nataragung.id – Pemanggilan – Di antara sifat Allah yang paling menenangkan hati seorang mukmin adalah bahwa Dia tidak pernah melupakan satu pun kebaikan yang dilakukan hamba-Nya. Ada amal yang tidak diketahui manusia, ada sedekah yang tidak dipuji, ada pengorbanan yang tidak dihargai, bahkan ada air mata yang tidak disaksikan siapa pun. Namun, semuanya tercatat dengan sempurna di sisi Allah. Tidak ada satu pun yang hilang, dan tidak ada satu pun yang luput dari balasan-Nya.
Karena itulah, ketika para sahabat bertanya tentang infak, Allah tidak hanya menjelaskan apa yang harus diberikan, tetapi juga kepada siapa infak itu harus diprioritaskan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Apa saja harta yang baik yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar mengajarkan semangat memberi, tetapi juga mengajarkan hikmah dalam memberi. Kebaikan hendaknya dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Yang pertama disebut adalah kedua orang tua. Ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua adalah bentuk infak yang paling mulia. Tidak sedikit orang yang dermawan kepada masyarakat, tetapi lalai memenuhi kebutuhan ayah dan ibunya. Padahal, dalam pandangan Allah, perhatian kepada orang tua adalah ibadah yang sangat agung.
Setelah itu Allah menyebut kerabat, karena keluarga yang saling menguatkan akan melahirkan masyarakat yang kokoh. Kemudian anak-anak yatim, yang kehilangan kasih sayang dan penopang hidup. Lalu orang-orang miskin, yang membutuhkan uluran tangan agar tetap dapat menjalani kehidupan dengan layak. Dan akhirnya ibnu sabil, musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.
Urutan ini mengajarkan bahwa kepedulian sosial dalam Islam dibangun di atas kedekatan tanggung jawab dan keluasan kasih sayang.
Namun, puncak keindahan ayat ini terdapat pada penutupnya:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
Perhatikan, Allah tidak mengatakan “sedekah yang besar”, atau “amal yang banyak”. Allah menggunakan ungkapan yang sangat umum:
مِنْ خَيْرٍ
“Apa pun bentuk kebaikan.”
Artinya, sekecil apa pun amal itu, Allah mengetahuinya.
Senyuman yang menghibur hati seseorang.
Segelas air yang diberikan kepada orang yang kehausan.
Sepotong roti yang dibagikan kepada orang lapar.
Nasihat yang tulus.
Doa yang dipanjatkan diam-diam untuk saudara seiman.
Mengusap kepala anak yatim.
Menuntun orang tua menyeberang jalan.
Mengajarkan satu ayat Al-Qur’an.
Menahan lisan agar tidak menyakiti orang lain.
Semuanya berada dalam ilmu Allah.
Betapa banyak amal yang tidak dikenang manusia, tetapi diabadikan oleh Allah. Betapa banyak orang yang tidak memperoleh penghargaan di dunia, tetapi kelak disambut dengan kemuliaan di akhirat.
Seorang mukmin tidak pernah berbuat baik demi tepuk tangan manusia. Ia berbuat baik karena yakin bahwa Allah melihatnya.
Mungkin manusia lupa, tetapi Allah tidak lupa.
Mungkin manusia tidak membalas, tetapi Allah pasti membalas.
Mungkin balasan itu tidak datang hari ini, tetapi Allah telah menentukan waktu yang paling tepat, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena itu, jangan pernah meremehkan sebuah kebaikan. Jangan menunda berbuat baik hanya karena merasa amal itu kecil. Dalam timbangan manusia, ia mungkin tidak berarti. Namun dalam timbangan Allah, boleh jadi amal itulah yang menjadi sebab datangnya ampunan dan rahmat-Nya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah engkau meremehkan sedikit pun kebaikan, walaupun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim)
Hadis ini selaras dengan penutup ayat di atas. Nilai sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh besarnya, tetapi oleh keikhlasan dan manfaatnya.
Mari kita renungan, dunia sering kali mengajarkan bahwa yang besar itulah yang berharga. Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa amal yang kecil sekalipun akan menjadi besar jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Maka jangan berhenti berbuat baik.
Jika mampu memberi banyak, bersyukurlah.
Jika hanya mampu memberi sedikit, jangan malu.
Jika tidak memiliki harta, berikan tenaga.
Jika tidak mampu membantu dengan tenaga, berikan doa.
Jika bahkan itu pun sulit, tahanlah dirimu dari menyakiti orang lain.
Karena semua itu adalah kebaikan yang diketahui oleh Allah.
Dan penutup ayat ini akan selalu menjadi penyejuk hati setiap mukmin yang ikhlas beramal:
وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Tidak ada kebaikan yang hilang. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Semuanya tersimpan rapi di sisi Allah, menunggu hari ketika Dia membalasnya dengan balasan yang jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan oleh manusia. (*/303).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

