nataragung.id – Pemanggilan – Dalam Al-Qur’an surah An-Naml: 22 Allah SWT berfirman:
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍۭ بِنَبَإٍ يَقِينٍۢ
“Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita yang meyakinkan.’” (QS. An-Naml: 22)
Betapa agung kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Angin tunduk kepada perintahnya. Jin, manusia, dan burung berhimpun dalam barisan tentaranya. Kekuasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya hampir tidak pernah diberikan kepada seorang pun selain beliau.
Namun, di tengah keluasan kerajaan itu, Allah mengajarkan sebuah pelajaran yang tak lekang oleh zaman: seluas apa pun ilmu seorang manusia, tetap ada pengetahuan yang belum ia miliki.
Seekor burung Hud-hud datang membawa kabar yang belum diketahui oleh seorang nabi sekaligus raja. Bukan karena kedudukan Hud-hud lebih tinggi, melainkan agar seluruh manusia memahami bahwa ilmu adalah milik Allah semata. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, kapan pun Dia kehendaki, dan melalui siapa pun yang Dia kehendaki.
Betapa sering manusia merasa telah mengetahui segala sesuatu hanya karena sedikit pengalaman, beberapa lembar buku, atau sepotong jabatan yang disandangnya. Padahal, di balik langit yang ia pandang setiap hari masih terbentang samudra ilmu yang belum pernah disentuh oleh pikirannya.
Allah sengaja menjadikan seekor burung sebagai pembawa berita, agar runtuh kesombongan orang-orang yang mengukur kebenaran berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Sebab hikmah tidak selalu datang dari tempat yang kita sangka, dan nasihat tidak selalu lahir dari lisan orang yang lebih tinggi kedudukannya.
Orang yang hatinya dipenuhi tawaduk tidak akan malu belajar dari siapa pun. Ia memetik hikmah dari anak kecil, mengambil pelajaran dari orang sederhana, bahkan membaca tanda-tanda kebesaran Allah dari seekor burung yang terbang di angkasa. Karena baginya, yang dicari bukanlah kemuliaan diri, melainkan cahaya kebenaran.
Semakin dalam ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa luas lautan yang belum diselaminya. Semakin dekat ia kepada Allah, semakin kecil ia memandang dirinya di hadapan kebesaran-Nya. Itulah akhlak para nabi, para ulama, dan orang-orang yang diberi cahaya ilmu.
﴿وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan di atas setiap orang yang berilmu masih ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76) <•/309>
WaAllahu A’lam
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.









