Blog

  • Terinspirasi Oleh Instruksi Gubernur Mirza Tentang Kamis Beradat, nataragung Cetak Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung

    Terinspirasi Oleh Instruksi Gubernur Mirza Tentang Kamis Beradat, nataragung Cetak Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung

    nataragung.id – Natar – Terinspirasi oleh instruksi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal tentang Kamis Beradat, nataragung akan mencetak buku kumpulan Khutbah Jum’at Bahasa Lampung.

    Menurut pemimpin redaksi nataragung H. SyahidanMh, SAg., gelar Buay Sakti, akan dicetaknya kumpulan buku Khutbah tersebut dalam rangka mengimplementasikan Instruksi Gubernur Lampung Bapak Rahmat Mirzani Djausal Nomor : 4 Tahun 2025 tanggal 30 Desember 2025 tentang hari Kamis BERADAT yaitu sebagai upaya memperkuat pelestarian Bahasa Daerah dan Budaya Lampung dilingkungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan lingkungan pendidikan se-provinsi Lampung.

    Lebih lanjut dikatakannya, meski masjid bukan bagian yang diatur dalam instruksi tersebut, namun tidak ada salahnya warga masyarakat Lampung khususnya para khatib shalat Jum’at turut serta melestarikan bahasa Lampung dengan kegiatan nyata yaitu membacakan khutbah Jum’at dalam bahasa Lampung.

    Selain itu masih menurut Syahidan, pada wilayah tertentu di provinsi Lampung, sudah banyak saudara-saudara kita warga masyarakat suku Jawa yang membaca khutbah dalam bahasa Jawa, bahkan buku-buku Khutbah berbahasa Jawa sudah beredar luas dan sudah dijual di toko-toko yang tersebar di kota-kota besar di provinsi ini.

    Dikatakan Syahidan, Khutbah Jum’at Bahasa Lampung yang akan dicetak memakai dialeg A, yang biasa di pakai oleh Lampung Pesisir atau Saibatin dan Lampung Pubian khususnya Pubian Marga BukkukJadi yang tersebar di Kecamatan Natar Lampung Selatan dan Kecamatan Tegineneng, Pesawaran.

    Dirinya menyadari naskah (dialeg) yang disajikan dalam buku Khutbah masih jauh dari kata sempurna, namun prinsip kami “Lamon Mak Gatta Kapan Lagi, Lamon Mak Kham Sapa Lagi,” ujar Syahidan yang juga bertindak sebagai editor Bahasa Lampung dalam buku Khutbah tersebut.

    Syahidan menguraikan, khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini bisa dibaca para Khatib di masjid pada tiyuh atau desa yang jama’ahnya orang Lampung pribumi, sehingga apa yang disampaikan oleh khatib, jama’ahnya akan nyambung dan faham. “Kan banyak masjid yang berdiri di kampung-kampung orang Lampung pribumi, apalagi di kampung orang Lampung Pesisir dan Pubian Marga BukkukJadi, maka disitulah khutbah Jum’at Bahasa Lampung ini sebaiknya di baca,” kata Syahidan.

    “Perlu diketahui bahwa kumpulan khutbah ini seluruh materi atau isinya sudah di terbitkan di nataragung, yang diupload setiap hari Kamis,” tambah Syahidan.

    Selain Khutbah Bahasa Lampung, dalam buku itu juga disajikan khutbah versi Bahasa Indonesia, agar para khatib ada alternatif dalam membacakan Khutbah, apakah akan mempergunakan Bahasa Lampung atau tetap pakai Bahasa Indonesia. “Materi atau isi khutbah tetap sama, hanya bahasa saja yang berbeda yaitu bahasa Lampung dan bahasa Indonesia,” pungkas Syahidan.

    Sementara itu penulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung H. Komiruddin Imron, Lc., menambahkan; dirinya menulis khutbah Jum’at Bahasa Lampung berawal dari diskusi di group WA yang berisi para khatib shalat Jum’at berjumlah lebih dari 70 orang yang berasal dari lintas kabupaten/kota se-provinsi Lampung. Beberapa anggota group mengusulkan agar selain bahasa Indonesia ada juga khutbah yang berbahasa Lampung. Usulan tersebut kami diskusikan dan didukung penuh oleh H. Syahidan yang juga adalah penanggung jawab WA group khatib shalat Jum’at.

    Ustadz Komiruddin yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan 2 periode ini mengatakan bahwa rincian bahasan dalam Khutbah disesuaikan dengan kegiatan hari besar agama dan hari besar nasional. “Dalam kumpulan khutbah Jum’at ini juga ada Khutbah Idul Adha dan Khutbah Idul Fitri, serta dilengkapi dengan khutbah kedua, baik untuk khutbah Jum’at maupun khutbah Idul Adha dan Idul Fitri,” ucap Ustadz Komir seraya mengatakan bahwa kumpulan khutbah tersebut ada 28 judul dan 316 halaman.

    “Bagi Khatib yang tetap ingin membacakan Khutbah versi Indonesia, tidak usah khawatir, karena dalam buku yang akan terbit kami juga sajikan materi khutbahnya. Materi sama hanya beda bahasa saja,” tambah Komir.

    Dirinya berharap kumpulan buku khutbah Bahasa Lampung ini dapat menambah khasanah budaya khususnya dalam bidang berbahasa yang saat ini sepertinya ada keengganan bagi warga suku Lampung pribumi untuk berbicara mempergunakan bahasa Lampung khususnya dari kalangan milenial dan Gen-Z.

    Tak lupa Ustadz Komir berharap kepada para pembaca, untuk turut serta mengoreksi isi (dialeg) yang tersaji, agar bisa menjadi bahan evaluasi bagi dirinya dan jajaran redaksi nataragung. “Kami sadar bahwa dialeg yang kami sajikan masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran, amat kami harapkan,” pungkas Ustadz Komir. (SMh)

    BIODATA PENULIS KHUTBAH BAHASA LAMPUNG


    Komiruddin Imron lahir di desa Batang Hari Ogan, tanggal 4 Juli 1967, sebuah desa di kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Lampung.

    Menghabiskan masa remajanya di Pesantren Darussalam, desa Banjar Negeri, kecamatan Natar.

    Dari kecil sudah hobi membaca buku buku Islam terutama cerita cerita nabi dan kepahlawanan para sahabat Nabi SAW.

    Setelah menamatkan aliyah di pesantren tersebut tahun 1986 ia mendapatkan beasiswa untuk studi di Universitas Islam Muhammad ibnu Sa’ud, Jakarta, salah satu cabang universitas yang ada di Saudi Arabia, yang lebih dikenal dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dan Arab (LIPIA).

    Lulus dari LIPIA tahun 1992 dan langsung mengabdikan diri di PPM Daarul Hikmah Lampung sampai tahun 2017.

    Pernah menjadi anggota DPRD Lampung Selatan priode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014.

    Pernah bekerja sebagai Dewan Pengawas Syariah di BPRS Kotabumi Lampung Utara tahun 2019 – 2023.

    Aktif di organisasi sosial di GMI dan DDII

    Istri : Fajar Andriyani

    Anak anak : Asma Nida UlHaqq (Alumni Al Azhar, Cairo, Mesir), Athiyyah Al Habibah ( Alumni UPI, Bandung), Ikrimah Al Basil (Alumni UNJ,Jakarta), Thoriq Al Muntashir (Mahasiswa Universitas Darmajaya, Bandarlampung) dan Qutaibah Al Muharrir (Mahasiswa UNJ, Jakarta)

    Aktivitas sehari harinya sebagai da’I di berbagai kegiatan Islam, konsultan syariah, dan tutor pada pelatihan syari’ah.

    Buku-buku yang ditulis : Aqidah Seorang Muslim (1991), Paket Khusus Para Da’I (1992), Satu Menit Saja ( Juni 2015), Mari Bercermin (Oktober 2015), Ayahku Murabbiku (Januari 2016), Mata air Kebaikan (April 2016), Semua Dipergilirkan (Januari 2017), 30 Nasihat Ramadhan (April 2017), Semua Ada Jalan (Desember 2017), Jiwa-jiwa Merdeka (Juni 2018), Agar Bahtera Terus Berlayar (Desember 2018), Jalan Panjang Dakwah (September 2019), Melawan Kezaliman (April 2020)

    Alamat : Jl Kartini, Dusun Serbajadi, desa Pemanggilan, Kecamatan Natar. Lampung Selatan.

  • Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat LampungJejak Sejarah yang Membentuk Adat LampungOleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat LampungJejak Sejarah yang Membentuk Adat LampungOleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. Izinkanlah saya, sebagai salah seorang yang diberi amanah menjaga marwah adat, membawa kita menyusuri jejak nenek moyang. Bukan dengan gaya yang kaku, melainkan seperti kita duduk bersama di beranda sembari minum kopi dan mendengar cerita dari para tetua.
    Mari kita mulai dari sebuah kisah yang pernah bergema di tanah sekala bekhak, di kaki Gunung Pesagi yang disegani.

    Dahulu kala, di dataran tinggi Sekala Brak, hiduplah sebuah komunitas yang dikenal sebagai Suku Tumi. Konon, mereka memuja sebatang pohon bernama Lemasa Kepampang, sebuah pohon nangka yang memiliki dua cabang. Satu cabang berbuah nangka, dan satu cabang lagi adalah jenis kayu bergetah yang disebut sebukau.
    Keistimewaannya, jika terkena getah sebukau akan timbul penyakit, namun getah cabang nangka dipercaya menjadi penawarnya. Itulah kepercayaan turun-temurun mereka, jauh sebelum cahaya Islam menyinari tanah ini.
    Kemudian datanglah empat orang Umpu dari Pagaruyung, yang membawa perubahan besar. Mereka adalah Umpu Bejalan di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong, yang kemudian dikenal sebagai Paksi Pak Sekala Brak, empat bersaudara yang menjadi cikal bakal masyarakat Lampung.
    Bersama Putri Bulan, mereka menyebarkan ajaran Islam dan menggantikan kepercayaan lama. Pohon Lemasa Kepampang yang dikeramatkan itu pun ditebang dan diolah menjadi sebuah singgasana yang disebut Pepadun. Sejak saat itulah, pengaruh animisme mulai terkikis, dan Islam menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
    Dari Sekala Braklah, keturunan mereka menyebar ke berbagai penjuru, mengikuti aliran sungai-sungai besar seperti Way Komering, Way Tulang Bawang, dan Way Seputih. Inilah cikal bakal dari Sai Bumi Ruwa Jurai, satu tanah yang dihuni oleh dua kelompok besar adat: Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin.

    Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah perundang-undangan adat yang sangat tua, diceritakan dengan jelas silsilah para Umpu ini. Disebutkan bahwa Indra Gajah menurunkan orang Abung, Belunguh menjadi cikal bakal orang Pesisir, dan Pak Lang menurunkan orang Pubian.
    Kitab ini menjadi salah satu rujukan utama kita, sebuah bukti bahwa leluhur telah menyusun aturan hidup yang begitu teratur. Naskah-naskah seperti ini, yang berisi undang-undang adat Krui atau kitab hukum adat lainnya, adalah saksi bisu betapa adat Lampung telah lama menjadi pedoman hidup yang kokoh.
    Mengenal “Piil Pesenggiri”, Jati Diri Orang Lampung
    Kita semua tentu sering mendengar falsafah ini. Tapi, apa sebenarnya makna Piil Pesenggiri? Dalam bahasa sehari-hari, ini adalah tentang harga diri dan kehormatan. Sebuah petuah tua dalam dialek ‘O’ berbunyi: “Tando nou ulun Lappung, wat pi’il pesenggiri, you balak pi’il ngemik malou, igo dighi, ulah nou bejuluk you beadek, iling mewari negiuk ngaku nemuai nyimah ulah nou pandai you nengah you nyappur, ngubali jejamo, begaway balak, sakai sambayan.”
    Yang kurang lebih berarti, tanda orang Lampung adalah memiliki Piil Pesenggiri, berjiwa besar, menjaga malu, dan menghargai diri. Ia memiliki gelar yang terhormat, suka bersaudara, ramah, dan pandai bergaul. Semua itu disatukan dalam semangat gotong-royong.

    Falsafah ini kemudian terurai dalam empat pilar utama:

    1. Bejuluk Beadek (Juluk-Adok): Ini adalah tentang memiliki nama dan gelar kehormatan. Bukan sekadar untuk kebanggaan, tetapi sebuah tanggung jawab. Seseorang yang telah menyandang gelar adat dituntut untuk menjadi teladan, berperilaku terpuji, dan menjaga nama baik keluarganya.
      Ini mengajarkan kita untuk terus berjuang meningkatkan kualitas diri, sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 11,
      لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
      Lahuu mu’aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu’an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
      “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
    2. Nemui Nyimah: Keramahan dan sikap saling memberi. Ini adalah jiwa orang Lampung dalam menyambut tamu atau sesama. Dalam setiap hajatan, dari pernikahan hingga acara adat Begawi, semangat ini selalu terpancar. Kita diajarkan untuk tidak datang dengan tangan hampa dan menerima dengan lapang dada.
      Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa menyambung tali persaudaraan dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur.
    3. Nengah Nyappur: Keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Orang Lampung diajarkan untuk pandai bergaul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah bersama. Tidak ada ruang untuk sikap eksklusif, karena kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Inilah cermin dari Pancasila, sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
    4. Sakai Sambayan: Gotong-royong. Ini adalah pilar yang paling terlihat dalam keseharian, terutama saat ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan bersama, seperti membangun rumah atau mengadakan pesta adat. Semangat ini adalah kekuatan sosial yang luar biasa, mengajarkan kita bahwa beban akan terasa ringan jika dipikul bersama.

    Begitulah, cerita tentang kita, tentang asal-usul yang sarat makna. Dari pohon keramat yang ditebang, lahirlah Pepadun yang menjadi lambang persatuan. Dari empat Umpu, lahir beragam marga yang tersebar. Dan dari semua itu, terukir dengan indah falsafah Piil Pesenggiri yang membentuk karakter kita.
    Nilai-nilai ini bukanlah penghalang bagi modernitas, melainkan perekat bagi identitas. Semangat Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk tetap ramah, Nengah Nyappur mengajak kita untuk terbuka, dan Sakai Sambayan mengingatkan kita untuk selalu membantu.
    Marwah adat Lampung adalah marwah kita bersama, yang harus kita jaga agar tetap berdiri tegak, seirama dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila yang kita junjung. <>

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Mutiara Pagi: Ketika Seekor Burung Mengajarkan Rendah Hati.Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Mutiara Pagi: Ketika Seekor Burung Mengajarkan Rendah Hati.Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Dalam Al-Qur’an surah An-Naml: 22 Allah SWT berfirman:

    فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍۢ

    “Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita yang meyakinkan.’” (QS. An-Naml: 22)

    Betapa agung kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Angin tunduk kepada perintahnya. Jin, manusia, dan burung berhimpun dalam barisan tentaranya. Kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya hampir tidak pernah diberikan kepada seorang pun selain beliau.

    Namun, di tengah keluasan kerajaan itu, Allah mengajarkan sebuah pelajaran yang tak lekang oleh zaman: seluas apa pun ilmu seorang manusia, tetap ada pengetahuan yang belum ia miliki.

    Seekor burung Hud-hud datang membawa kabar yang belum diketahui oleh seorang nabi sekaligus raja. Bukan karena kedudukan Hud-hud lebih tinggi, melainkan agar seluruh manusia memahami bahwa ilmu adalah milik Allah semata. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, kapan pun Dia kehendaki, dan melalui siapa pun yang Dia kehendaki.

    Betapa sering manusia merasa telah mengetahui segala sesuatu hanya karena sedikit pengalaman, beberapa lembar buku, atau sepotong jabatan yang disandangnya. Padahal, di balik langit yang ia pandang setiap hari masih terbentang samudra ilmu yang belum pernah disentuh oleh pikirannya.

    Allah sengaja menjadikan seekor burung sebagai pembawa berita, agar runtuh kesombongan orang-orang yang mengukur kebenaran berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Sebab hikmah tidak selalu datang dari tempat yang kita sangka, dan nasihat tidak selalu lahir dari lisan orang yang lebih tinggi kedudukannya.

    Orang yang hatinya dipenuhi tawaduk tidak akan malu belajar dari siapa pun. Ia memetik hikmah dari anak kecil, mengambil pelajaran dari orang sederhana, bahkan membaca tanda-tanda kebesaran Allah dari seekor burung yang terbang di angkasa. Karena baginya, yang dicari bukanlah kemuliaan diri, melainkan cahaya kebenaran.

    Semakin dalam ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas lautan yang belum diselaminya. Semakin dekat ia kepada Allah, semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan kebesaran-Nya. Itulah akhlak para nabi, para ulama, dan orang-orang yang diberi cahaya ilmu.

    ﴿وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾

    “Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76) <•/309>
    WaAllahu A’lam


    ✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
    ☀️ Shobahul Khair
    📚 Mutiara Pagi

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Hadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung, Gubernur Mirza Ajak Para Alumni Untuk Berkontribusi Membentuk SDM Adaptif, Berkarakter, dan Mampu Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

    Hadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung, Gubernur Mirza Ajak Para Alumni Untuk Berkontribusi Membentuk SDM Adaptif, Berkarakter, dan Mampu Menjawab Tantangan Perubahan Zaman

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak Institut Agama Islam (IAI) Darul Fattah Lampung turut berkontribusi dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan perubahan zaman dengan berlandaskan nilai-nilai agama.

    Hal itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Wisuda ke-15 IAI Darul Fattah Lampung di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (1/8/2026). Sebanyak 191 wisudawan dan wisudawati program Sarjana (S-1) mengikuti prosesi wisuda tersebut.

    Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Gubernur Mirza mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi.

    “Keberhasilan hari ini merupakan buah dari kerja keras, doa orang tua, bimbingan para dosen, serta pertolongan Allah SWT,” ujarnya.

    Gubernur Mirza, menyampaikan bahwa dunia saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat, ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perubahan struktur dunia kerja, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks. Kondisi tersebut menuntut lahirnya SDM yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai moral.

    Ia menilai kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga diiringi perubahan perilaku masyarakat yang perlu menjadi perhatian bersama.

    “Kalau daerah ingin maju, maka yang harus dibangun terlebih dahulu adalah kualitas sumber daya manusianya. Ketika SDM baik, peradaban juga akan baik,” katanya.

    Lanjut, Gubernur Mirza mengatakan Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju melalui visi Indonesia Emas 2045. Selain didukung kekayaan sumber daya alam, Indonesia juga termasuk negara yang akan menikmati bonus demografi sehingga memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar.

    Kondisi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan karakter dan kualitas SDM melalui pendidikan, khususnya pendidikan yang memperkuat nilai-nilai keagamaan.

    “Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, budaya, dan peradaban bangsa. Karena itu, penguatan agama menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas,” ujarnya.

    Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada IAI Darul Fattah Lampung yang dinilai telah berkontribusi dalam mencetak generasi muda berlandaskan nilai-nilai Islam.

    Ia berharap 191 lulusan IAI Darul Fattah mampu berkiprah di berbagai bidang profesi, baik sebagai pendidik, ulama, aparatur, pengusaha, maupun profesi lainnya, dengan tetap menjadikan nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan.

    “Kalian mungkin akan menempuh profesi yang berbeda-beda, tetapi kalian sudah memiliki pondasi yang kuat, yaitu agama. Jadikan setiap pekerjaan, jabatan, dan aktivitas sebagai ladang amal serta mengajak masyarakat kepada kebaikan,” pesannya.

    Karena itu, ia berharap lembaga pendidikan Islam, termasuk IAI Darul Fattah, terus memperluas kontribusinya dalam membangun karakter generasi muda di Lampung.

    “Pemerintah Provinsi Lampung siap memberikan dukungan dan akses seluas-luasnya agar pendidikan berbasis nilai-nilai agama dapat menjangkau lebih banyak generasi muda,” jelasnya.

    Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam (IAI) Darul Fattah Lampung, Ahmad Hadi Setiawan, menyampaikan pada wisuda tahun akademik 2026, IAI Darul Fattah meluluskan sebanyak 191 mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah yang berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan Pendidikan Agama Islam.

    Dari 191 wisudawan ini, Lanjut Ahmad Hadi Setiawan, sebanyak 85 persen lulusan tahun ini telah terserap di dunia kerja. Capaian tersebut didukung oleh peran Career Center kampus yang melakukan proyeksi karier serta memfasilitasi penempatan mahasiswa menjelang kelulusan.

    “Hal ini menjadi salah satu keunggulan IAI Darul Fattah dibandingkan perguruan tinggi lain, karena mahasiswa telah dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sejak menjelang akhir masa studi,” jelasnya.

    Kepada para wisudawan, Hadi berpesan bahwa prosesi wisuda bukan sekadar penanda selesainya pendidikan strata satu, tetapi menjadi awal pengabdian lulusan sebagai agen perubahan, penggerak kebaikan, dan pribadi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Ia mengingatkan para lulusan untuk menjaga sanad keilmuan, memelihara silaturahmi dengan almamater, serta terus membawa keberkahan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan. (*/SMh)

  • Diikuti 1.000 Lansia, Purnama Wulan Sari Mirza Lepas Jalan Sehat Lansia di Lampung

    Diikuti 1.000 Lansia, Purnama Wulan Sari Mirza Lepas Jalan Sehat Lansia di Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, melepas sekaligus mengikuti kegiatan Jalan Sehat Lansia bertema “Tua Itu Pasti, Bahagia Itu Pilihan” di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Sabtu (1/8/2026).

    Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta lanjut usia (lansia) tersebut turut dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Lampung, Agnesia Bulan Marindo, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Lampung Meiry, perwakilan Happily Harlena, serta perwakilan Sekar Indonesia Rahma.

    Dalam sambutannya, Purnama Wulan Sari Mirza yang kerab disapa Batin Wulan mengapresiasi antusiasme para peserta yang hadir sejak pagi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ajang untuk meningkatkan semangat hidup sehat, mempererat kebersamaan, serta menghadirkan kebahagiaan bagi para lansia di Provinsi Lampung.

    “Kegiatan Jalan Sehat Lansia ini diharapkan dapat menambah semangat para lansia agar tetap sehat, aktif, panjang umur, dan bahagia,” ujarnya.

    Batin Wulan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, sehingga dapat berjalan dengan baik dan diikuti oleh ribuan peserta.

    Usai memberikan sambutan, Batin Wulan secara resmi melepas peserta Jalan Sehat Lansia sebagai tanda dimulainya kegiatan.

    Selain jalan sehat, acara juga dirangkai dengan berbagai kegiatan, seperti talkshow kesehatan, hiburan dari Moluccan Soul, serta pembagian doorprize kepada para peserta. (*/SMh)

  • Gubernur Mirza ajak HKTI Lampung turut berperan dalam memperkuat Hilirisasi dan wujudkan kesejahteraan Petani Lampung

    Gubernur Mirza ajak HKTI Lampung turut berperan dalam memperkuat Hilirisasi dan wujudkan kesejahteraan Petani Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berharap Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menjadi organisasi yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi petani sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, dan petani dalam membangun sektor pertanian di Provinsi Lampung.

    Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Pelantikan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) HKTI se-Provinsi Lampung dan Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Provinsi Lampung, yang berlangsung di Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (31/7/2026).

    Dalam kegiatan itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Abdul Kadir Karding, melantik pengurus 15 DPC HKTI Kabupaten/Kota di Lampung untuk masa bakti 2026–2031.

    Gubernur Mirza menegaskan, HKTI memiliki peran strategis dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun sektor pertanian sehingga membutuhkan organisasi yang mampu menjembatani kepentingan petani dengan dunia usaha.

    “HKTI harus hadir melalui kerja nyata yang terukur untuk menjawab kebutuhan petani. Pemerintah membutuhkan HKTI sebagai jembatan antara petani, dunia usaha, dan pemerintah agar dapat tumbuh bersama,” ujar Mirza.

    Ia mengatakan, arah pembangunan pertanian di Lampung tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong hilirisasi komoditas agar memberikan nilai tambah bagi petani. Menurutnya, potensi pertanian Lampung masih sangat besar dan perlu didukung kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

    Gubernur Mirza berharap HKTI dapat menjadi motor penggerak pengembangan hilirisasi komoditas seperti padi, jagung, dan singkong melalui penguatan kelembagaan petani, kemitraan usaha, hingga peningkatan daya saing produk.

    “Program-program unggulan HKTI ke depan akan menjadi bagian dari program prioritas Pemerintah Provinsi Lampung. Kita ingin pertanian tidak hanya menghasilkan bahan baku, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

    Selain itu, ia menilai HKTI juga harus mengambil peran dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi, modernisasi alat dan mesin pertanian, serta mendorong regenerasi petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan.

    Lanjut, Gubernur Mirza juga menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat sektor pertanian melalui berbagai program pendukung, termasuk pengembangan infrastruktur pascapanen, pembangunan fasilitas pengering (dryer), silo penyimpanan hasil panen, hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak petani.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPN HKTI Abdul Kadir Karding mengajak seluruh jajaran HKTI di Lampung memanfaatkan momentum ketika sektor pertanian menjadi prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

    Menurutnya, pemerintah saat ini tengah mempercepat berbagai program strategis, mulai dari optimalisasi lahan, pembangunan sawah baru, revitalisasi irigasi, pengembangan benih unggul, hingga modernisasi pertanian berbasis teknologi.

    “Peran HKTI akan diuji. Organisasi ini harus menjadi mitra pemerintah dalam mengawal kebijakan pertanian di lapangan demi tercapainya swasembada pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani,” ujar Abdul Kadir.

    Ia menilai Lampung memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan komoditas unggulan seperti jagung, gula, dan tapioka. Karena itu, HKTI diharapkan mampu memperkuat pemberdayaan petani, memperluas akses pasar, mengembangkan kelembagaan ekonomi petani, serta mendorong ekspor komoditas pertanian.

    Abdul Kadir juga menegaskan HKTI harus bertransformasi menjadi organisasi yang memberikan manfaat langsung bagi petani melalui advokasi kebijakan, pendampingan usaha tani, regenerasi petani, serta penguatan daya saing pertanian.

    “HKTI harus mampu menunjukkan perannya. Bendera HKTI harus berkibar untuk kesejahteraan petani, khususnya di Provinsi Lampung,” tegasnya. (*/SMh)

  • APKASI 2026 Perkuat Sinergi Pusat-Daerah, Bupati Radityo Egi Dorong Kebijakan yang Memajukan Kabupaten

    APKASI 2026 Perkuat Sinergi Pusat-Daerah, Bupati Radityo Egi Dorong Kebijakan yang Memajukan Kabupaten

    nataragung.id – Bandung – Sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi salah satu kunci percepatan pembangunan di kabupaten.

    Berangkat dari semangat itu, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menghadiri Rapat Dewan Pengurus III APKASI Tahun 2026 di Hotel Grand Sunshine Resort & Convention, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (31/7/2026).

    Forum yang diikuti jajaran Dewan Pengurus APKASI bersama para bupati dari berbagai daerah di Indonesia menjadi strategi ruang untuk memperkuat koordinasi, menyamakan langkah, serta membangun kolaborasi antarpemerintah kabupaten dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah.

    Bupati Egi mengatakan, kehadirannya dalam rapat tersebut merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk terus memperluas jejaring kerja sama sekaligus memperkuat komunikasi dengan pemerintah kabupaten lainnya demi mendorong pembangunan yang lebih berkualitas.

    “Hari ini saya mengikuti Rapat Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Tahun 2026 di Kabupaten Bandung bersama jajaran pengurus dan para bupati dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Bupati Egi.

    Menurutnya, APKASI memiliki peran penting sebagai wadah para kepala daerah dalam bertukar gagasan, pengalaman, dan pandangan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    Dalam rapat itu, sejumlah isu strategis menjadi pembahasan utama, di antaranya penguatan otonomi daerah, evaluasi program kerja APKASI, hingga kebijakan fiskal daerah yang dinilai berperan penting dalam mendukung percepatan pembangunan di tingkat kabupaten.

    “Kami membahas sejumlah isu strategi, mulai dari penguatan otonomi daerah, evaluasi program kerja APKASI, hingga kebijakan fiskal daerah agar pembangunan di kabupaten dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Egi.

    Bupati Egi berharap, hasil pembahasan yang lahir dalam forum APKASI dapat semakin memperkuat hubungan kemitraan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

    Menurutnya, kolaborasi yang solid akan menjadi kunci dalam menghadirkan kebijakan yang adaptif terhadap kebutuhan daerah sekaligus mampu mempercepat pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

    “Semoga hasil pertemuan ini dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah serta melahirkan kebijakan yang semakin mendukung kemajuan kabupaten di seluruh Indonesia,” kata Bupati Egi. (mara-kmf)

  • Hujan Tak Surutkan Semangat Warga, Bupati Radityo Egi Hadir Menguatkan Tradisi Sedekah Bumi yang Mengakar 206 Tahun

    Hujan Tak Surutkan Semangat Warga, Bupati Radityo Egi Hadir Menguatkan Tradisi Sedekah Bumi yang Mengakar 206 Tahun

    nataragung.id – Kalianda – Guyuran hujan yang sempat membasahi Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Jumat pagi (31/7/2026), tak mampu mengurangi semangat masyarakat untuk mengikuti tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan.

    Bahkan kehadiran Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang membersamai warga sejak pagi hingga seluruh rangkaian acara selesai, semakin menambah semarak perayaan tradisi adat yang telah bertahan selama 206 tahun sejak 1820.

    Meski cuaca sempat mendung disertai hujan, warga dari berbagai kalangan tetap memadati lokasi kegiatan. Setelah hujan reda dan matahari kembali bersinar, antusiasme masyarakat justru semakin terasa. Mereka mengikuti setiap proses sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan hasil bumi sekaligus bentuk kecintaan terhadap tradisi warisan leluhur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

    Suasana semakin hangat ketika Bupati Radityo Egi Pratama tiba di lokasi. Orang nomor satu di Kabupaten Lampung Selatan itu disambut penuh keakraban oleh masyarakat yang sejak pagi bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.

    Kehadiran Bupati Egi dinilai menjadi bentuk perhatian sekaligus dukungan nyata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terhadap pelestarian budaya lokal.

    Bagi masyarakat Desa Sumur Kumbang, momentum tersebut memiliki makna tersendiri. Selain menjadi tradisi tahunan yang penuh dengan nilai religius dan kebersamaan, kehadiran kepala daerah memberikan semangat baru untuk terus menjaga budaya yang telah diwariskan selama lebih dari dua abad.

    Kepala Desa Sumur Kumbang, Armad, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Lampung Selatan beserta jajaran dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi yang menjadi identitas desa.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Lampung Selatan beserta seluruh jajaran. Kegiatan ini bukan sekedar seremonial, tetapi merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga. Bagi kami, Sedekah Bumi adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat rezeki, hasil panen, dan kesehatan yang telah diberikan,” ujar Armad.

    Rasa syukur dan kebahagiaan juga dirasakan warga. Salah seorang masyarakat, Nur Astuti, mengaku terharu karena untuk pertama kalinya tradisi Sedekah Bumi di Desa Sumur Kumbang dihadiri langsung oleh Bupati Lampung Selatan.

    “Alhamdulillah tahun ini Pak Bupati hadir. Kami sangat berterima kasih karena Pak Bupati telah memberikan dukungan dan semangat kepada masyarakat untuk terus melestarikan tradisi Sedekah Bumi ini,” kata Nur Astuti.

    Menurut Nur Astuti, tradisi Sedekah Bumi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Muharam bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas hasil panen, kesehatan, dan rezeki yang diterima. Oleh karena itu, tradisi tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga Desa Sumur Kumbang.

    Hal senada disampaikan salah seorang pemuda desa, Agus. Ia menilai kehadiran Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menjadi dorongan moral bagi generasi muda untuk terus menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.

    “Kami senang dan bangga karena Pak Bupati bisa hadir langsung di tengah masyarakat. Kehadirannya menjadi motivasi bagi kami sebagai generasi muda untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak hilang dan tetap dikenal oleh anak cucu nanti,” ujar Agus.

    Masyarakat berharap perhatian dan dukungan Pemkab Lampung Selatan terhadap pelestarian budaya lokal dapat terus berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, tradisi Sedekah Bumi di Desa Sumur Kumbang diharapkan tetap lestari serta menjadi kebanggaan daerah yang terus diwariskan kepada generasi mendatang. (mara-kmf)

  • DPRD Lampung Perkuat Pengawasan Tata Kelola Pendidikan, Dorong Layanan Sekolah Semakin Berkualitas

    DPRD Lampung Perkuat Pengawasan Tata Kelola Pendidikan, Dorong Layanan Sekolah Semakin Berkualitas

    nataragung.id – Bandar Lampung – DPRD Provinsi Lampung terus memperkuat pelaksanaan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan pendidikan guna memastikan setiap kebijakan pemerintah daerah berjalan sesuai ketentuan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui fungsi pengawasan tersebut, DPRD mendorong terwujudnya tata kelola pendidikan yang profesional, akuntabel, serta berorientasi pada peningkatan mutu layanan pendidikan di seluruh Provinsi Lampung.

    Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan tersebut, DPRD Provinsi Lampung terus mendorong percepatan penyelesaian berbagai agenda strategis di sektor pendidikan, termasuk penguatan kepemimpinan pada satuan pendidikan negeri. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung efektivitas penyelenggaraan pendidikan serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta didik dan masyarakat.

    Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Budhi Condrowati, S.E., menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, Komisi V mencermati proses penetapan kepala sekolah definitif yang saat ini masih berlangsung di Provinsi Lampung. Menurut Condrowati, masih terdapat 116 SMA, SMK, dan SLB negeri yang dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah, sehingga DPRD mendorong agar proses penetapan kepala sekolah definitif dapat segera diselesaikan sesuai mekanisme yang berlaku. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat tata kelola pendidikan, menghadirkan kepastian kepemimpinan di setiap satuan pendidikan, serta mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan Sabtu (1/8/2026).

    Condrowati menegaskan bahwa proses penetapan kepala sekolah definitif perlu mengedepankan kompetensi, integritas, rekam jejak, dan profesionalisme sehingga mampu menghasilkan pemimpin sekolah yang memiliki visi, inovasi, serta kapasitas untuk meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Lampung.

    “Kami berharap proses penetapan kepala sekolah definitif dapat segera diselesaikan. Lampung memiliki banyak guru yang memenuhi kualifikasi untuk memimpin sekolah, sehingga proses seleksi yang objektif akan menghasilkan kepala sekolah yang mampu membawa kemajuan bagi satuan pendidikan,” ujar Condrowati.

    DPRD Provinsi Lampung menegaskan akan terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai bagian dari upaya memastikan setiap kebijakan di sektor pendidikan dilaksanakan secara optimal.

    Penguatan pengawasan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan tata kelola sekolah, memperkuat kualitas layanan pendidikan, serta memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh peserta didik, tenaga pendidik, dan masyarakat di Provinsi Lampung. (*/SMh)

  • Tradisi Sedekah Bumi Berusia 206 Tahun Tetap Lestari, Bupati Radityo Egi Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Leluhur

    Tradisi Sedekah Bumi Berusia 206 Tahun Tetap Lestari, Bupati Radityo Egi Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Leluhur

    nataragung.id – Kalianda – Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, kembali digelar dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, Jumat (31/7/2026).

    Tradisi adat yang telah diwariskan selama 206 tahun sejak 1820 itu kembali menjadi ruang syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus perkembangan zaman.

    Mengusung tema “Hamparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa” , perayaan tahun ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang hadir langsung membersamai ratusan warga mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sejak pagi.

    Kehadiran Bupati Egi disambut hangat melalui prosesi adat berupa pengalungan sarung dan pemasangan peci oleh tokoh adat sebagai simbol penghormatan kepada pemimpin daerah sekaligus bentuk penghargaan terhadap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan Merik Havit, unsur Forkopimda, jajaran kepala perangkat daerah, Camat Kalianda, Kepala Desa Sumur Kumbang, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga setempat.

    Meski hujan sempat mengguyur kawasan kegiatan, antusiasme masyarakat tidak surut. Warga tetap memenuhi jalur penyambutan dan mengikuti seluruh proses dengan penuh semangat sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah sekaligus komitmen menjaga tradisi leluhur.

    Sejak pagi, masyarakat bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari menyiapkan hidangan, penyembelihan hewan, hingga menata lokasi acara.

    Semangat kebersamaan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Sedekah Bumi yang terus dilestarikan hingga kini.

    Rangkaian acara diawali dengan Pembagian air berkah yang diambil dari beberapa mata air atau sumur keramat di Desa Sumur Kumbang. Air yang sebelumnya didoakan oleh tokoh agama dan sesepuh adat itu menjadi simbol permohonan keberkahan, keselamatan, dan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Prosesi kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan Jembul, yakni hiasan yang diisi berbagai hasil bumi dan komoditas pertanian sebagai lambang rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan. Di tengah guyuran hujan, arak-arakan tetap berlangsung meriah dan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang hadir.

    Puncak kemeriahan terjadi saat tradisi perebutan isi Jembul dimulai. Ratusan warga berbaur penuh kegembiraan memperebutkan hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan, kemakmuran, dan harapan akan panen yang lebih baik pada musim berikutnya.

    Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama yang semakin mempererat hubungan kekeluargaan antara masyarakat, tokoh adat, serta Pemkab Lampung Selatan.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, serta semangat kebersamaan yang harus terus dijaga.

    “Acara seperti ini menunjukkan filosofi yang kuat dan menjadi identitas masyarakat kita. Saya ingin tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi kebanggaan generasi muda, sehingga mereka semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri,” ujar Bupati Egi.

    Menurut Egi, kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri. Karena itu, pelestarian tradisi lokal harus terus diperkuat agar tetap hidup di tengah derasnya pengaruh budaya luar.

    Pemkab Lampung Selatan, lanjut Egi, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai tradisi masyarakat sebagai bagian dari upaya melestarikan identitas budaya daerah.

    Bahkan ke depan, Sedekah Bumi Sumur Kumbang diharapkan berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar sehingga mampu memperkenalkan kekayaan budaya Lampung Selatan kepada masyarakat yang lebih luas.

    Tradisi seperti ini harus terus kita rawat dan kita jaga. Tidak banyak daerah yang masih memiliki budaya dan adat istiadat seperti ini. Mari Bersama-sama melestarikannya agar tidak lekang dimakan waktu,” kata Egi.

    Melalui penyelenggaraan Sedekah Bumi yang telah memasuki usia lebih dari dua abad ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan bersama menunjukkan kepada masyarakat bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga mewariskan identitas daerah kepada generasi masa depan. (mara-kmf)