Dinamika Hubungan Gus Dur dan Soeharto. Oleh : M.Habib Purnomo *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Hubungan Presiden Soeharto dengan Gus Dur mengalami pasang surut. Kedua tokoh yang pernah menjadi presiden di Republik Indonesia pada waktu yang berbeda dan secara kebetulan secara bersama-sama pula kedua tokoh bangsa itu, bertepatan dengan hari pahlawan tanggal 10 Nopember 2025 mendapat gelar pahlawan nasional dari presiden Prabowo.

Setelah dalam waktu lama NU dipinggir (dimarjinalkan ) oleh pemerintahan presiden Soeharto, maka pada Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo, NU kembali ke khittah 1926, termasuk di dalamnya NU melepaskan diri dari PPP dan menjaga jarak yang sama (ekuidistan) dengan Golkar dan PDI.

Muktamar NU di Situbondo menjadikan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai ketua PBNU yang baru mengganti KH.Idham Khalid ketua umum PBNU sebelumnya yang telah menjabat ketua umum PBNU dari tahun 1956-1984 (28 tahun).

NU setelah khittah 1926 dibawah kepemimpinan Gus Dur memasuki babak baru dan hubungan NU dengan pemerintah (Gus Dur dan Presiden Soeharto) demikian (sedemikian) dekatnya, Gus Dur bahkan pernah menjadi Badan pekerja MPR RI dari utusan golongan yang di usulkan pemerintah.

Hubungan dekat Gus Dur dan Pak Harto seperti digambarkan dalam sebuah vidio bagaimana, KH. Pardi dari Batang Hari, Lampung Timur dan Gus Dur berbuka puasa bersama, di kediaman Pak Harto di Cendana, kemudian didaerah-daerah, banyak pengurus NU yang menjadi anggota DPRD dari Golkar.

Baca Juga :  Menguatnya Wacana Desa Masuk Kota (Catatan Perjuangan DOB Kabupaten Bandar Negara) Oleh : Gunawan Handoko *)

Kemesraan hubungan Gus Dur dengan Pak Harto ini berubah bersamaan dengan berubahnya peta politik (geopolitik) global, dimana tahun 1991 perang dingin antara blok Uni Soviet versus blok Amerika dinyatakan selesai dengan bubarnya negara komunis Uni Soviet.

Setelah perang dingin selesai, Pak Harto tidak dipakai lagi oleh Amerika sebagai mitra strategisnya untuk menghadapi blok komunis Uni Soviet dkk.

Setelah tidak dapat perlindungan dari Amerika Presiden Soeharto mendekat ke kelompok Islam tertentu yang sebelum nya di kenal tidak akur dengan NU.

Semakin mendekatnya Pak Harto dengan kelompok Islam tertentu ini, menjadikan Gus Dur menjauh dan juga dijauhkan dari pemerintah, puncak panasnya hubungan pak Harto dengan Gus Dur, yaitu ketika Gus Dur dimedia Australia mengatakan pak Harto stupid (bodoh) karena berdekatan dengan kelompok fundamentalis.

Upaya menyingkirkan Gus Dur dari panggung politik nasional semakin gencar dan mendapatkan momennya ketika Muktamar NU di Cipasung tahun 1994.

Dengan menggunakan segala cara, pihak pemerintah menjagokan Abu Hasan seorang pendatang baru di NU yang berlatar belakang pengusaha minyak.

Muktamar NU di Cipasung tahun 1994 dikenal sebagai Muktamar NU yang paling panas, karena intervensi pemerintah dalam upaya menggeser Gus Dur dari tampuk kepemimpinan di PBNU.

Di Muktamar NU Cipasung Gus Dur hampir kalah dan Abu Hasan hampir menang.

Muktamar NU selesai dengan kemenangan Gus Dur, namun kepemimpinan Gus Dur di PBNU belum di akui mendagri sebagai wakil pemerintah dan pada waktu bersamaan pihak Abu Hasan justru membentuk kepengurusan PBNU tandingan dengan sekjen Safri zuman (Sekretaris PW NU Lampung).

Baca Juga :  Evakuasi Penduduk Gaza ke Indonesia Blunder. Oleh : HM.Habib purnomo *)

Dalam masa-masa tidak menentu ini, suatu saat ketika (saya) diruang tamu Gubernur Lampung Poejono Pranyoto melihat ada jadwal Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) putri tertua Pak Harto akan berkunjung ke Bandar Jaya dalam rangka acara kirab remaja.

Melihat agenda mbak Tutut ini saya kemudian menelpon KH.Khusnan Mustofa Gufron (almarhum) ketua PW NU Lampung yang dekat dengan Gubernur Poejono Pranyoto juga sangat dekat dengan Gus Dur.

Saya usul ke Kiai Khusnan supaya momen mbak Tutut ke Bandar jaya bisa di belok kan ke pesantren Daarul A’mal (Metro) dalam sebuah acara pengajian yang penceramahnya Gus Dur, usul ini di setujui Kiai Khusnan dan sekaligus pada waktunya meminta saya menjemput Gus Dur dan Mbak Tutut di Bandara Raden Intan.

Dengan sopir pak Kardi, saya ke Bandara Branti, ternyata di bandara sudah ada Kiai Abrori Akuan (almarhum) dari Gerning (Tegineneng) Lampung Selatan (kini Pesawaran) dan Kiai Halim (Gus Hakim) orang tua Nunik /Jihan, karena kedua kiai sepuh itu tidak masuk di ruang VIP serta merta saya masuk dan saya dapati Gus Dur sedang duduk bersama mbak Tutut yang di temani Rano Karno Dorce dan Siti Nurbaya ketua DPD AMPI Lampung.

Baca Juga :  Kritis di Era Lemahnya Partai Politik. Oleh M.Habib Purnomo *)

Setelah saya berbisik bahwa saya utusan kiai Khusnan, saya langsung bertanya “Ini lakone sebagai Sunan Kudus apa Sunan Kalijaga Gus ?” Gus Dur yang di kenal cerdas itu langsung berbisik, “saya mau di bunuh bapak nya” saya tertawa lirih Gus Dur juga tertawa dan mbak Tutut yang duduk berjarak satu meter dari Gus Dur tersenyum simpul tidak tau apa yg kami bicarakan berdua.

Mbak Tutut dan Gus Dur hadir di-pesantren Daarul A’mal yang diasuh Kiai Khusnan dengan lancar dan meriah, tapi terdengar di belakang saya ada perintah entah dari siapa “jangan di liput ya… jangan di liput ya”

Apakah karena hubungan putri kinasih (terkasih ) nya pak Harto itu dengan Gus Dur sudah menjadi sedemikian dekat nya, fakta nya kemudian kepemimpinan Gus Dur di PBNU di terima kembali oleh pemerintah dan tidak lama setelah pemilu 1997 Presiden Soeharto atas tekanan massa dan mahasiswa menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden (lengser ) setelah berkuasa 32 tahun.

Setelah Presiden Soeharto lengser hingga sekarang NU berjaya kembali. (**)

*) Penulis Adalah: Aktivis NU Lampung tinggal di Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini