Pembatasan Gawai di Sekolah Perspektif Psikologi Terapan

0

Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai siwo Lampung

nataragung.id – Metro – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 menetapkan pembatasan penggunaan gawai selama kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini bukan melarang teknologi, melainkan mengembalikan fungsi gawai sebagai alat bantu pembelajaran yang digunakan secara terbatas dan di bawah pengawasan guru. Kepala sekolah, guru, dan orang tua juga didorong membangun budaya digital yang sehat melalui tata tertib dan edukasi literasi digital. Dari perspektif psikologi terapan, kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk mengatasi menurunnya konsentrasi belajar akibat distraksi digital. William James (1890) menjelaskan bahwa perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas. Ketika peserta didik terus-menerus terganggu oleh notifikasi media sosial atau permainan digital, fokus belajar akan mudah terpecah.

Senada dengan itu, “Cognitive Load Theory” dari John Sweller (1988) menjelaskan bahwa otak memiliki kapasitas memori kerja yang terbatas. Aktivitas belajar yang diselingi membuka media sosial menyebabkan informasi sulit diproses secara optimal sehingga pemahaman dan prestasi belajar menurun. Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan juga berkaitan dengan sistem penghargaan (reward system) di otak. Teori “Operant Conditioning” dari B.F. Skinner menunjukkan bahwa notifikasi, “like”, dan pesan baru menjadi penguat yang membuat seseorang terus memeriksa telepon genggamnya. Kebiasaan ini semakin kuat karena adanya pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa senang sesaat, sehingga peserta didik sulit melepaskan diri dari layar gawai.

Baca Juga :  DUNIA WANITA- 7 Tips Menghilangkan Sakit Perut Tanpa Obat, Nomor 4 Paling Ampuh

Latihan Self Regulation Peserta Didik melalui Pembatasan Penggunaan Gawai
Karena itu, pembatasan penggunaan gawai sesungguhnya merupakan latihan membangun “self-regulation” atau pengendalian diri. Albert Bandura (1986) menjelaskan bahwa individu yang mampu mengendalikan perilakunya akan lebih berhasil dalam mencapai tujuan. Sekolah tidak sekadar membatasi penggunaan telepon seluler, tetapi juga sedang membentuk karakter disiplin, kemampuan mengelola perhatian, serta kebiasaan belajar yang lebih berkualitas. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga waktu dan memanfaatkan kehidupan untuk hal-hal yang bermanfaat. Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Rasulullah SAW juga bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan pendidikan digital saat ini. Peserta didik perlu belajar menggunakan teknologi secara bijaksana, bukan menjadi pribadi yang bergantung pada gawai. Keberhasilan kebijakan ini tidak hanya bergantung pada aturan sekolah, tetapi juga pada sinergi antara guru, orang tua, dan peserta didik. Guru harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi untuk pembelajaran, orang tua perlu menerapkan kebiasaan digital yang sehat di rumah, sedangkan peserta didik didorong menjadikan gawai sebagai sarana belajar, bukan sumber distraksi.

Baca Juga :  Cermin Retak: Kekuasaan Ala Kadarnya. Oleh : Mukhotib MD *)

Membangun Kebiasaan Penggunaan Gawai yang Sehat.

Pembatasan gawai di sekolah bukan berarti peserta didik harus dijauhkan sepenuhnya dari teknologi. Yang dibutuhkan adalah membangun kebiasaan menggunakan gawai secara sehat, terarah, dan produktif. Dalam perspektif psikologi terapan, gawai seharusnya menjadi alat belajar, bukan pusat perhatian yang mengendalikan perilaku penggunanya. Peserta didik perlu dibiasakan menggunakan gawai sesuai kebutuhan, misalnya untuk mencari referensi pelajaran, mengakses perpustakaan digital, mengerjakan tugas, atau mengikuti pembelajaran berbasis teknologi dengan bimbingan guru. Sebaliknya, penggunaan untuk bermain gim, membuka media sosial, atau menonton video yang tidak berkaitan dengan pembelajaran sebaiknya dilakukan di luar jam sekolah dengan batasan waktu yang jelas. Kebiasaan ini akan membantu siswa mengembangkan kemampuan mengendalikan diri (self-regulation), mengatur waktu (time management), dan menentukan prioritas. Keterampilan tersebut merupakan bekal penting bagi keberhasilan akademik maupun kehidupan di masa depan.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua dalam Pendidikan Digital.

Keberhasilan pembatasan gawai tidak cukup hanya mengandalkan aturan sekolah. Lingkungan keluarga memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk budaya digital yang sehat. Anak akan lebih mudah mematuhi aturan apabila melihat keteladanan dari orang tua dalam menggunakan teknologi secara bijaksana. Sekolah dan orang tua perlu menyepakati aturan yang selaras, seperti tidak menggunakan gawai saat proses pembelajaran, membatasi waktu penggunaan gawai di rumah, tidak membawa telepon seluler ke meja makan, serta menyediakan waktu khusus untuk membaca buku, berolahraga, beribadah, dan berinteraksi bersama keluarga tanpa gangguan layar.

Baca Juga :  Cermin Retak: Kelucuan itu Berakhir Sudah. Oleh : Mukhotib MD *)

Pada akhirnya penting untuk dipahami bahwa pembatasan gawai bukanlah langkah mundur dari kemajuan teknologi. Sebaliknya, kebijakan ini merupakan investasi psikologis untuk membentuk generasi yang mampu mengendalikan teknologi, memiliki konsentrasi belajar yang lebih baik, serta tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan bertanggung jawab di era digital. Dengan kolaborasi yang baik antara sekolah dan orang tua tentang pelaksanaan pembatasan gawai bagi peserta didik maka peserta didik tidak hanya belajar memanfaatkan teknologi secara efektif, tetapi juga mampu membangun keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Inilah tujuan utama pendidikan di era digital, yakni melahirkan generasi yang menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, berinteraksi sosial, dan berkarakter mulia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini