nataragung.id – Natar – Ada sebuah pelajaran besar dari kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalām.
Ketika beliau masih kecil dan bermimpi tentang kemuliaan masa depannya, sang ayah—Nabi Ya‘qub ‘alaihissalām—menasihatinya dengan penuh kasih:
{ قَالَ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ }
“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan membuat tipu daya terhadapmu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yūsuf: 5)
Pesan ini bukan sekadar kisah, tapi peringatan bagi setiap hati.
Tidak semua hal yang kita alami patut disampaikan kepada orang lain. Bahkan kepada saudara terdekat sekalipun, ada perkara yang sebaiknya disimpan dalam dada.
Sebab, tidak semua telinga tulus mendengar, tidak semua hati lapang menerima, dan tidak semua jiwa senang melihat kebahagiaan orang lain.
Dengki bisa tumbuh dari tempat yang tidak kita duga. Bahkan setan selalu berusaha menyalakan api iri hati dalam dada manusia.
Karena itu, diam kadang lebih bijak daripada bicara.
Menyimpan rahasia diri, menjaga rencana, dan menutup rapat hal-hal pribadi adalah bentuk kehati-hatian yang mendatangkan keselamatan.
“Berhati-hatilah engkau menceritakan urusan pribadimu, sekalipun kepada teman akrabmu, bahkan saudaramu. Sebagian diam dan rahasia adalah keselamatan.” (74).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

