Dari Pelukan Nenek Menuju Panggung Dunia: Kajian Psikologi Terapan tentang Perubahan Nasib dalam Biografi Lionel Messi dan Lamine Yamal

0

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id – Metro – Final Piala Dunia 2026 telah usai namun telah menghadirkan sebuah kisah yang jauh melampaui pertandingan sepak bola. Pertemuan Lionel Messi dari Argentina dan Lamine Yamal dari Spanyol merupakan pertemuan dua generasi yang sama-sama lahir dari keluarga sederhana, kemudian mampu mencapai puncak prestasi dunia melalui perpaduan antara kasih sayang keluarga, kerja keras, kesempatan, dan pertolongan Allah Swt. Kisah keduanya menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah penghalang untuk meraih keberhasilan apabila seseorang memperoleh dukungan emosional yang tepat sejak usia dini. Lionel Messi lahir di Rosario, Argentina, pada 24 Juni 1987 dari keluarga pekerja. Ayahnya bekerja di sebuah pabrik baja, sedangkan ibunya bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan. Di balik perjalanan kariernya, terdapat sosok yang selalu dikenang, yaitu neneknya, Celia Cuccittini. Sang nenek menjadi orang pertama yang melihat bakat Messi, mengantarnya mengikuti latihan sepak bola, menyemangatinya ketika mengalami kegagalan, bahkan terus menjadi sumber motivasi hingga kini. Setiap kali mencetak gol, Messi sering mengangkat kedua tangannya ke langit sebagai bentuk penghormatan kepada neneknya yang telah wafat ketika dirinya masih berusia sebelas tahun.

Lamine Yamal juga memiliki kisah yang tidak kalah mengharukan. Lahir pada 13 Juli 2007 di Esplugues de Llobregat, Spanyol, Yamal tumbuh dalam keluarga sederhana dengan ayah berdarah Maroko dan ibu berdarah Guinea Ekuatorial. Masa kecilnya banyak dibantu oleh neneknya, Fátima Romani, yang berperan besar dalam merawat, mendidik, dan memberikan dukungan emosional ketika kedua orang tuanya berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Kehangatan keluarga tersebut menjadi pondasi psikologis yang membuat Yamal berkembang menjadi salah satu pemain muda terbaik dunia.

Pertemuan Messi dan Yamal di Final Piala Dunia 2026 menjadi simbol bahwa perubahan nasib tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, melainkan juga oleh kualitas hubungan dalam keluarga. Psikologi terapan menyebut keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter, motivasi, ketahanan mental, serta optimisme seseorang dalam menghadapi kehidupan. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat tersebut menegaskan bahwa perubahan hidup memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dukungan keluarga menjadi energi yang memperkuat proses perubahan tersebut. Rasulullah saw. juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Kasih sayang seorang nenek kepada cucunya merupakan bentuk manfaat yang sering kali tidak terlihat, tetapi mampu mengubah masa depan seseorang secara luar biasa.

Baca Juga :  Bobby Kertanegara Masuk Istana, Ini Cerita soal Kucing Kesayangan Prabowo

Kasih Sayang Keluarga sebagai Modal Psikologis Kesuksesan.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa hubungan emosional dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan seseorang. John Bowlby (1969) melalui Attachment Theory menjelaskan bahwa anak yang memperoleh kelekatan emosional yang aman (secure attachment) akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berani mengambil tantangan, serta mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih baik. Kisah Messi dan Yamal memperlihatkan bagaimana kasih sayang nenek menjadi sumber rasa aman. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu ada seseorang yang mempercayai kemampuan mereka. Kepercayaan tersebut berkembang menjadi kekuatan psikologis yang bertahan hingga dewasa.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Albert Bandura (1977) melalui teori “Self-Efficacy”. Bandura menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui pengalaman positif dan dukungan dari orang-orang terdekat. Setiap kali Messi diantar latihan oleh neneknya, setiap kali Yamal memperoleh dorongan untuk terus berlatih, sebenarnya sedang terbentuk keyakinan bahwa mereka mampu menjadi lebih baik daripada hari sebelumnya. Carol S. Dweck (2006) melalui teori Growth Mindset menjelaskan bahwa individu yang percaya kemampuan dapat berkembang melalui latihan akan memiliki kegigihan lebih tinggi dibandingkan mereka yang menganggap bakat sebagai sesuatu yang tetap. Messi pernah ditolak karena kondisi fisiknya yang kecil akibat gangguan hormon pertumbuhan. Keadaan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Latihan yang konsisten justru mengubah keterbatasan menjadi keunggulan.

Pemikiran tersebut diperkuat oleh Martin E. P. Seligman (2011) dalam konsep “Positive Psychology” yang menekankan pentingnya optimisme, harapan, ketangguhan (resilience), dan rasa syukur sebagai modal utama mencapai kehidupan yang bermakna. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perubahan nasib dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu kasih sayang keluarga, lingkungan yang mendukung, keyakinan terhadap kemampuan diri, ketekunan dalam berlatih, serta kemampuan memanfaatkan kesempatan yang datang.

Kenyataan serupa juga dapat ditemukan pada berbagai tokoh dunia dari bidang lain. Abraham Lincoln lahir dari keluarga petani miskin di pedalaman Kentucky, tetapi melalui ketekunan belajar berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat yang dikenang sepanjang sejarah. B. J. Habibie kehilangan ayah ketika masih kecil. Kondisi ekonomi keluarganya tidak mudah, namun dukungan ibunya terhadap pendidikan menjadikan Habibie tumbuh sebagai ilmuwan kelas dunia sekaligus Presiden Republik Indonesia. Oprah Winfrey dibesarkan dalam kemiskinan dan berbagai pengalaman hidup yang berat. Dukungan keluarga serta ketangguhan mental mengubah dirinya menjadi salah satu tokoh media paling berpengaruh di dunia. Jack Ma, pendiri Alibaba Group, berkali-kali gagal memasuki perguruan tinggi, ditolak puluhan kali ketika melamar pekerjaan, bahkan pernah ditolak bekerja di restoran cepat saji. Optimisme dan kegigihan mengubah perjalanan hidupnya hingga menjadi salah satu tokoh ekonomi dunia. Kesamaan seluruh tokoh tersebut terletak pada satu hal, yaitu keberhasilan mereka lebih banyak dibangun oleh kualitas karakter daripada kemewahan fasilitas.

Baca Juga :  Harmoni, Cara Ulama Klasik Menyikapi Perbedaan - MAJALAH NATAR AGUNG

Kekayaan Keluarga Tidak Menjamin Masa Depan.

Psikologi juga memperlihatkan kenyataan yang berlawanan. Tidak sedikit orang yang lahir dari keluarga kaya, memperoleh pendidikan terbaik, bahkan memiliki jabatan tinggi, tetapi mengakhiri hidup dalam penyesalan karena salah mengambil keputusan. Urie Bronfenbrenner (1979) melalui “Ecological Systems Theory” menjelaskan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh interaksi antara keluarga, lingkungan sosial, budaya, teman sebaya, dan pilihan pribadi. Kekayaan keluarga hanya merupakan salah satu faktor. Keputusan hidup tetap menjadi penentu utama. Sementara itu, Lawrence Kohlberg (1984) menjelaskan bahwa perkembangan moral menentukan bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan, harta, dan jabatan. Individu yang gagal mencapai kematangan moral cenderung menggunakan kekayaan untuk memenuhi kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai etika.

Fenomena tersebut tampak pada berbagai kasus di berbagai negara. Banyak mantan pejabat yang dahulu hidup bergelimang fasilitas akhirnya menjalani masa tua di balik jeruji besi akibat korupsi. Tidak sedikit artis terkenal yang kehilangan seluruh kekayaannya karena narkoba, judi, atau gaya hidup konsumtif. Sejumlah pengusaha besar mengalami kebangkrutan akibat keserakahan, manipulasi keuangan, atau keputusan bisnis yang tidak beretika. Albert Bandura (1999) menyebut kondisi tersebut sebagai moral disengagement, yaitu proses psikologis ketika seseorang membenarkan perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai moral. Pada tahap tersebut, hati nurani perlahan kehilangan kepekaan sehingga penyimpangan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat jelas. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Kemuliaan tidak diukur dari kekayaan, keturunan, maupun jabatan, melainkan dari kualitas ketakwaan dan akhlak. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan….” (HR. At-Tirmidzi). Hadis tersebut mengingatkan bahwa seluruh nikmat kehidupan akan dimintai pertanggungjawaban. Kesuksesan sejati bukan hanya mencapai puncak karier, tetapi juga mampu mempertahankan integritas hingga akhir hayat. Pertemuan Messi dan Yamal pada Final Piala Dunia 2026 memberikan pesan bahwa kejayaan bukanlah hadiah instan. Prestasi merupakan hasil dari pendidikan karakter yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh kasih sayang, dipelihara melalui disiplin, kemudian disempurnakan dengan kerja keras dan doa.

Baca Juga :  Luka di Balik Tembok Sekolah: Ketika Ruang Belajar Menjadi Medan Kekerasan Oleh : Devy Sri Rahayu *)

Akhirnya penting untuk dipahami bahawa biografi Lionel Messi dan Lamine Yamal memperlihatkan bahwa perubahan nasib merupakan proses panjang yang dibangun oleh kasih sayang keluarga, keyakinan terhadap kemampuan diri, lingkungan yang mendukung, ketekunan, serta pertolongan Allah Swt. Keduanya menjadi bukti nyata bahwa keluarga sederhana mampu melahirkan tokoh besar ketika berhasil menanamkan cinta, harapan, dan karakter sejak usia dini. Kajian psikologi terapan melalui teori Attachment John Bowlby, Self-Efficacy Albert Bandura, Growth Mindset Carol Dweck, Positive Psychology Martin Seligman, perkembangan moral Lawrence Kohlberg, dan Ecological Systems Theory Urie Bronfenbrenner menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kualitas karakter dibandingkan kondisi ekonomi keluarga. Kasih sayang yang tulus mampu membangun ketangguhan psikologis, sedangkan kekayaan tanpa integritas justru dapat menjadi awal kehancuran. Pelajaran terbesar dari kisah Messi dan Yamal adalah bahwa setiap keluarga memiliki peluang melahirkan generasi hebat. Orang tua, kakek, nenek, maupun anggota keluarga lainnya tidak harus mewariskan harta yang melimpah. Warisan terbaik adalah kasih sayang, pendidikan karakter, keteladanan, doa yang tidak pernah putus, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat mengubah nasib dirinya, keluarganya, bahkan bangsanya. Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kemuliaan hidup bukan ditentukan oleh dari mana seseorang berasal, melainkan oleh bagaimana ia memanfaatkan setiap kesempatan yang Allah Swt. berikan dengan iman, ilmu, kerja keras, dan akhlak yang mulia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini