nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, di jantung Kerajaan Sekala Brak yang permai, hiduplah seorang pemuda bernama Jimat. Ia bukanlah anak bangsawan, melainkan anak petani biasa yang memiliki kecerdasan dan keluhuran budi.
Saat negeri dilanda wabah penyakit yang misterius, sementara para bangsawan sibuk mempertahankan gelar dan martabat mereka, Jimat justru mengorbankan diri memasuki hutan belantara mencari akar-umbi untuk mengobati rakyatnya.
Setelah berhari-hari menjelajahi hutan dan mendaki gunung, Jimat sampai di sebuah gua keramat. Di sana, ia bertemu dengan sesepuh pertapaan yang memberinya naskah kuno Kuntara Raja Niti sambil berpesan, “Wahe anak dewaq, di mano bumi dipijak, di sito langit dijunjuang.
Piil-pusanggiri, bejuluk-beadek, nemui-nyimah, nengah-nyappur, sakai-sambaian, niku paomian ti pertamo.” (Wahai anak dewata, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Harga diri, berjuluk-beradek, menerima tamu, bergaul, tolong-menolong, itulah pedoman yang utama) .
Dengan bekal naskah ini, Jimat kembali ke kerajaan dan berhasil menyembuhkan rakyatnya. Raja yang berbesar hati kemudian menganugerahkan gelar “Sutan Batin Berani” kepadanya.
Inilah awal mula tradisi Bejuluk Beadok di bumi Lampung – bahwa gelar bukanlah warisan darah biru semata, melainkan buah dari pengabdian tulus dan keluhuran budi pekerti.
Hakikat Gelar dalam Masyarakat Lampung
Bejuluk Beadok dalam masyarakat Lampung bukan sekadar penanda status sosial, melainkan cerminan dari keseluruhan sistem nilai Piil Pesenggiri yang menjadi falsafah hidup orang Lampung . Sistem nilai ini mencakup juluk adek (harga diri dan martabat), nemui nyimah (keramah-tamahan), nengah nyappur (sosialitas), dan sakai sambaian (gotong royong) .
Gelar dalam tradisi Lampung merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara horizontal kepada masyarakat maupun secara vertikal kepada Sang Pencipta. Seorang yang menyandang gelar adat harus menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Piil Pesenggiri dalam kehidupan sehari-hari .
Dimensi Spiritual Gelar Adat
Dari perspektif spiritual, Bejuluk Beadok mengandung makna yang sangat dalam. Gelar adat dipandang sebagai simbol dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Setiap gelar yang disandang mengingatkan pemakainya akan tugasnya untuk memakmurkan bumi dan menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta .
Dalam naskah Kuntara Raja Niti dijelaskan bahwa hakikat Bejuluk Beadok adalah pengakuan masyarakat terhadap kualitas pribadi seseorang yang telah mencapai tingkat kematangan spiritual dan kedewasaan sosial. Gelar tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap seseorang yang telah berhasil menjalankan tiga nilai utama dalam kehidupan: nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, dan nilai vitalitas .
Prosesi Adat Pemberian Gelar
Ritual pemberian gelar adat dalam masyarakat Lampung merupakan prosesi sakral yang penuh makna. Prosesi ini biasanya diawali dengan musyawarah adat yang dihadiri oleh para tetua dan pemangku adat.
Dalam musyawarah ini, calon penerima gelar dinilai kesiapannya berdasarkan prestasi, ilmu pengetahuan, dan akhlaknya.
Salah satu kutipan dari naskah kuno Kuntara Raja Niti menyatakan: “Piil-Pusanggiri: merupakan rasa malu untuk melakukan pekerjaan hina menurut agama serta self-esteem.
Juluk-Adok: kepribadian yang layak dengan gelar adat yang disandang.” . Kutipan ini menekankan bahwa gelar harus sejalan dengan kepribadian pemakainya.
Makna Simbolik dalam Ritual
Setiap unsur dalam ritual pemberian gelar mengandung makna filosofis yang dalam.
Kain Tapis yang dikenakan simbol dari kesucian dan kemuliaan; Keris simbol keberanian dan ketegasan dalam menegakkan kebenaran; Gong simbol harmoni dan keseimbangan kehidupan.
Prosesi pemberian gelar biasanya diakhiri dengan pembacaan doa dalam bahasa Lampung kuno: “Tiyan piil pesenggiri, bejuluk beadok, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambaian, nengah nyappur, sanggak khe gheghok.” (Hendaklah memiliki harga diri, berjuluk beradek, menerima tamu, bergaul, tolong-menolong, agar kuat seperti bambu) .
Gelar sebagai Motivasi Berprestasi.
Dalam masyarakat Lampung modern, Bejuluk Beadok tidak kehilangan relevansinya. Gelar adat justru menjadi motivasi bagi generasi muda untuk berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat. Setiap gelar yang diraih harus diisi dengan prestasi, ilmu, dan akhlak yang baik, sebagaimana diajarkan dalam falsafah Piil Pesenggiri .
Banyak pemuda Lampung yang menyandang gelar adat justru termotivasi untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan diri, karena menyadari bahwa gelar tersebut adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan karya nyata.
Menghindari Penyimpangan Makna Gelar.
Tantangan terbesar dalam pelestarian Bejuluk Beadok di era modern adalah kecenderungan untuk menjadikan gelar sebagai simbol status semata, tanpa diikuti dengan pengamalan nilai-nilai yang dikandungnya. Bejuluk Beadok yang sejati menekankan substansi daripada formalitas, menekankan pengabdian daripada pengakuan .
Masyarakat Lampung yang berpegang teguh pada Piil Pesenggiri akan menjaga kemurnian makna gelar dengan terus mengingatkan bahwa “punyimu murah, Genta” – bahwa gelar yang disandang harus mencerminkan keluhuran budi dan pengabdian yang tulus .
Konsep Amanah dalam Al-Qur’an.
Falsafah Bejuluk Beadok memiliki keselarasan yang erat dengan konsep amanah dalam Islam. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
Gelar adat dalam perspektif ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Penerima gelar tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Gelar dan Ketakwaan dalam Islam.
Islam menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar atau keturunan, melainkan oleh ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 13, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Ayat ini sejalan dengan semangat Bejuluk Beadok yang menekankan bahwa gelar harus diisi dengan prestasi dan akhlak mulia, bukan sekadar warisan turun-temurun. Gelar tanpa ketakwaan dan pengamalan nilai-nilai luhur adalah kosong dan tidak bermakna.
Kisah Kepahlawanan Menghi Gegek.
Dalam sejarah Lampung, tercatat banyak tokoh yang menyandang gelar adat dengan penuh makna. Salah satunya adalah Menghi Gegek, seorang panglima perang dari Kerajaan Sekala Brak yang terkenal karena keberanian dan kecerdasannya. Gelar “Gegek” yang disandangnya diberikan karena kepiawaiannya dalam membaca situasi dan taktik perang yang tak terduga.
Menghi Gegek tidak pernah menyombongkan gelarnya. Justru, ia selalu berada di garda terdepan melindungi rakyatnya. Suatu ketika, ia berkata kepada anak buahnya, “Gelar ini bukan untukku, tapi untuk rakyat yang kulayani. Jika suatu saat aku tidak lagi membela kebenaran, cabutlah gelar ini dariku.”
Warisan Nilai untuk Generasi Muda.
Kisah-kisah kepahlawanan seperti Menghi Gegek menjadi warisan berharga bagi generasi muda Lampung. Mereka diajarkan bahwa Bejuluk Beadok bukanlah tujuan, melainkan konsekuensi dari pengabdian dan prestasi. Seorang pemuda Lampung tidak boleh mengejar gelar, melainkan mengejar ilmu dan berbuat kebajikan – gelar akan mengikuti sebagai pengakuan atas kontribusinya.
Dalam masyarakat Lampung yang masih memegang teguh adat, sering didengungkan petuah: “Jagalah gelarmu, jangan sampai gelar itu justru menistakan dirimu. Isilah gelarmu dengan ilmu yang bermanfaat, amal yang produktif, dan akhlak yang terpuji.”
Gema di Bumi Lada.
Di sebuah dusun di Lampung Barat, seorang pemuda bernama Wira baru saja menyandang gelar “Rio Batin” setelah menyelesaikan pendidikan tingginya di bidang pertanian dan mengabdi untuk membangun irigasi di desanya. Dalam pidato penerimaan gelarnya, ia berkata:
“Saudara-saudara sekalian, gelar Rio Batin yang kalian berikan bukanlah mahkota untuk kusombongkan, melainkan cangkul untuk kugunakan bekerja lebih keras lagi. Gelar ini adalah amanah, sebagaimana amanah yang Allah titipkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Dengan semangat Piil Pesenggiri, dengan nilai Bejuluk Beadok yang telah diajarkan leluhur kita, aku berjanji akan mengisi gelar ini dengan karya nyata untuk kemajuan desa kita tercinta.”
Petang itu, di bawah langit jingga yang memayungi bumi Sekala Brak, gema Bejuluk Beadok terus bergaung dari generasi ke generasi – mengingatkan bahwa identitas sejati bukanlah apa yang melekat pada diri kita, melainkan apa yang kita berikan kepada dunia.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din, 21(2), 158-181. [Jurnal Akademik]
2. Nururi, I. (2024). Tradisi dan Religi: Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Masyarakat Suku Lampung sebagai Dasar Etika dan Relevansinya dengan Agama Islam. [Jurnal Akademik]
3. Yusuf, H. (2010). Dimensi Aksiologis Filsafat Hidup Piil Pesenggiri Relevansinya terhadap Pembangunan Kebudayaan Daerah Lampung. Jurnal Filsafat UGM, 20(3). [Jurnal Akademik]
4. Model Bimbingan Kelompok Berbasis Falsafah Hidup Masyarakat Lampung (2017). [Jurnal Akademik]
5. Fernanda, F. E., & Samsuri, S. (2020). Mempertahankan Piil Pesenggiri Sebagai Identitas Budaya Suku Lampung. Jurnal Antropologi, 22(2), 168-177. [Jurnal Akademik]
6. Jeidy’s Blog (2009). Falsafah Hidup Orang Lampung. [Sumber Digital yang Mengutip Kitab Kuntara Raja Niti].
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

