nataragung.id – Natar – Terinspirasi oleh instruksi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal tentang Kamis Beradat, nataragung akan mencetak buku kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung.
Menurut pemimpin redaksi nataragung H. SyahidanMh, SAg., gelar Buay Sakti, akan dicetaknya kumpulan buku Khutbah tersebut dalam rangka mengimplementasikan Instruksi Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal Nomor : 4 Tahun 2025 tanggal 30 Desember 2025 tentang hari Kamis BERADAT yaitu sebagai upaya memperkuat pelestarian Bahasa Daerah dan Budaya Lampung dilingkungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lingkungan pendidikan se-provinsi Lampung.
Lebih lanjut dikatakannya, meski masjid bukan bagian yang diatur dalam instruksi tersebut, namun tidak ada salahnya warga masyarakat Lampung khususnya para khatib shalat Jum’at turut serta melestarikan bahasa Lampung dengan kegiatan nyata yaitu membacakan khutbah Jum’at dalam bahasa Lampung.
Selain itu masih menurut Syahidan, pada wilayah tertentu di provinsi Lampung, sudah banyak saudara-saudara kita warga masyarakat suku Jawa yang membaca khutbah dalam bahasa Jawa, bahkan buku-buku Khutbah berbahasa Jawa sudah beredar luas dan sudah dijual di toko-toko yang tersebar di kota-kota besar di provinsi ini.
Dikatakan Syahidan, Khutbah Jum’at Bahasa Lampung yang akan dicetak memakai dialeg A, yang biasa di pakai oleh Lampung Pesisir atau Saibatin dan Lampung Pubian khususnya Pubian Marga BukkukJadi yang tersebar di Kecamatan Natar Lampung Selatan dan Kecamatan Tegineneng, Pesawaran.
Dirinya menyadari naskah (dialeg) yang disajikan dalam buku Khutbah masih jauh dari kata sempurna, namun prinsip kami “Lamon Mak Gatta Kapan Lagi, Lamon Mak Kham Sapa Lagi,” ujar Syahidan yang juga bertindak sebagai editor Bahasa Lampung dalam buku Khutbah tersebut.
Syahidan menguraikan, khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini bisa dibaca para Khatib di masjid pada tiyuh atau desa yang jama’ahnya orang Lampung pribumi, sehingga apa yang disampaikan oleh khatib, jama’ahnya akan nyambung dan faham. “Kan banyak masjid yang berdiri di kampung-kampung orang Lampung pribumi, apalagi di kampung orang Lampung Pesisir dan Pubian Marga BukkukJadi, maka disitulah khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini sebaiknya di baca,” kata Syahidan.
“Perlu diketahui bahwa kumpulan khutbah ini seluruh materi atau isinya sudah di terbitkan di nataragung, yang diupload setiap hari Kamis,” tambah Syahidan.
Selain Khutbah Bahasa Lampung, dalam buku itu juga disajikan khutbah versi Bahasa Indonesia, agar para khatib ada alternatif dalam membacakan Khutbah, apakah akan mempergunakan Bahasa Lampung atau tetap pakai Bahasa Indonesia. “Materi atau isi khutbah tetap sama, hanya bahasa saja yang berbeda yaitu bahasa Lampung dan bahasa Indonesia,” pungkas Syahidan.
Sementara itu penulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung H. Komiruddin Imron, Lc., menambahkan; dirinya menulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung berawal dari diskusi di group WA yang berisi para khatib shalat Jum’at berjumlah lebih dari 70 orang yang berasal dari lintas kabupaten/kota se-provinsi Lampung. Beberapa anggota group mengusulkan agar selain bahasa Indonesia ada juga khutbah yang berbahasa Lampung. Usulan tersebut kami diskusikan dan didukung penuh oleh H. Syahidan yang juga adalah penanggung jawab WA group khatib shalat Jum’at.
Ustadz Komiruddin yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan 2 periode ini mengatakan bahwa rincian bahasan dalam Khutbah disesuaikan dengan kegiatan hari besar agama dan hari besar nasional. “Dalam kumpulan khutbah Jum’at ini juga ada Khutbah Idul Adha dan Khutbah Idul Fitri, serta dilengkapi dengan khutbah kedua, baik untuk khutbah Jum’at maupun khutbah Idul Adha dan Idul Fitri,” ucap Ustadz Komir seraya mengatakan bahwa kumpulan khutbah tersebut ada 28 judul dan 316 halaman.
“Bagi Khatib yang tetap ingin membacakan Khutbah versi Indonesia, tidak usah khawatir, karena dalam buku yang akan terbit kami juga sajikan materi khutbahnya. Materi sama hanya beda bahasa saja,” tambah Komir.
Dirinya berharap kumpulan buku khutbah Bahasa Lampung ini dapat menambah khasanah budaya khususnya dalam bidang berbahasa yang saat ini sepertinya ada keengganan bagi warga suku Lampung pribumi untuk berbicara mempergunakan bahasa Lampung khususnya dari kalangan milenial dan Gen-Z.
Tak lupa Ustadz Komir berharap kepada para pembaca, untuk turut serta mengoreksi isi (dialeg) yang tersaji, agar bisa menjadi bahan evaluasi bagi dirinya dan jajaran redaksi nataragung. “Kami sadar bahwa dialeg yang kami sajikan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran, amat kami harapkan,” pungkas Ustadz Komir. (SMh)
BIODATA PENULIS KHUTBAH BAHASA LAMPUNG
Komiruddin Imron lahir di desa Batang Hari Ogan, tanggal 4 Juli 1967, sebuah desa di kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Lampung.
Menghabiskan masa remajanya di Pesantren Darussalam, desa Banjar Negeri, kecamatan Natar.
Dari kecil sudah hobi membaca buku buku Islam terutama cerita cerita nabi dan kepahlawanan para sahabat Nabi SAW.
Setelah menamatkan aliyah di pesantren tersebut tahun 1986 ia mendapatkan beasiswa untuk studi di Universitas Islam Muhammad ibnu Sa’ud, Jakarta, salah satu cabang universitas yang ada di Saudi Arabia, yang lebih dikenal dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dan Arab (LIPIA).
Lulus dari LIPIA tahun 1992 dan langsung mengabdikan diri di PPM Daarul Hikmah Lampung sampai tahun 2017.
Pernah menjadi anggota DPRD Lampung Selatan priode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014.
Pernah bekerja sebagai Dewan Pengawas Syariah di BPRS Kotabumi Lampung Utara tahun 2019 – 2023.
Aktif di organisasi sosial di GMI dan DDII
Istri : Fajar Andriyani
Anak anak : Asma Nida UlHaqq (Alumni Al Azhar, Cairo, Mesir), Athiyyah Al Habibah ( Alumni UPI, Bandung), Ikrimah Al Basil (Alumni UNJ,Jakarta), Thoriq Al Muntashir (Mahasiswa Universitas Darmajaya, Bandarlampung) dan Qutaibah Al Muharrir (Mahasiswa UNJ, Jakarta)
Aktivitas sehari harinya sebagai da’I di berbagai kegiatan Islam, konsultan syariah, dan tutor pada pelatihan syari’ah.
Buku-buku yang ditulis : Aqidah Seorang Muslim (1991), Paket Khusus Para Da’I (1992), Satu Menit Saja ( Juni 2015), Mari Bercermin (Oktober 2015), Ayahku Murabbiku (Januari 2016), Mata air Kebaikan (April 2016), Semua Dipergilirkan (Januari 2017), 30 Nasihat Ramadhan (April 2017), Semua Ada Jalan (Desember 2017), Jiwa-jiwa Merdeka (Juni 2018), Agar Bahtera Terus Berlayar (Desember 2018), Jalan Panjang Dakwah (September 2019), Melawan Kezaliman (April 2020)
Alamat : Jl Kartini, Dusun Serbajadi, desa Pemanggilan, Kecamatan Natar. Lampung Selatan.









