nataragung.id – Bandar Lampung – Jumlah pesantren di Indonesia 42.369 buah dan merupakan pesantren terbanyak di seluruh dunia.
Di pesantren selain belajar kitab kuning (kitab keagamaan) juga ada lembaga pendidikan formal mulai dari TK hingga perguruan tinggi/ universitas.
Dengan sistem asrama, pesantren mendidik santrinya selama 24 jam, santri/murid/mahasiswa hari-harinya fokus belajar dan berlatih sesuai dengan disiplin ilmu yang tersedia, termasuk kegiatan ekstra kurikuler bela diri, IT, bahasa asing dan lain-lain.
Melihat fenomena kenakalan remaja di tengah-tengah masyarakat saat ini, semakin banyak orang tua wali murid yang menitipkan anaknya di pesantren untuk meminimalisir dari pengaruh kenakalan remaja yg semakin marak.
Dalam sejarahnya, ketika republik ini baru di proklamasikan oleh Soekarno – Hatta dan belum mempunyai angkatan bersenjata yg memadai, datanglah pasukan sekutu yaitu Inggris dengan pasukan bayaran dari India ( gurkha) menduduki kota-kota besar mulai Kota Medan, Palembang, Jakarta, Semarang dan Soerabaya untuk mengembalikan Indonesia sebagai negeri jajahannya Belanda yang selama pendudukan Jepang pemerintah Hindia Belanda mengungsi ke Australia.
Melihat pasukan Inggris yang baru menang perang dunia kedua datang dengan persenjataan berat yg lengkap itu KH. Hasyim Asy’ari sebagai pemimpin tertinggi NU ( Rois Akbar) mengundang pengurus cabang NU se Jawa dan Madura dan saat pertemuan itu dikeluarkan “RESOLUSI JIHAD NU” pada tanggal 22 Oktober 1945 untuk melawan mati-matian tentara penjajah yang kembali akan masuk ke Indonesia.
Resolusi jihad perang total dan habis-habisan yang di keluarkan Rois Akbar NU KH Hasyim Asy’ari itu menyebabkan terjadinya pertempuran di berbagai daerah yg di gerakkan para santri di seluruh Jawa dan merembet ke daerah lain dan yang terkenal adalah pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya yang kini dikenal sebagai hari pahlawan.
Proklamasi 17 Agustus 1945 – Resolusi jihad/hari santri 22 Oktober – pertempuran 10 Nopember 1945 merupakan satu rangkaian peristiwa sejarah yang tidak bisa di pisahkan dalam mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia.
Pancasila dengan tim sembilan perumusnya yang di ketuai Ir. Soekarno pun salah satu anggotanya adalah KH. Wahid Hasyim yang mewakili unsur santri dan Kiai.
Kini, pesantren dengan semangat kemandirian dan gotong-royong, kini pendidikannya sudah sedemikian maju dan telah melahirkan para tokoh berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia.
Bulan Oktober ini ketika para santri se Indonesia sedang sibuk persiapkan “HARI SANTRI” tanggal 22 Oktober (peringatan resolusi jihad) tiba-tiba di kejutkan terjadinya musibah besar yaitu ambruknya mushola di salah satu pesantren di Kabupaten Sidoarjo – Jawa Timur, korban yg meninggal dunia mencapai 67 santri yang sedang sholat Ashar berjama’ah.
Belum kering air mata duka di Sidoarjo – Jawa Timur daerah yang terkenal dengan lumpur Lapindo Brantasnya itu, bak petir di siang bolong tiba-tiba salah satu pesantren tua di kabupaten Kediri ( pesantren Lirboyo,) yang santrinya puluhan ribu dari berbagai propinsi di Indonesia dan di asuh oleh KH. Anwar Mansyur seorang Kiai terkemuka Rois Syuriah PW NU Jawa Timur di jadikan bahan olok-olokan dan fitnah oleh stasiun TV Trans7 yang berimbas terjadinya kegaduhan nasional hingga muncul kecurigaan ada kemungkinan di dalam stasiun TV tersebut ada orang yang punya agenda untuk melecehkan dunia pesantren.
Kegaduhan itu hingga hari ini sedang berlangsung, entah bagaimana nanti endingnya. Pertanyaannya, apakah kontribusi pemerintah untuk dunia pesantren yang telah berjasa terhadap eksistensi negara ini dan dunia pendidikan sudah memadai?, tentu jawabannya akan beragam dan banyak versi. Terlepas apa-pun jawaban yang akan diberikan oleh pemerintah, yang jelas beberapa hari kedepan Bangsa Indonesia akan kembali memperingati Hari Santri Nasional guna mengenang Resolusi Jihad yang di kumandangkan dari dalam pesantren. “SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL” untuk para santri diseluruh Indonesia. (**).
*) Penulis Adalah : Aktivis PWNU Lampung, tinggal di Bandar Lampung.

