nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung di Lampung, ketika musim panen tiba, seluruh warga bersiap melaksanakan upacara selamatan kampung yang telah diwariskan secara turun-temurun marga Saibatin dan Pepadun.
Pak Kulup, tokoh tua marga Pepadun, memimpin pembacaan doa dan mantera dalam balutan musik gamolan, sementara para wanita menyusun sesajen yang penuh dengan simbol keberkahan.
Upacara itu bukan sekadar ritual, melainkan ungkapan syukur, rasa hormat pada alam, leluhur, dan perpaduan nilai agama Islam yang kuat.
Cerita ini mengisahkan bagaimana masyarakat Lampung memaknai hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai inti kehidupan. Upacara Selamatan Kampung, Sedekah Bumi, dan Menyambut Musim Panen
Upacara selamatan kampung dan sedekah bumi adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan masyarakat adat Lampung untuk memohon keselamatan, kesuburan tanah, dan keberkahan panen. Proses ritual diawali dengan penyiapan sesajen berupa hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan makanan khas, yang diletakkan di tempat suci kampung atau lapangan terbuka.
Masyarakat mengadakan doa bersama yang diiringi musik gamolan dan tarian Sekapur Sirih.
Dalam ritual, tokoh adat membaca mantera dari kitab suci Tatuju Tareya yang diucapkan dalam bahasa Lampung: “Begawi bumi, sri dan tanak, mugi balung kampung rahayu, lestari.”
Arti mantera tersebut adalah permohonan agar bumi kampung lestari, masyarakat diberkati, dan hasil panen melimpah.
Unsur Religi dan Kepercayaan Lokal.
Masyarakat Lampung meyakini bahwa alam dan lingkungan hidup memiliki roh dan kekuatan gaib yang harus dihormati. Oleh sebab itu, upacara adat selalu mengandung unsur pemanggilan dan penghormatan terhadap roh leluhur serta roh alam.
Ritual melibatkan pemimpin adat (penyimbang), dukun, serta ulama yang memadukan doa Islam dan doa adat. Misalnya penggunaan dupa dan kemenyan sebagai pembersih spiritual serta penyucian area pertanian menjadi simbol harmonisasi antara dunia nyata dan dunia gaib.
Perpaduan antara Adat dan Nilai Islam.
Seiring waktu, masyarakat Lampung berhasil menyelaraskan nilai-nilai adat dengan ajaran Islam. Hal ini terlihat dalam cara pelaksanaan upacara adat yang diwujudkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa selamatan bersama.
Perpaduan ini merupakan bentuk sinkretisme yang hidup dan adaptif, memelihara tradisi leluhur tanpa mengabaikan nilai keagamaan yang dianut.
Sejarah Marga dan Legenda Pendukung Upacara.
Marga Saibatin dan Pepadun sejak lama menjadi pilar pelestarian tradisi dan adat di Lampung. Dalam manuskrip Pamujis Nuban, kisah leluhur menyebutkan bahwa menjaga upacara selamatan kampung merupakan mandat spiritual yang mengikat seluruh anggota marga agar hidup selaras dengan alam dan Tuhan.
Legenda marga Pepadun bercerita tentang Ratu Melinting yang mengajarkan pentingnya menjaga kesuburan tanah dan menghormati leluhur sebagai kunci keberlangsungan kehidupan dan masyarakat yang berkeadaban.
Kesimpulan.
Upacara selamatan kampung, sedekah bumi dan upacara panen di Lampung merefleksikan filosofi kehidupan yang menyelaraskan manusia, alam, dan Tuhan melalui praktik adat dan ritual keagamaan. Tradisi ini mengajarkan rasa syukur, penghormatan, dan tanggung jawab kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan harmoni sosial. Perpaduan unik antara nilai adat dan Islam memperkuat identitas budaya yang kaya makna dan lestari.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

