahulunya. Perbedaan pilihan politik tidak harus berubah menjadi permusuhan. Dalam dunia akademik, perbedaan pandangan ilmiah seharusnya memperkaya khazanah keilmuan, bukan memutus silaturahmi. Dalam organisasi, pergantian kepemimpinan semestinya dipandang sebagai proses regenerasi yang sehat, bukan ancaman terhadap martabat senior.
Akhirnya penting dipahami bahwa kisah Messi yang kini berhadapan dengan generasi muda yang dahulu mengidolakannya bukan sekadar cerita olahraga, melainkan cermin kehidupan. Cepat atau lambat, setiap guru akan melihat muridnya tumbuh. Setiap senior akan menyaksikan juniornya berdiri sejajar, bahkan mungkin melampauinya. Psikologi terapan mengajarkan bahwa kedewasaan emosional tampak ketika seseorang mampu mengubah rasa terancam menjadi rasa bangga, mengubah rivalitas menjadi motivasi, dan mengubah kompetisi menjadi sarana saling memperbaiki diri. Islam pun mengajarkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari siapa yang paling lama berkuasa atau paling tinggi kedudukannya, melainkan siapa yang paling bertakwa dan paling banyak memberi manfaat. Oleh karena itu, ketika murid menjadi lawan, jangan buru-buru melihatnya sebagai tanda berakhirnya kejayaan. Bisa jadi itulah bukti paling nyata bahwa proses mendidik telah berhasil. Sebab, warisan terbesar seorang guru, pemimpin, atau senior bukanlah kekuasaan yang dipertahankan, melainkan lahirnya generasi yang mampu berdiri tegak, berprestasi, dan tetap menjaga adab kepada mereka yang pernah membimbingnya. (*)

