nataragung.id – Bandar Lampung – Bumi Rua Jurai, tanah nenek moyang orang Lampung, konon dihuni oleh roh-roh luhur yang mengajarkan “Pepadun Muakhi”, jalan hidup yang benar. Dari sanalah, menurut kitab Kuntara Raja Niti, terpancar lima prinsip dasar yang menjadi tiang kehidupan: Piil Pesenggiri (harga diri), Nemui Nyimah (ramah tamah), Nengah Nyappur (bersosialisasi), Sakai Sambayan (gotong royong), dan Bejuluk Buadok (menjaga nama baik).
Prinsip pertama dan paling mendasar, Piil Pesenggiri, menjadi jiwa yang menggerakkan seluruh tarian adat istiadat. Ia bagai Siger, mahkota emas yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang dalam, menjadi penuntun harga diri yang bijaksana bagi setiap pemakainya.
Desa Wana Kerta, yang terletak di tepi Way Sekampung, diselimuti kabut pagi yang lembut. Sinta, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, duduk termenung di beranda rumah panggung kayunya. Di tangannya, tergenggam selembar surat penerimaan dari sebuah universitas ternama di Bandung. Seharusnya ini adalah kabar gembira, puncak dari segala usahanya belajar hingga larut malam. Namun, di hatinya, justru bergolak badai keraguan.
Matanya tertuju pada Siger, mahkota emas berujung sembilan yang tersimpan rapi dalam peti kaca. Siger itu adalah pusaka keluarga, warisan dari sang nenek, Da Inah. Siger bukan sekadar perhiasan; ia adalah simbol. Setiap lekukannya berbicara tentang sejarah, setiap ornamennya menyimpan kearifan. Sembilan puncaknya melambangkan sembilan marga asli Lampung, menyatu dalam satu mahkota yang kokoh.
“Sekolah tinggi-tinggi itu bagus, Nduk,” bisik Da Inah suatu sore, seolah membaca kegelisahan cucunya. Suaranya parau namun penuh wibawa. “Tapi ingat, di mana pun kau melangkah, jangan sampai kau lupa pada Piil Pesenggiri. Jaga harga dirimu, jaga nama baik keluarga kita, Da Inah.”
Sinta menghela napas. Baginya selama ini, Piil Pesenggiri terasa seperti rantai yang membelenggu. Segala aturan, segala larangan, segala tata krama yang harus dipatuhi. Ia merasa haknya untuk bereksplorasi, untuk mencoba hal baru, dibatasi oleh konsep “harga diri” yang kadang terasa kaku. Apakah dengan pergi ke kota, mengejar ilmu pengetahuan yang lebih luas, berarti ia telah mengkhianati Piil Pesenggiri?
Kegelisahan Sinta membawanya pada sebuah naskah kuno yang disimpan ayahnya, salinan dari Kitab Kuntara Raja Niti. Ia membuka lembaran-lembaran yang rapuh, matanya menyusuri tulisan dalam aksara Lampung dan terjemahannya.
“Adapun Piil Pesenggiri itu, ia adalah cahaya dalam diri. Bukan untuk menyombong, tetapi untuk menerangi langkah agar tidak tersesat dalam gelap. Barang siapa memegangnya, ia akan dijauhi cela dan ditinggikan derajatnya oleh sesama.”
Kutipan itu menyentak hatinya. Piil Pesenggiri bukanlah tentang “tidak boleh pergi”, melainkan tentang “bagaimana caranya pergi”. Ia adalah kompas moral, bukan penjara fisik. Analisis Sinta mulai bergeser. Mungkin, Piil Pesenggiri justru akan menjadi tamengnya di kota besar, mengingatkannya untuk selalu bersikap jujur, rendah hati, dan tidak terjerumus dalam pergaulan yang bisa mencoreng nama keluarga.
Ia menemukan penjelasan lebih lanjut tentang silsilah dan asal-usul marga.
Naskah itu menceritakan legenda Si Jimat, seorang pemuda dari marga Sai Batin yang karena ketekunan dan integritasnya dalam berdagang lada, dianugerahi gelar “Sutan” oleh penguasa setempat. Gelar itu bukan sekadar panggilan, melainkan pengakuan atas Piil Pesenggiri-nya yang terjaga, yang membuatnya dihormati kawan dan lawan. Dari cerita inilah, marga mereka, Pubian, mewarisi nilai-nilai kejujuran dan ketekunan dalam setiap usaha.
Suatu malam, dihelat sebuah acara adat penyambutan tamu penting. Sinta, yang terampil menari, ditunjuk untuk membawakan Tari Melinting, sebuah tarian klasik yang sarat makna. Saat ia mengenakan Siger dan busana adat lengkap, ia merasakan sebuah transformasi. Ia bukan lagi Sinta si remaja yang galau, tetapi menjadi perwakilan dari adat dan marwah keluarganya.
Setiap gerakan tari memiliki filosofinya sendiri. Kaki yang melangkah tegak dan mantap melambangkan keteguhan prinsip (Piil Pesenggiri). Tangan yang bergerak gemulai dan mata yang berpandangan teduh mencerminkan keramah-tamahan (Nemui Nyimah). Seluruh penarinya bergerak dalam komposisi yang harmonis, mencerminkan semangat kebersamaan (Sakai Sambayan).
Di tengah tarian, di bawah cahaya remang bulan, Sinta merasakan sebuah pencerahan. Piil Pesenggiri bukanlah beban yang harus ia pikul, melainkan kekuatan yang membuatnya berdiri tegak dan bermartabat. Ia menyadari bahwa tradisi bukanlah musuh kemajuan. Justru, dalam dunia yang semakin kompleks, fondasi etika yang kokoh dari Piil Pesenggiri-lah yang akan membimbingnya mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup.
Setelah tarian usai, seorang tetua adat, Pak Rio, menghampirinya. “Tarianmu sangat menghayati, Nak,” pujinya. “Kau telah menunjukkan Piil Pesenggiri kita. Bukan dengan sok gagah, tapi dengan ketulusan dan penguasaan diri. Inilah esensinya. Seperti yang tertuang dalam naskah kuno, ‘Piil itu pada kelakuan, Pesenggiri itu pada hati yang murni.’ Harga diri itu bermula dari kemurnian hati dan tercermin dalam setiap kelakuan.”
Keesokan harinya, Sinta telah menemukan jawabannya. Dengan hati yang lapang dan keyakinan yang bulat, ia menyampaikan keputusannya pada orang tua dan Da Inah. Ia akan berangkat ke Bandung.
“Da Inah, Ibu, Ayah,” ujarnya dengan suara tenang namun penuh keyakinan. “Izinkan saya pergi. Saya pergi bukan untuk lari dari adat, tetapi justru untuk membawanya dalam hati. Saya akan menjadikan Piil Pesenggiri sebagai Siger yang menyala dalam diri saya. Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh, bergaul dengan baik, dan selalu ingat untuk tidak melakukan hal yang dapat meghukhah khebah (menjatuhkan harga diri) keluarga kita di Wana Kerta.”
Da Inah tersenyum, matanya berkaca-kaca bangga. Ia memeluk cucunya erat. “Pergilah, Nduk. Kau telah memahaminya dengan benar. Piil Pesenggiri bukanlah sangkar, ia adalah sayap yang akan membawamu terbang tinggi tanpa tersesat.”
Sinta menyadari bahwa nilai-nilai luhur Piil Pesenggiri, kejujuran, tanggung jawab, komitmen, dan penghormatan pada orang tua, adalah nilai universal yang justru sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern yang penuh kompetisi dan godaan. Menjaga Piil Pesenggiri berarti membangun personal branding yang kuat sebagai pribadi yang dapat dipercaya dan dihormati, di mana pun ia berada.
Sinta meninggalkan Wana Kerta dengan hati yang tenang. Di tasnya, terselip salinan kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti dan foto keluarganya. Siger emas itu tetap berada di rumah, tetapi Siger yang lain, cahaya Piil Pesenggiri, telah menyala terang dalam jiwanya.
Perjalanannya membuktikan bahwa tradisi dan cita-cita bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Dengan pemahaman yang mendalam, tradisi justru dapat menjadi fondasi etika yang kokoh untuk meraih kemajuan. Piil Pesenggiri, bagaikan Siger emas, bukan hanya untuk dikenakan dalam upacara, tetapi untuk dibawa dalam setiap langkah kehidupan, menyinari jalan menuju masa depan yang lebih baik tanpa kehilangan jati diri. Ia adalah mahkota sejati yang tidak terbuat dari emas, tetapi dari karakter dan integritas yang dibangun atas pemahaman akan warisan leluhurnya yang paling berharga.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno).
3. Suhardi, M. dkk. (2008). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

