Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung.Sakai Sambayan, Warisan Gotong Royong Orang Lampung.Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Malam ini, saya ingin mengajak kalian duduk sejenak di beranda sederhana ini, ditemani secangkir kopi yang harum, untuk mengenang sebuah kisah tua yang membekas di hati masyarakat kita. Kisah ini berasal dari Kampung Kelumbayan, sebuah kampung yang terletak di pesisir selatan Lampung, tempat ombak selalu setia menyapa.

Dahulu kala, hiduplah seorang petani bernama Dalom Tuan Raja. Ladangnya luas membentang di lereng-lereng perbukitan, tempat ia dan keluarganya menanam padi. Namun, sebuah musibah datang. Anak semata wayangnya jatuh sakit keras, dan Dalom Tuan Raja harus terus menjaganya. Musim tanam tiba, tetapi ia tak bisa ke ladang. Hari-hari bergulir, dan kekhawatiran mulai menyelimuti, karena jika padi tak kunjung ditanam, musim paceklik akan menimpa keluarganya.
Esok paginya, ketika ia membuka pintu rumah, matanya terbelalak. Di ladangnya, puluhan orang dari kampung telah berkumpul. Mereka adalah para tetangga, sanak saudara, bahkan orang-orang yang jarang ia sapa. Tanpa diminta dan tanpa menunggu perintah, mereka bahu-membahu membajak tanah, menabur benih, dan menutupnya dengan tanah yang gembur.
Dari kejauhan, Dalom Tuan Raja melihat mereka bekerja di bawah terik matahari, tangannya gemetar, dan air matanya mengalir deras. Seorang tetua berkata padanya, “Pun, kerja di ladangmu adalah kerja kita semua. Kami datang untuk nyakai sambayan.” Tidak ada hitungan upah atau imbalan. Yang ada hanyalah tawa dan canda di antara para pekerja, sebuah harmoni yang lahir dari kesadaran kolektif.
Inilah esensi dari Sakai Sambayan, warisan gotong royong orang Lampung. Dalam falsafah Pi’il Pesenggiri, Sakai Sambayan menempati posisi yang sangat mulia. Kata Sakai bermakna tolong-menolong di antara sesama, silih berganti, sementara Sambayan berarti gotong-royong dalam mengerjakan sesuatu yang berat dan besar. Jadi, Sakai Sambayan bukan hanya kegiatan fisik, tetapi sebuah sistem nilai yang mengajarkan bahwa beban sekalipun akan terasa ringan jika dipikul bersama-sama.
Sistem Marga dalam adat Lampung berfungsi sebagai jaminan sosial yang kuat.

Dalam sejarah, kita mengenal kitab kuno Kuntara Raja Niti yang menjadi pedoman hidup bagi para tetua adat, di mana nilai-nilai luhur termasuk Sakai Sambayan termaktub di dalamnya.
Seorang Punyimbang, dalam catatan tuturnya yang tersimpan di kalangan Pepadun, sering mengingatkan, bahwa dalam kesusahan, “Sakai sambayan, berrai sakemahan. Nyappur nemui, handak wohian”. Terjemahan bebasnya, “Saling membantu, maka berat akan terasa ringan. Bergaul dan menerima dengan lapang dada, hendaklah saling memberi.”
Analisis dari petuah ini sangat dalam. Frasa “berrai sakemahan” menunjukkan sebuah kesadaran bahwa individu adalah makhluk yang lemah, tetapi komunitas adalah kekuatan. Ketika seseorang membangun rumah adat atau menggelar upacara Begawi untuk mendapatkan gelar Juluk-Adok, seluruh anggota marga punya kewajiban moral untuk menyumbang tenaga dan pikiran.

Dalam adat Pepadun dan Saibatin, meskipun sebutannya berbeda—di Saibatin dikenal sebagai Khepot Delom Nufakat—esensinya tetap sama: manusia tidak bisa hidup sendirian.

Nilai Sakai Sambayan ini sejalan dengan ajaran Islam yang kita imani. Allah SWT telah memerintahkan kita dalam firman-Nya di Surah Al-Maidah ayat 2 yang artinya,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa’irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala’ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana’anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu
alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Ayat ini turun sebagai bimbingan agar umat Islam selalu solid dan saling bahu-membahu dalam kebaikan. Ketika masyarakat Lampung bergotong-royong menanam padi, membangun rumah, atau menyukseskan hajatan, mereka sedang mengamalkan perintah Al-Qur’an untuk berbuat kebajikan bersama.
Di tengah gempuran kehidupan modern yang semakin individualistis, kita sering melihat budaya gotong-royong mulai pudar. Pagar-pagar rumah semakin tinggi, hati-hati pun mulai terkunci rapat. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan ponselnya daripada dengan tetangganya sendiri. Jika kita biarkan, maka nilai luhur Sakai Sambayan akan berubah menjadi sekadar cerita masa lalu yang menghangatkan kenangan, seperti kisah Dalom Tuan Raja yang mungkin kelak tak lagi diingat.
Padahal, Sakai Sambayan adalah perekat persatuan. Nilai ini menjadi cerminan nyata dari sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, dan sila kelima, Keadilan Sosial. Dengan bergotong royong, kita menghapus jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara penduduk asli dan pendatang. Orang Lampung dikenal terbuka, tidak membentuk kelompok eksklusif, dan siap bekerja sama dengan pihak mana pun asalkan tujuannya baik.
Maka, marilah kita jaga marwah adat ini. Mulailah dari hal-hal kecil: ikutlah kerja bakti membersihkan kampung, hadirlah dalam acara hajatan tetangga, dan ulurkan tangan tanpa pamrih kepada yang membutuhkan. Itulah cara kita menghidupkan kembali Sakai Sambayan, warisan gotong-royong yang akan menjaga kekuatan Bumi Lampung sampai kapan pun. Tabik pun. <>

Daftar Pustaka:

  1. Sakai Sambayan dalam Masyarakat Lampung. (Repository UIN Raden Intan)
  2. Wulandari, H.T., Arif, S., & Pratama, R.A. (2022). Implementasi Sakai Sambayan dalam Upacara Begawi Adat Lampung. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sejarah Universitas Lampung.
  3. Nilai Sakai Sambayan dalam Falsafah Piil Pesenggiri.
  4. Sejarah Marga dan Sistem Pemerintahan Adat Lampung. (Core.ac.uk)
  5. Piil Pesenggiri. Wikipedia Bahasa Indonesia.
  6. Makna Sakai Sambayan bagi Masyarakat Lampung. (Repository LPPM Unila)
  7. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung.
  8. Bahagianda, M.M. (2026). Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 2: Gotong Royong yang Mulai Pudar. Natar Agung.
  9. Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Surah Al-Maidah: 2).
  10. Pola Aktivitas Sakai Sambayan dalam Masyarakat Multikultural. (Digilib Unila)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *