nataragung.id – Pemanggilan – Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, memberikan kritik, masukan, dan nasihat kepada pemimpin bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan dalam banyak keadaan, hal itu menjadi kewajiban moral dan agama selama dilakukan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar, dan adab yang mulia.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi orang yang apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Sebaliknya, Islam memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar serta saling menasihati dalam kebenaran. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa tujuan kritik adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi; membangun, bukan meruntuhkan; mengobati, bukan melukai.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.”
Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa menasihati pemimpin merupakan bagian dari agama. Karena itu, kritik yang bertujuan memperbaiki keadaan dan mengingatkan dari kesalahan adalah sesuatu yang dibenarkan bahkan dianjurkan.
Lebih dari itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits ini menjadi dalil bahwa menyampaikan kebenaran kepada penguasa merupakan amal yang sangat mulia. Akan tetapi, yang dimaksud adalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, keberanian, dan adab, bukan dengan caci maki, fitnah, atau ujaran kebencian.
Karena itu, Islam membedakan antara nasihat dan cacian. Nasihat lahir dari kasih sayang dan keinginan untuk memperbaiki, sedangkan cacian lahir dari kebencian dan keinginan untuk menjatuhkan.
Allah Ta’ala memberikan pelajaran yang sangat agung ketika mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Fir’aun, seorang penguasa yang paling sombong dan zalim pada zamannya. Allah berfirman:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut (kepada Allah).” (QS. Thaha: 44)
Perhatikanlah. Fir’aun adalah orang yang mengaku sebagai tuhan, menindas rakyat, dan membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa. Namun Allah tetap memerintahkan Nabi Musa untuk berbicara dengan lemah lembut, bukan dengan kata-kata kasar dan penghinaan.
Jika kepada Fir’aun saja Allah memerintahkan kelembutan dalam berdakwah, maka kepada pemimpin muslim tentu lebih layak lagi untuk disampaikan dengan adab, santun, dan penuh hikmah.
Allah juga berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menghindari sikap nyinyir, mencela, memaki, menghina, dan menyebarkan kebencian atas nama kritik. Sebab kata-kata kasar sering kali menutup pintu perbaikan dan justru menimbulkan permusuhan.
Kritik yang baik adalah kritik yang disertai data, solusi, dan doa. Kritik yang benar adalah kritik yang bertujuan memperbaiki keadaan, bukan mencari popularitas atau memperkeruh suasana. Dan nasihat yang paling berpengaruh adalah nasihat yang disampaikan dengan ketulusan, kelembutan, serta adab yang tinggi.
Maka, kritiklah jika memang perlu. Nasihatilah jika memang ada yang harus diperbaiki. Tetapi lakukanlah dengan hikmah, kelembutan, dan akhlak yang mulia. Sebab tujuan seorang mukmin bukan memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan perbaikan. (*/261)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

