nataragung.id – Yogyakarta – Perdebatan soal film Pesta Babi terus berkembang. Bahkan, santer diberitakan tokoh dalam film itu melaporkan ke polisi dengan alasan tak tak meminta izin menayangkan rekamannya.
Pakde Kliwon tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya sampai melengkung ke bawah. Air matanya deras mengalir. Suara tawa hilang, tetapi disusul dengan batuk sambung menyambung.
Yuk Nah menyodorkan segelas air putih. Pakde Kliwon tangannya bergetar menerima gelas itu. Sepertinya bukan karena efek dari tertawa berlebihan dan batuk berkepanjangan. Tak perlu analisis mendalam itu pasti karena luka batin masa lalu.
“Apa yang membuatmu jadi geli begitu,” tanya Yuk Nah terdengar sabar. Beruntung siang itu, Yuk Nah baru dapat rezeki nomplok, sehingga dadanya begitu lapang menghadapi aktivis gaek ini.
“Itu lo, soal pemain film yang melaporkan video yang memuat dirinya,” ujar Pakde Kliwon.
Menurut Kliwon, tak perlu menyalahkannya. Bagi mereka yang pernah hidup pada masa Orde Baru paham ini, perubahan sikapnya tentu karena ada operasi rahasia. Enggak mungkin seorang aktivis militan bisa langsung balik kanan tanpa aba-aba.
Yuk Nah manggut-manggut. Ia memang selalu kagum dengan Pakde Kliwon, gagasan-gagasannya selalu out of the box. Dan sering kali melampaui pemikiran pada zamannya.
Yun Nah bilang enggak perlu heran dengan yang menggoreng film Pesta Babi dengan mempertanyakan sumber dananya dari asing, antek asing, data tidak valid, dan hanya sepihak.
“Itu sudah biasa kita kunyah sejak dulu,” ujarnya.
“Betul-betul-betul,” kata Pakde Kliwon.
Tentu saja jawaban itu membuat Yuk Nah tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak tua bangka itu malah menirukan suara film anak-anak dari Malaysia.
“Mama tentu sedang berjuang dengan caranya sendiri dalam menghadapi tekanan” lanjut Pakde Kliwon.
Setiap orang yang pernah bergerak, apalagi sampai menumbangkan Orde Baru tentu saja sangat paham dengan situasi yang dihadapi Mama. Mereka yang mempersoalkannya, pasti karena enggak paham mengenai sebuah perlawanan berdarah.
Kalau sudah mendengarkan dua sahabatnya itu berdiskusi, saya benar-benar mendidih darahnya. Terlebih saat mengingat majalah mahasiswa tempatmu mengembangkan karya jurnalistik dibredel karena memuat laporan mengenai penguasa Orde Baru.
“Mereka berdua itu sungguh menjadi perawat kewarasan, dan penjaga semangat perjuangan, darah juang yang tak kan pernah mengering,” bisikku dalam hati.
Saya khawatir kalau diucapkan keras-keras membuat mereka menjadi besar kepala. (*/44)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

