Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 3 — Masa Bayi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di kaki Bukit Rajabasa, hiduplah sebuah keluarga marga Saibatin yang memelihara tradisi lama turun-temurun. Ketika Bu Yati melahirkan cucunya yang pertama, seluruh kampung berkumpul menyambut kelahiran itu dengan ritual mulia.
Sesepuh adat membuka pintu-pintu rumah, menyalakan dupa dan membacakan doa, memanggil roh leluhur agar menjaga bayi itu dari marabahaya. Bayi itu dinamai Indoman, yang dalam bahasa Lampung berarti “tempat berteduh”, harapan agar ia kelak menjadi pelindung dan penolong masyarakat.

Cerita ini bukan sekadar dongeng, melainkan cerminan kehidupan dan filosofi mendalam yang tumbuh kuat di tengah adat-istiadat masyarakat Lampung, khususnya dalam mengawali masa bayi.

Upacara Tiga Hari (Seleh Darah):

Penyucian dan Ucapan Syukur
Seleh Darah adalah upacara tradisional yang diselenggarakan pada hari ketiga setelah bayi lahir. Secara harfiah, “seleh darah” bermakna membersihkan darah yang melekat pada tangan dukun dan keluarga yang menyambut bayi, simbol dari penyucian awal. Upacara ini juga berarti ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan bayi dan keluarganya.

Filosofi dan Nilai Spiritualitas
Seleh Darah memandang kelahiran sebagai anugerah yang datang dari kekuatan ilahi, yang perlu disambut dengan rasa hormat dan harapan kebahagiaan. Membagikan kue lepat untuk bayi laki-laki dan tapai untuk bayi perempuan memiliki makna simbolik; lepat dengan bentuk tanduk melambangkan keteguhan dan kerjasama sosial, tapai bercampur ragi melambangkan manisnya hidup dan bantuan orang lain. Doa dan pembacaan mantera dalam bahasa Arab dan daerah mengiringi sebagai penguat spiritualitas agar bayi dan keluarga terlindung dari gangguan roh jahat dan malapetaka.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur Seri – 2: Makna di Balik Langkah, Filosofi Tradisi Ngejalang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Upacara ini melibatkan banyak pihak, termasuk malim (pemuka agama), nenek bayi, dan tetangga, menegaskan ikatan sosial yang erat dalam komunalitas adat Lampung. Semua proses penyucian dilakukan dengan tata cara ketat dan pantangan, seperti menjaga sikap sopan dan makanan tertentu agar kebersihan fisik dan spiritual bayi tetap terjaga.

Upacara Tujuh Hari (Setebusan): Tanda Terima Kasih pada Dukun

Setelah tujuh hari, keluarga melaksanakan upacara “Setebusan”, suatu ungkapan terima kasih kepada dukun yang merawat bayi sejak masa kandungan hingga setelah kelahirannya. Kegiatan ini meliputi mengantarkan lauk pauk, kain putih, dan alat-alat ke dukun, serta doa bersama yang dipimpin oleh malik atau kiyai.

Filosofi dan Nilai Spiritual
Upacara ini bukan hanya tentang balas jasa, tapi pengakuan atas peran dukun dan tokoh spiritual sebagai pelindung keluarga dalam menghadapi risiko dan bahaya gaib di masa bayi. Kain putih dan pisau cukur yang belum digunakan simbol kesucian dan niat tulus, menyatakan bahwa keluarga memberikan penghormatan sejati.

Kehadiran kerabat dan tetangga dalam setebusan menegaskan solidaritas sosial sesuai ajaran adat yang mengutamakan gotong royong dan kebersamaan. Doa yang dipanjatkan mengundang restu dan keselamatan, menyatukan dimensi religius dan kemasyarakatan yang bercampur dalam adat Lampung.

Upacara Empat Puluh Hari (Bucukor): Cukuran Rambut Pertama.

Bucukor atau cukuran rambut pertama adalah simbol pembersihan diri dan pembebasan bayi dari rambut bawaan kandungan yang dianggap haram. Dilaksanakan saat bayi berumur 40 hari, upacara ini berjalan dalam suasana adat yang khidmat dengan cukuran yang dilakukan oleh tokoh adat dan ulama.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Senerus Saat Ini Buku – 4 Kisah-kisah nyata dan lisan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Filosofi dan Makna Ritual.

Cukuran rambut merupakan ritual pemurnian yang tidak hanya secara fisik tapi juga spiritual. Penggunaan air kelapa muda sebagai alat pengurapan melambangkan kesucian, kesuburan, dan kesejukan jiwa bayi. Bunga melor dan minyak wangi yang dipakai dalam prosesi adalah lambang kegembiraan sekaligus bentuk terima kasih kepada para tamu yang mengiringi.
Upacara bucukor mengukuhkan status bayi sebagai bagian dari komunitas yang mendapat perlindungan leluhur dan Tuhan. Selain itu, kegiatan arak-arakan membawa pesan kebanggaan serta keinginan agar bayi tumbuh menjadi manusia berguna dan dihormati.

Upacara Aqiqah: Bentuk Syukur kepada Allah.

Aqiqah adalah upacara keagamaan Islam yang bernilai syukur kepada Allah atas nikmat kelahiran anak. Lampung yang mayoritas Muslim menggabungkan aqiqah dalam masa bayi yang berumur sekitar 40 hari, sering bersamaan dengan bucukor.

Analisis Filosofis Aqiqah
Aqiqah tidak hanya ibadah ritual semata, tapi wujud pengakuan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang wajib bersyukur dan menebus kehidupan melalui pengorbanan.

Penyembelihan kambing dalam aqiqah bagi bayi laki-laki sebanyak dua ekor, sedangkan satu ekor untuk bayi perempuan melambangkan kesetaraan sekaligus tanggung jawab sosial dan spiritual, dimana laki-laki memiliki beban lebih besar sebagai pelindung dan pemimpin.

Pembagian daging hasil aqiqah kepada tetangga dan kerabat mempererat ikatan sosial dan menanamkan nilai dermawan serta kepedulian dalam masyarakat adat.
Pantangan untuk menjaga keikhlasan dan kehalalan dana serta ucapan saat upacara menggarisbawahi pentingnya niat tulus dan keimanan yang kokoh.

Makna Tiap Upacara sebagai Ikatan Sosial dan Keagamaan.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 10 – Merawat Bahasa, Merawat Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Setiap upacara pada masa bayi di masyarakat adat Lampung tidak berdiri sendiri. Ia adalah jalinan simbolik yang kuat menghubungkan individu dengan keluarga, masyarakat adat, alam gaib, dan Tuhan.

Upacara Seleh Darah, Setebusan, Bucukor, dan Aqiqah membentuk siklus ritual yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidup manusia. Dari penyucian, ungkapan terima kasih, pemurnian, hingga pengorbanan, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan pada leluhur, dan ketaatan keagamaan terpatri penuh dalam tiap tindak dan simbolisme.

Kehadiran tokoh adat, dukun, dan ulama di masing-masing ritual menunjukkan perpaduan budaya dan agama yang khas Lampung: wujud sinkretisme magis-religius yang membimbing masyarakat menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Sejarah dan Legenda Marga dalam Upacara
Masyarakat Lampung mengenal struktur marga yang kuat, penyimbang kampung (pemuka adat lokal) dan penyimbang marga (pemilik garis keturunan gaib).

Upacara kelahiran dan masa bayi untuk anak mereka sering lebih megah dengan tambahan simbol dan perlengkapan pusaka, gamelan kulintang, serta doa khusus agar kelak anak menjadi penerus yang mulia dan berkewibawaan.

Legenda leluhur marga di dalam kitab dan pranata adat menceritakan kuatnya ikatan darah dan wasiat spiritual. Misalnya, doa mantera yang dikutip dari kitab kuno dan pelafalan doa dalam bahasa Melayu-Arab-Lampung, menjadi pegangan spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini