MUTIARA PAGI : Dua Pilar Makanan : Halal dan Tidak Berlebih. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Dalam Islam, makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan jalan menuju keberkahan hidup. Karena itu Allah menetapkan dua landasan pokok dalam mengkonsumsi makanan: halalan thayyiban (halal lagi baik) dan wala tusrifu (jangan berlebih-lebihan).

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

> يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Rahasia adalah Keselamatan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Halal menunjukkan izin syariat, thayyib menunjukkan kemaslahatan dan kebersihan, baik dari sisi zat maupun cara mendapatkannya. Maka makanan yang halal namun tidak baik bagi tubuh, atau baik namun diperoleh dengan cara haram, belum sempurna menjadi bekal hidup yang diridhai Allah.

Namun Islam juga menegaskan, sekalipun makanan itu halal dan thayyib, janganlah berlebihan. Allah Subḥanahu wata’ala mengingatkan:

Baca Juga :  RAMADHAN MUBARAK (16) : Menghindari Sia-Sia di Bulan Mulia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

> وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)

Berlebihan dalam makan tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga menutup pintu keberkahan, menumpulkan hati, dan menjerumuskan pada sifat rakus yang dicela agama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri bersabda:

> مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

“Tidaklah seorang anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya…”
(HR. Tirmidzi)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Krisis sebagai Alat Pemilah Iman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka keseimbangan adalah kunci. Halal menjadi pagar, thayyib menjadi kualitas, dan tidak berlebih-lebihan menjadi penjaga kesehatan jasmani dan rohani. (66).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini