nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para penyimbang, anak-anak muda, dan saudara-saudara sekalian yang saya hormati. Izinkanlah seorang tua ini bercerita di beranda yang mulai reyot, di bawah langit Lampung yang mulai kehilangan dentum gendang adatnya. Kisah ini bukanlah dongeng pengantar tidur, melainkan ratapan dari bumi yang mulai kehilangan akarnya.
Di kaki Gunung Pesagi yang diselimuti kabut purbakala, konon hiduplah dua bersaudara, Satin dan Padun. Mereka adalah cikal bakal dari dua jalan besar adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. Satin, yang teguh, menuangkan air kehidupan ke dalam wadah batu. Airnya tenang, jernih, dan terjaga. Inilah yang menjadi cikal bakal adat Saibatin yang hierarkis dan kokoh. Padun, yang lincah dan merakyat, menuangkan airnya ke anyaman bambu. Airnya meresap, mengaliri serat, dan menyuburkan tanah di sekitarnya. Inilah lambang adat Pepadun yang dinamis dan dekat dengan rakyat.
Cerita ini mengajarkan satu hal penting: berbeda jalan, tetapi satu jiwa. Sumbernya sama, tujuannya sama, yaitu menjaga marwah tanah Lampung. Itulah inti dari falsafah agung Piil Pesenggiri, harga diri yang menjadi tiang penyangga kehidupan. Seperti yang tertuang dalam kitab adat Kuntara Raja Niti, yang menjadi rujukan budaya kita: “Beghi dik petulai, jak lembaga dituwah. Sai bejuluk beadek, sai nengah nyappur, gham pekakhouh mak nunyai”. Yang kurang lebih berarti, berpeganglah pada asal-usul dan jalan leluhur. Orang yang bergelar dan mampu bersosialisasi, itulah yang berarti. Itulah warisan yang diamanahkan kepada kita, anak cucu Satin dan Padun.
Di dalam Piil Pesenggiri terkandung lima mutiara nilai yang seharusnya tak lekang oleh zaman. Pertama, Bejuluk Beadek atau Juluk-Adok. Ini bukan sekadar gelar, melainkan simbol tanggung jawab yang dipikul di pundak. Dalam adat Pepadun, gelar harus “diduduki” atau diperjuangkan dengan prestasi, sebuah proses sakral yang disebut Cakak Pepadun. Di sinilah seorang calon penyimbang harus membuktikan ilmu, mengorbankan harta, dan mempersatukan masyarakat dalam begawi. Ini adalah sekolah kepemimpinan sejati, di mana legitimasi datang dari pengakuan masyarakat, bukan hanya warisan darah.
Kedua, Nemui Nyimah. Sifat ramah dan terbuka, menerima tamu sebagai suatu kewajiban spiritual. Sebuah rumah adat yang pintunya selalu terbuka adalah cermin dari hati yang lapang.
Ketiga, Nengah Nyappur, yang mengajarkan kita untuk pandai bergaul, membuka diri, dan bersosialisasi tanpa kehilangan jati diri.
Keempat, Sakai Sambayan, jiwa gotong-royong yang telah menyatukan masyarakat Lampung dari Sabang sampaikan Merauke, jauh sebelum kata “Pancasila” dirumuskan. Nilai ini adalah fondasi dari persatuan dan keadilan sosial.
Nilai-nilai ini adalah nafas dari kearifan lokal kita. Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan bahwa Piil Pesenggiri adalah pengejawantahan dari syariat Islam dan menjadi pilar ideologi Pancasila. Sakai Sambayan, misalnya, adalah cermin dari sila kelima, keadilan sosial. Nemui Nyimah adalah perwujudan dari kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan kata lain, menjadi orang Lampung yang sejati berarti menjadi muslim yang baik dan warga negara Indonesia yang Pancasilais. Tidak ada pertentangan di sana.
Namun, di mana letak duka yang saya maksudkan, anak-anakku?
Duka itu terletak pada fakta bahwa meskipun peraturan daerah bernomor 11 tahun 2024 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Lampung telah digulirkan, kita hanya melihatnya sebagai dokumen mati. Perda itu bagaikan sebuah Siger emas yang dipajang di etalase, indah dipandang namun tak pernah dipakai, dan mulai berdebu. Ada seremonial, ada pidato, ada selebrasi yang menampilkan tarian Sigeh Pengunten dengan gemerlap lampu. Namun, ketika upacara usai, gaung adat itu kembali sunyi. Perhatian pemerintah, terlalu sering hanya sebatas itu.
Saya mendengar sendiri alasan yang klise, “Tidak ada dana, pun”. Padahal, dana itu ada, bergelimang di sana-sini. Namun, lebih menggembirakan untuk membangun mal dan jalan tol daripada mengajarkan anak-anak kita membaca aksara Lampung di rumah-rumah adat. Lihatlah generasi muda kita, generasi yang oleh pemerintah dibanggakan sebagai “Generasi Emas”. Mereka pandai menghapal rumus kimia, fasih berbahasa asing, dan mahir bermain gawai. Namun, ketika ditanya marga apa mereka, mereka hanya menggeleng bingung. Mereka mengenal dunia maya, tetapi lupa dengan asal-usulnya.
Mereka tidak tahu lagi bagaimana cara menjunjung Siger, apakah itu Siger dengan sembilan lekuk untuk adat Pepadun atau tujuh lekuk untuk adat Saibatin. Mereka tak mengenal lagi tata cara pemakaian kain Tapis, karena sudah jarang ada pesta adat. Biayanya mahal, katanya. Padahal, kemahalan itulah yang justru menjadi tembok pemisah antara generasi dengan budayanya.
Para pengrajin Tapis tradisional pun mengeluh, peminatnya kian tergerus oleh produk-produk modern. Kita telah memilih untuk memudarkan ritual Cakak Pepadun, yang mengajarkan nilai kerja keras dan pengorbanan, dan menggantinya dengan sekadar “pesta” tanpa makna.
Inilah yang saya maksud dengan “Selamat Tinggal Lampung Beradat: Pemerintah Telah Memilih Generasi yang Tahu Segalanya Kecuali Asal-Usulnya”. Kita sedang menuju kepunahan. Bukan kepunahan fisik, melainkan kepunahan jiwa. Adat istiadat tidak akan mati karena serangan dari luar, tetapi karena dikhianati oleh anak-anaknya sendiri. Dikhianati oleh para pemimpin yang sibuk dengan jabatan, dan dikhianati oleh kita yang tak lagi merawat warisan.
Para orang tua, jangan hanya menitipkan harta pada anak. Titipkanlah Piil Pesenggiri, karena itulah bekal utama. Ajarilah mereka bahwa Pesenggiri bukanlah harga diri yang mudah tersinggung, melainkan sebuah kehormatan yang harus dijaga dengan amal saleh dan akhlak mulia. Kembalikan ajaran adat ke rumah-rumah dan masjid-masjid. Hiduplah kembali falsafah muakhi, ikatan persaudaraan yang dapat menyelesaikan konflik dan memperkuat pembangunan daerah.
Saya rindu suara cakak gendang di setiap pelosok kampung. Saya rindu mendengar petikan syair-syair adat yang penuh petuah. Saya rindu melihat anak-anak muda menari Cangget dengan penuh percaya diri, memahami setiap gerak dan filosofinya. Jangan biarkan “Selamat Tinggal” itu menjadi nyata.
Mari kita bangkit. Pemerintah, ayolah turun dari panggung selebrasi. Buka mata dan telinga. Dana bukanlah segalanya. Niat dan komitmen adalah harganya. Masukkan kembali falsafah Piil Pesenggiri ke dalam kurikulum pendidikan. Beri ruang bagi para penyimbang dan tetua adat untuk bercerita di sekolah-sekolah. Selamatkan Siger, selamatkan Tapis, selamatkan aksara kita, sebelum semuanya hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Pesan saya, jangan pernah menjadi generasi yang pandai menghitung untung-rugi dalam rupiah, tetapi buta akan nilai dari Sakai Sambayan. Jangan menjadi generasi yang canggih berkomunikasi, tetapi kehilangan Nemui Nyimah. Jadilah orang Lampung yang sesungguhnya, yang tidak melupakan asal-usul, karena dari sanalah kita akan melangkah ke masa depan dengan kepala tegak.
Tabik pun, semoga kita diberi kekuatan.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

