nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dusun di pesisir Krui, hiduplah tiga orang sahabat: Bintang, yang berasal dari marga Pemuka; Bulan, dari marga Menang; dan Matahari, dari marga Sangkan.
Mereka dikenal sebagai nelayan terbaik, masing-masing memiliki perahu dengan warna berbeda: putih, hitam, dan kuning. Suatu ketika, ombak besar dan angin topan mengancam pemukiman mereka. Satu per satu rumah warga terancam roboh.
Bintang, dengan perahu putihnya, bergegas membantu keluarga di ujung barat. Bulan, dengan perahu hitamnya, membantu warga di bagian selatan. Matahari, dengan perahu kuningnya, memilih untuk memperkuat pondasi rumah tetua adat di pusat desa. Mereka bekerja terpisah, namun dengan segenap tenaga.
Seorang tetua bijak, Menak Batin, memandang mereka dari bukit. Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengibarkan bendera di puncak bukit, menyatukan ketiga warna perahu tersebut menjadi satu panji. Melihat sinyal itu, ketiga sahabat tersadar.
Mereka menyatukan kekuatan, merantai ketiga perahu mereka menjadi sebuah rakit besar yang mampu menahan gelombang dan mengangkut material berat secara bersama-sama.
“Kalian kuat sendiri-sendiri,” ujar Menak Batin setelah badai reda, “tetapi kalian menjadi tak terkalahkan ketika bersatu. Inilah hakikat Sakai Sambayan. Bukan sekadar membantu, tetapi menyatukan tenaga, pikiran, dan hati untuk satu tujuan: keselamatan bersama. Bantuan yang kalian berikan hari ini adalah amal saleh yang akan mengalir pahalanya seperti aliran sungai menuju lautan.”
Makna Sakai Sambayan: Dari Tradisi Menuju Ibadah Sosial.
Sakai Sambayan adalah pilar utama kehidupan masyarakat Lampung yang menggambarkan semangat gotong royong dan tolong-menolong. Sakai berarti saling membantu atau menanggung, sementara Sambayan berarti bersama-sama atau gotong royong.
Secara filosofis, ini adalah sebuah sistem sosial di mana beban satu orang menjadi tanggungan bersama, dan kebahagiaan satu keluarga adalah kebahagiaan seluruh komunitas.
Dalam bingkai Adat Bersendi Syara’, Sakai Sambayan mengalami sublimasi makna dari sekadar kewajiban sosial menjadi bentuk pengamalan iman yang nyata. Ia adalah perwujudan konkret dari perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa’irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala’ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana’anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 2).
Analisis mendalam terhadap ayat ini menunjukkan bahwa Sakai Sambayan memiliki parameter ilahiyah. “Kebajikan” (al-birr) dalam konteks ini mencakup segala bentuk kebaikan duniawi dan ukhrawi, mulai dari membangun rumah, mengurus jenazah, hingga menyantuni anak yatim.
Sementara “takwa” (al-taqwā) menempatkan niat tolong-menolong tersebut semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan untuk pamer (riya’) atau mengharap balasan duniawi. Dengan demikian, setiap aksi gotong royong yang tulus adalah sebuah amal saleh kolektif yang mendekatkan seluruh komunitas kepada Sang Pencipta.
Wujud Sakai Sambayan dalam Ritual dan Keseharian.
Nilai Sakai Sambayan diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan komunitas:
1. Begawei: Membangun Rumah sebagai Ibadah Komunal: Ketika sebuah keluarga akan membangun rumah, seluruh warga desa berkumpul tanpa diminta untuk Begawei. Ritual ini penuh dengan makna spiritual. Sebelum kayu pertama dipancang, dilakukan doa bersama yang memohon keberkahan bagi penghuni rumah dan semua yang terlibat membangunnya. Setiap tiang yang didirikan, setiap papan yang dipasang, tidak hanya merepresentasikan kerja fisik, tetapi juga doa dan dukungan sosial dari seluruh masyarakat.
Filosofi ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Meskipun yang dibangun adalah rumah tinggal, niatnya dapat ditingkatkan untuk mencari pahala dengan menjadikannya tempat yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah, seperti untuk silaturahmi, mengaji, dan membina keluarga sakinah. Dengan niat ini, Begawei menjadi ibadah yang pahalanya dibagi untuk semua yang terlibat.
2. Sakai Sambayan dalam Duka: Menanggung Beban Bersama: Ketika ada warga yang meninggal dunia, Sakai Sambayan menunjukkan wujudnya yang paling mengharukan. Prosesi pemakaman menjadi tanggung jawab kolektif. Kaum laki-laki bergantian mengurus liang lahat, memandikan, dan mengafani, sementara kaum perempuan menyiapkan konsumsi untuk keluarga yang berduka dan para pelayat. Dalam momen ini, tidak ada lagi sekat kaya atau miskin.
Semua bersatu dalam kesedihan dan pengabdian. Ini adalah implementasi nyata dari sabda Rasulullah: “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, dan mengantar jenazah…” (HR. Al-Bukhari)
Sakai Sambayan dalam konteks kematian adalah pemenuhan hak sesama Muslim yang paling utama, sebuah amal jariah yang meringankan beban keluarga yang tertimpa musibah.
3. Sakai Sambayan dalam Pertanian: Dalam sistem pertanian tradisional Lampung, aktivitas membajak sawah, menanam padi, dan panen dilakukan secara bergiliran dan bersama-sama. Sistem ini memastikan tidak ada satu keluarga pun yang tertinggal atau kewalahan.
Semangat ini mencerminkan konsep solidaritas dalam Islam, di mana kaum Muslimin bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Rasa peduli inilah yang menjadi jiwa dari Sakai Sambayan.
Jejak Sejarah: Marga dan Komitmen Sosial dalam Naskah Kuno
Naskah Kuntara Raja Niti dan berbagai piagam adat (titan) lama menegaskan bahwa Sakai Sambayan adalah kewajiban yang mengikat bagi semua anggota masyarakat, terlepas dari marga atau kedudukannya. Sebuah legenda dari marga Sangkan menceritakan tentang seorang pemimpin adat, Minak Sepudak, yang memimpin pembangunan sebuah irigasi besar untuk mengairi persawahan di lima pekon sekaligus.
Proyek kolosal itu mustahil dikerjakan sendirian. Minak Sepudak kemudian mengumpulkan perwakilan dari berbagai marga, Pemuka, Menang, Sangkan, dan lainnya, dan bersepakat untuk bekerja sama. Hasilnya, kemakmuran dapat dinikmati oleh semua.
Legenda ini mengajarkan bahwa garis keturunan dan silsilah marga bukanlah untuk saling membanggakan diri, melainkan sebagai pengingat akan komitmen leluhur untuk selalu bersatu dan bergotong royong dalam membangun kemaslahatan umum. Setiap marga, dengan keunikannya masing-masing, adalah bagian dari mosaik indah yang disatukan oleh semangat Sakai Sambayan.
Sakai Sambayan di Era Modern: Memperluas Lingkaran Amal Saleh.
Di tengah gaya hidup individualistik zaman now, semangat Sakai Sambayan justru lebih relevan daripada sebelumnya. Nilai ini mengajak kita untuk memperluas lingkaran kepedulian melampaui batas geografis desa adat.
Sakai Sambayan modern dapat diwujudkan dalam bentuk penggalangan dana online untuk membantu korban bencana alam di daerah lain, menjadi relawan dalam program sosial, atau sekadar membantu tetangga yang kesulitan di lingkungan perkotaan. Esensinya tetap sama: tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Dengan memaknainya sebagai amal saleh, setiap aksi membantu sesama menjadi bernilai ibadah. Seperti halnya perahu tiga warna dalam cerita, ketika kita menyatukan potensi untuk kebaikan, kita tidak hanya menyelesaikan masalah duniawi, tetapi juga membangun “rakit” amal yang akan mengantarkan kita menuju ridha-Nya.
Sakai Sambayan mengajarkan bahwa jalan menuju surga dibangun dengan batu bata kepedulian dan semen persaudaraan.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Adat Lampung). Transliterasi dan terjemahan oleh Pusat Studi Lampung.
3. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. (Kemenag RI).
4. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

