nataragung.id – Bandar Lampung – Menurut lembaran kuning Kitab Kuntara Raja Niti, pada zaman dahulu kala, Negeri Ruwai Jurai akan menggelar upacara Besaou yang agung. Namun, bencana badai menerpa, merobohkan Balai Agung dan merusak persiapan upacara. Sang Pemangku Adat, Bujang Khanda dari marga Pubian, tidak putus asa. Beliau berkeliling dari rumah ke rumah, memanggil seluruh warga tanpa memandang status. “Sai-sai khanda begaul, jamaah sai-sambayan,” serunya, yang artinya “Mari kita bersama-sama bergotong royong, seluruh warga bersatu padu.”
Dalam waktu singkat, Balai Agung berdiri lebih megah, dan upacara pun berlangsung sempurna. Peristiwa ini melahirkan prinsip “Sakai Sambayan” – semangat kebersamaan untuk saling menopang beban, bagai sembilan tiang penyangga Siger yang kokoh.
Lima belas tahun telah berlalu sejak Sinta muda pertama kali merasakan kegelisahan antara tradisi dan cita-cita. Kini, ia telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa, berpendidikan tinggi, dan kembali ke Wana Kerta dengan segudang ilmu. Suatu sore, Da Inah yang telah renta memanggilnya ke bilik khusus.
“Nduk,” ujar Da Inah dengan suara lembut namun penuh wibawa, sambil menunjuk Siger emas di dalam peti. “Upacara Cakak Pepadun untuk anakmu, Arga, akan segera kita gelar. Kuberikan amanah ini padamu untuk memimpin persiapan upacara ini.”
Jantung Sinta berdebar kencang. Cakak Pepadun adalah upacara adat tertinggi dalam kehidupan masyarakat Lampung, simbol kenaikan status seseorang untuk “duduk” di dalam masyarakat adat. Memimpin persiapannya adalah tanggung jawab besar. Ia teringat perjalanan panjangnya: dari memahami Piil Pesenggiri, memperjuangkan Nemui Nyimah, hingga menyaksikan kekuatan Nengah Nyappur. Kini, tiba saatnya untuk mewujudkan semua nilai itu dalam aksi nyata melalui Sakai Sambayan.
Malam itu, Sinta membuka kembali Kitab Kuntara Raja Niti, mencari tuntunan. Ia menemukan sebuah pasal yang secara gamblang menjelaskan landasan filosofis Sakai Sambayan.
“Hidup ini bagai perahu di lautan. Bila ombak datang, semua penumpang harus bersama-sama mengayuh dayung. Sakai Sambayan itu ialah bejuluk beadek sai-sai mufakat, begaul begawai sehitung adat – saling mengangkat derajat dengan mufakat, bergotong royong berdasarkan hitungan adat.”
Kutipan ini menyadarkan Sinta bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar “bantu-membantu”. Ia adalah sebuah sistem sosial yang terstruktur, di mana setiap anggota masyarakat memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing berdasarkan kesepakatan adat. Gotong royong ini dilandasi oleh semangat kesetaraan dan tujuan bersama untuk memuliakan adat.
Ia juga teringat pada legenda pendiri marga Pubian, Pangeran Sindu Wangsa. Diceritakan bahwa ketika pertama kali membuka pemukiman di Wana Kerta, beliau tidak melakukannya sendirian. Beliau membagi tugas; yang ahli berburu mencari makanan, yang kuat membangun pondasi rumah, yang terampil membuat peralatan, dan yang bijak merancang tata ruang kampung. Legenda ini mengajarkan bahwa sebuah komunitas hanya bisa berdiri kokoh ketika dibangun di atas fondasi kebersamaan dan pembagian peran yang adil.
Esok harinya, Sinta mulai menjalankan amanahnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengadakan pertemuan di Balai Agung. Dengan sikap rendah hati namun penuh keyakinan, ia menyampaikan rencana upacara dan membuka ruang musyawarah.
Yang terjadi kemudian membuat hati Sinta terharu. Seorang demi seorang warga menyatakan kesediaannya untuk bergotong royong, melanjutkan rantai kebaikan yang telah dimulai bertahun-tahun lalu.
Bapak Salim, si tukang kayu pendatang yang dulu mereka sambut dengan Nemui Nyimah, langsung menawarkan diri untuk membuat kekhak (tempat duduk adat) dan memperbaiki Balai Agung. “Keluarga kami telah disambut Wana Kerta. Ini saatnya kami membalas kebaikan itu,” ujarnya.
Ibu-ibu yang dulu sempat menolak kehadiran keluarga Salim, kini justru paling antusias memimpin dapur umum. Mereka berbagi tugas: ada yang memasak gangan (gulai), yang lain membuat seruit, dan sebagian lagi menyiapkan kue-kue tradisional. Bahkan Rio, pemuda yang dulu paling keras menentang perubahan, kini dengan sukarela mengkoordinir para pemuda untuk mengurus tenda dan peralatan sound system.
Saksi Sambayan hadir dalam wujudnya yang paling murni. Tidak ada paksaan, tidak ada hitungan materi. Semua bergerak atas dasar kesadaran bahwa upacara ini adalah milik bersama, sebuah warisan yang harus dijaga secara kolektif.
Setiap tahap persiapan upacara sarat dengan makna filosofis yang dalam, yang hanya bisa diwujudkan melalui semangat Sakai Sambayan.
Pertama, prosesi Nyeruit (makan bersama dengan lauk seruit). Ikan bakar yang di-seruit (dihancurkan) bersama sambal terasi melambangkan bahwa segala perbedaan harus “dihancurkan” untuk menciptakan rasa yang harmonis. Proses memasaknya yang melibatkan banyak ibu-ibu adalah cerminan dari Sakai Sambayan dalam menyatukan “rasa” dan hati seluruh warga.
Kedua, pembuatan Sesat Agung (rumah adat) yang dihiasi dengan kain tapis bersulam emas. Setiap helai kain tapis adalah hasil karya puluhan bahkan ratusan tangan perempuan Lampung selama berbulan-bulan. Setiap jahitan menyimpan doa dan harapan. Sakai Sambayan dalam konteks ini adalah gotong royong yang melampaui batas waktu dan generasi.
Ketiga, penyembelihan kerbau untuk kenduri. Hewan besar itu tidak mungkin dibeli oleh satu keluarga saja. Di sinilah Sakai Sambayan hadir dalam bentuk patungan adat, di mana setiap keluarga menyumbang sesuai kemampuannya. Kerbau itu sendiri melambangkan pengorbanan kolektif untuk sebuah tujuan yang lebih mulia.
Hari yang dinantikan pun tiba. Di bawah Siger emas yang dikenakan Arga, terpancar bukan hanya kemegahan adat, tetapi juga cahaya dari ratusan hati yang telah bersatu. Upacara Cakak Pepadun berlangsung sempurna, dihadiri oleh seluruh warga Wana Kerta dan tamu undangan dari berbagai desa.
Saat duduk di atas Pepadun, Arga tidak hanya menyandang gelar adat baru. Ia menjadi simbol dari perjalanan panjang sebuah komunitas yang berhasil menjaga warisan leluhurnya melalui prinsip Sakai Sambayan.
Sinta memandang sekeliling dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Bapak Salim tersenyum bangga, Rio dengan sigap mengatur kursi tamu, dan ibu-ibu dengan wajah puas menyajikan hidangan. Dalam benaknya, ia menyadari bahwa “menjaga adat” bukanlah tentang melestarikan ritual-ritual kuno semata. Menjaga adat adalah tentang merawat sistem nilai yang memanusiakan manusia, yang mengajarkan untuk saling menopang dalam suka dan duka.
Pak Rio, yang kini telah menjadi tetua adat sepenuh hati, berkata pada Sinta, “Lima pilar adat kita, Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, dan Bejuluk Buadok, bagaikan lima rangkaian Siger yang saling menguatkan. Hari ini, kau telah menyempurnakan lingkaran itu, Nduk.”
Perjalanan Sinta dari remaja yang bimbang menjadi pemimpin upacara yang dipercaya telah mencapai puncaknya. Ia memahami bahwa Siger yang sesungguhnya bukanlah mahkota emas yang disimpan dalam peti, melainkan semangat Sakai Sambayan yang hidup dalam setiap tindakan warga Wana Kerta.
Nilai spiritual Sakai Sambayan terletak pada pengakuan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dengan berbagi tenaga, waktu, dan rezeki, mereka tidak hanya membangun fasilitas fisik atau menyelenggarakan upacara, tetapi merajut kembali ikatan persaudaraan yang hampir tercabik oleh individualisme zaman modern.
Warisan Bujang Khanda dari Kitab Kuntara Raja Niti tetap relevan hingga hari ini: bahwa budaya hanya bisa bertahan ketika dihidupi oleh komunitasnya, dan komunitas hanya bisa kuat ketika dibangun di atas prinsip gotong royong. Siger kebanggaan Lampung, dengan demikian, akan terus menyala bukan karena kilauan emasnya, tetapi karena cahaya Sakai Sambayan yang tak pernah padam dalam sanubari pemakainya.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
<o> Buku ini menjelaskan secara rinci tentang sistem gotong royong (Sakai Sambayan) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Lampung, termasuk dalam penyelenggaraan upacara adat.
2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno).
<o> Sebagai sumber primer, kitab ini memuat ajaran-ajaran tentang kewajiban bermasyarakat, prinsip kebersamaan, dan kisah-kisah legenda yang menjadi landasan filosofi Sakai Sambayan.
3. Suhardi, M. dkk. (2008). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
<o> Buku ini mengkaji implementasi Sakai Sambayan dalam konteks pembangunan komunitas dan ketahanan sosial budaya masyarakat Lampung di era globalisasi.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

