BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 4: Bahasa Tersembunyi, Ukiran, Bentuk, dan Cara Membawanya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah sessat (rumah adat) tua di pedalaman Lampung, seorang penyimbang (tetua adat) dengan cermat mengamati badik yang diserahkan oleh seorang pemuda. Bukan tajamnya bilah yang ia nilai pertama kali, melainkan lekukan pada gagangnya, ikatan pada sarungnya, dan cara sang pemuda menyandangnya. Setiap detail itu adalah sebuah kalimat; sebuah pernyataan tentang jati diri, status, dan niat sang pemilik. Badik bukan lagi sekadar benda mati, melainkan sebuah naskah berjalan yang penuh dengan kode dan simbol.

Esai ini akan mengurai ‘bahasa’ rahasia yang terpahat pada badik, menjelajahi makna di balik setiap ukiran, bentuk, dan tata cara membawanya yang sarat dengan pesan filosofis dan spiritual masyarakat adat Lampung.

Sejarah kepemilikan dan bentuk badik sering kali terikat erat dengan legenda pendirian suatu marga. Setiap marga besar, seperti Pubian, Pugung, atau Sungkay, memiliki ciri khas tertentu yang diwariskan turun-temurun, menjadi semacam tanda tangan keluarga.

Sebuah legenda dari Marga Sungkay bercerita tentang seorang pemimpin bijaksana yang kehilangan putra tercintanya. Dalam duka yang mendalam, ia menemukan sebatang kayu langka yang bentuknya menyerupai hati yang terbelah. Dari kayu itulah ia membuat gagang badiknya, dan mengukirkan jejak kaki burung seriwang (sejenis elang) sebagai simbol bahwa jiwa putranya telah terbang ke alam keabadian. Sejak saat itu, motif ‘jejak seriwang’ menjadi ciri khas badik dari Marga Sungkay, melambangkan ketabahan dalam menghadapi duka dan keyakinan akan kehidupan setelah kematian.

Silsilah keluarga juga tercatat secara simbolis. Sebuah badik pusaka (badik tuha) milik Marga Pugung misalnya, memiliki gagang berlapis perak dengan tiga cincin. Sebuah dokumen kuno keluarga yang tersimpan rapi mencatat maknanya: “Tiga gelang pengikat, yang pertama pengingat asal, yang kedua penanda tempat berpijak, yang ketiga janji untuk yang akan datang.”

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Buku 3: "Tepuk Tangan Bukan Sekadar Irama" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap catatan ini menunjukkan bahwa setiap cincin melambangkan generasi. Cincin pertama adalah leluhur (puyang), cincin kedua adalah generasi sekarang (anak), dan cincin ketiga adalah generasi penerus (cucu). Dengan memegang badik itu, seorang penyimbang memegang janji untuk menghormati leluhur, memimpin generasinya dengan adil, dan memastikan kelangsungan marga di masa depan.

Setiap elemen pada badik adalah sebuah kata dalam kosakata budaya Lampung.
1. Bilah (Awak): Bentuk bilah yang tidak simetris dan sering kali memiliki lekukan (lekuk luk) bukanlah tanpa alasan. Filosofi luk ini menggambarkan prinsip hidup yang tidak kaku, lentur dalam menghadapi tantangan, tetapi tetap memiliki tujuan yang jelas dan tajam. Sebagaimana air yang mengalir menghindari batu, manusia harus bijaksana dan adaptif. Sebuah petuah adat dalam Kuntara Raja Niti menyebutkan, “Ngemani jak luib mupli, patut jak lunjuk lampah” yang artinya “Hidup itu berliku-liku, tetapi jalannya harus lurus”. Analisis terhadap kutipan ini sangat mendalam. ‘Berliku’ (luib mupli) merujuk pada kebijaksanaan, diplomasi, dan keluwesan dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan ‘lurus’ (lunjuk) merujuk pada keteguhan prinsip, kejujuran, dan niat yang tidak menyimpang dari kebenaran adat. Bentuk bilah badik adalah manifestasi fisik dari falsafah ini.
2. Gagang (Hulu): Ukiran pada gagang adalah bahasa simbol yang paling kaya. Motif pucuk rebung (tunas bambu) tidak hanya berarti pertumbuhan, tetapi juga kesatuan dan kekuatan komunitas, karena rebung selalu tumbuh dalam rumpun yang kuat. Motif buah betung (buah bambu) yang jarang ditemui melambangkan kemakmuran dan keberkahan yang langka. Ukiran burung garuda melambangkan pi’il pesenggiri (harga diri) dan visi yang tinggi, sementara ukiran gajah melambangkan keteguhan dan kewibawaan seorang penyimbang. Pemilihan motif ini tidak sembarangan dan menyesuaikan dengan peran dan karakter pemiliknya.
3. Sarung (Warangka) dan Pendongkok (Bendo): Cara badik diikatkan pada sarungnya juga memiliki makna. Ikatan yang longgar dan sederhana mungkin menandakan sang pemilik sedang dalam perjalanan biasa. Namun, ikatan yang rumit dan kuat, menggunakan tali perak atau benang merah, sering kali menandakan bahwa sang pemilik sedang melaksanakan tugas adat atau dalam situasi sakau sambayan (penyelesaian sengketa), di mana badik harus benar-benar aman dan hanya akan digunakan sebagai simbol sumpah, bukan untuk dihunus.

Baca Juga :  Perempuan dalam Adat. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cara seseorang membawa badik mencerminkan pemahamannya terhadap adat dan tingkat kedewasaannya. Ini adalah bahasa nonverbal yang dipahami oleh seluruh komunitas.
* Diselipkan di Pinggang (Sebelah Depan): Ini adalah cara paling umum bagi laki-laki dewasa. Posisinya yang terlihat menandakan kesiapsiagaan dan tanggung jawab untuk melindungi diri dan keluarganya. Namun, posisi gagang yang menghadap ke mana, apakah ke kiri atau kanan, dapat memiliki makna tertentu dalam beberapa komunitas, sering kali terkait dengan kemudahan untuk menghunusnya sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang dengan niat baik.
* Disampirkan di Pundak: Membawa badik dengan disampirkan di pundak, dengan sarung terlihat jelas, sering kali dilakukan oleh para tetua adat atau mereka yang sedang dalam perjalanan adat yang panjang. Ini melambangkan bahwa beban adat dan tanggung jawab untuk menjaga hukum sedang dipikulnya.
* Ditenteng atau Disimpan dalam Tas: Badik yang tidak disandang pada tubuh, tetapi dibawa dengan tangan atau disimpan, menandakan bahwa sang pemilik sedang ‘lengah’ atau dalam suasana non-formal. Namun, bahkan dalam kondisi ditenteng, badik tidak pernah diayun-ayunkan sembarangan. Itu akan dibawa dengan tenang dan penuh hormat, mencerminkan sikap muakhi (rendah hati) pemiliknya.

Yang paling penting adalah, badik yang masih tersarung rapat adalah simbol perdamaian. Menyentuh gagang badik orang lain tanpa izin adalah pelanggaran berat, sama halnya dengan memasuki rumah tanpa permisi. Menghunusnya tanpa alasan yang sah menurut adat adalah puncak dari pelanggaran pi’il pesenggiri, sebuah deklarasi perang terhadap tatanan sosial. Bahasa badik adalah bahasa yang halus tetapi penuh dengan peringatan dan hierarki yang harus dipatuhi.

Baca Juga :  Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun Seri 3: Pembagian Lampung Pubian : Pubian, 2 Suku, 3 Suku, dan Bukuk Jadi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam gemerlap dunia modern, bahasa simbolik badik menghadapi tantangan besar. Namun, upaya para budayawan dan tetua adat untuk mendokumentasikan dan meneruskan pengetahuan ini adalah upaya untuk menyelamatkan sebuah alfabet budaya dari kepunahan.
Memahami ‘bahasa tersembunyi’ badik adalah kunci untuk memahami jiwa masyarakat Lampung. Itu adalah bahasa yang berbicara tentang keluwesan tanpa kelemahan, kekuatan tanpa kesombongan, dan harga diri yang diwujudkan dalam tindakan santun bukan dalam provokasi.

Setiap ukiran adalah sebuah doa, setiap bentuk adalah sebuah prinsip, dan setiap cara membawanya adalah sebuah pernyataan. Badik tetap menjadi pelindung harkat dan harga diri, bukan karena ketajaman bilahnya, tetapi karena kedalaman makna yang terkandung dalam setiap sentuhan logam dan ukiran kayunya, sebuah warisan abadi yang bisikannya masih dapat didengar oleh mereka yang mau mendengarkan.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Buku: Kitab Kuntara Raja Niti (Naskah dan Terjemahan). (2010). Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung Press. (Buku fisik tersedia di perpustakaan).
2. Buku: Hilman, D. (2019). Senjata Tradisional Lampung: Makna dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak. (Buku fisik tersedia di toko buku online terverifikasi).
3. Jurnal Ilmiah: Anggraini, T. (2021). “Ornamen pada Badik Lampung: Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Simbolik”. Jurnal Kajian Seni, 8(1), 77-90. (Tersedia secara digital di portal jurnal terakreditasi SINTA).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini