nataragung.id – Bandar Lampung – RRI Pro 4 Bandar Lampung berencana akan mengundang dua orang nara sumber untuk berbicara di Obrolan Dawah Khani pada Selasa 7 Oktober 2025. Kedua Nara sumber tersebut adalah Ir. Mohammad Medani Bahagianda dan H. SyahidanMh, SAg.
Menurut Ir. Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, kehadiran dirinya dalam obrolan Dawah Khani dalam rangka mengupas dua buah buku terkait dengan adat budaya Lampung yaitu buku Sejarah dan Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi serta buku yang berjudul Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk. “Kedua buku itu yang akan kami obrolkan di acara tersebut,” ucap Medani yang merupakan penulis kedua buku itu.

Lebih lanjut di jelaskannya, buku yang akan menjadi bahan obrolan itu merupakan tulisan-tulisan yang pernah dipublikasikan dirinya di media daring nataragung.id beberapa waktu lalu. Setelah kedua tulisan tersebut terpublikasi, ada beberapa tokoh adat dari Marga Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk yang menghubungi dirinya dan menyarankan agar tulisan tersebut dapat dibuatkan buku agar bisa menjadi catatan sejarah bagi anak cucu dikemudian hari.
“Setelah kami pertimbangkan secara matang, akhirnya masukan yang ada, kami coba wujudkan dengan berencana mencetak dua buku itu,” ujarnya.
Medani juga mengatakan Obrolan Dawah Khani akan disiarkan secara live pada Selasa 7 Oktober 2025 pukul 10.00 – 11.00 WIB dengan Host Naomy Dwi Saraswati melalui Pro 4 RRI Bandar Lampung.
Pada bagian lain, H. SyahidanMh, SAg., yang bertindak sebagai penyusun sekaligus penyunting kedua buku itu mengatakan saat ini buku sedang di koreksi oleh para tokoh adat Marga Pubian Bukuk Jadi yang tersebar pada 14 tiyuh adat, baik di Kabupaten Lampung Selatan maupun di Pesawaran. “Marga Pubian Bukuk Jadi ini, ada 5 tiyuh di Kabupaten Pesawaran dan ada 9 tiyuh di Kabupaten Lampung Selatan,” tandas SyahidanMh yang juga merupakan pemimpin redaksi nataragung.id
Lebih jauh Syahidan menegaskan bahwa selain buku sedang dikoreksi oleh para tokoh adat, belum dicetaknya buku itu karena menunggu konfirmasi dari Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama untuk memberikan kata pengantar.
“Kami sudah dua kali mengajukan surat permohonan audiensi kepada bupati yaitu surat pertama dikirim pada tanggal 27 Juli dan surat kedua pada tanggal 9 September, namun karena kesibukan bupati hingga saat ini kami belum diberi kesempatan untuk beraudiensi.”
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami bisa diberi waktu untuk beraudiensi untuk meminta kesediaan beliau memberikan kata pengantar di buku yang akan dicetak,” ucap Syahidan penuh harap.
Ia juga menerangkan menurut rencana buku itu akan dibagikan secara gratis kepada tokoh-tokoh adat pada 14 tiyuh yang ada. “Kita menyadari jika sejarah yang ada tidak ditulis dalam buku, bisa saja 20 atau 50 tahun kedepan, anak cucu kita akan lupa dengan asal usulnya,” pungkas Syahidan. (mara).

