Mengapa Generasi Muda Asing dengan Aksara Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami berkumpul di bawah naungan pohon beringin tua di kaki Gunung Pesagi. Di sanalah, turun-temurun, Punyimbang, para tetua adat yang bijaksana, duduk melingkar mewartakan ilmu kehidupan.
Pada suatu senja, seorang Punyimbang dari Marga Sungkai menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh menembus bukit-bukit hijau, lalu ia bertutur tentang sesuatu yang kini mulai hilang dari pegangan generasi muda: Had Lampung, atau yang kita kenal sebagai aksara Lampung. “Anakku,” katanya lembut, “jika pohon kehilangan akar, di mana ia akan berpijak saat badai datang?”
Waktu bergulir bagai air di Way Sekampung. Kampung-kampung seperti Pugung Tampak dan Braja Harjosari yang dulu riuh dengan suara anak-anak berlatih menulis Had Lampung di atas pelepah pisang, kini sunyi. Generasi muda lebih akrab dengan gawai di genggaman daripada goresan aksara suci warisan leluhur.
Mereka hafal lagu-lagu dari negeri seberang, namun lupa dengan Sesikun, pantun adat yang sarat nasihat. Padahal, di dalam setiap lengkungan aksara itu, tersimpan jejak sejarah, falsafah Piil Pesenggiri, dan bisikan spiritual dari zaman ke zaman. Marwah kita mulai pudar, seperti kabut pagi yang sirna ditelan matahari.

Mari kita tilik asal-muasalnya. Had Lampung bukanlah sekadar rangkaian garis dan lengkung. Ia adalah aksara yang termasuk dalam rumpun tulisan KA-GA-NGA, serumpun dengan aksara Batak, Bugis, dan Rejang. Menurut cerita lisan dan kajian para tetua, aksara ini erat kaitannya dengan penyebaran pengaruh budaya Hindu-Buddha kuno, yang kemudian bersentuhan erat dengan peradaban Islam.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, yang menjadi rujukan utama adat Pepadun, kita bisa melihat bagaimana pengaruh Islam begitu kuat tertanam. Pasal 46 dari kitab tersebut menyebutkan, “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir. Turunan marga kita (Lampung) ia mengutamakan segala hukum…”. Kutipan ini menunjukkan bahwa sejak dulu, tatanan sosial dan hukum adat kita telah berlandaskan pada pengakuan terhadap ketuhanan dan syariat.
Jika kita telaah lebih jauh, aksara Lampung memiliki kemiripan ragam hias dengan huruf Arab. Ini bukanlah kebetulan. Para penyebar Islam di tanah Lampung, sebagaimana diceritakan dalam sejarah masyarakat Abung dan Marga Sungkai, menggunakan aksara ini sebagai media dakwah. Mereka menuliskan ajaran-ajaran Islam dalam Had Lampung, sehingga nilai-nilai keislaman meresap ke dalam setiap sendi adat.

Baca Juga :  Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 3 Sebalakan: Bahasa, Rasa, dan Hikmah dalam Simpul Adat Virtua. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dahulu, naskah-naskah seperti Kuntara Raja Niti atau Cepalo 12 dibaca di Sesat (balai adat), isinya mengatur kehidupan bermasyarakat yang selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah bukti bahwa adat kita tidak pernah bertentangan dengan Islam. Justru, keduanya berjalan beriringan membangun peradaban.
Ambillah contoh falsafah Nemui Nyimah (keramahan). Dalam ajaran Islam, kita diperintahkan untuk memuliakan tamu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula dengan Sakai Sambayan (gotong-royong), yang merupakan cerminan dari ajaran tolong-menolong dalam surat Al-Maidah ayat 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 1: Pi'il Pesenggiri - Martabat dalam Iman dan Sopan Santun. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Falsafah Piil Pesenggiri yang terdiri dari Pesenggiri (harga diri), Juluk-Adok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah, Nengah Nyappur (keterbukaan), dan Sakai Sambayan adalah kristalisasi dari nilai-nilai luhur yang sejalan dengan Pancasila.
Keselarasan ini pula yang menjadi perekat kebangsaan kita. Nilai Nengah Nyappur mengajarkan kita untuk terbuka dan bersosialisasi dengan siapa pun, tanpa memandang suku dan golongan, ini adalah jiwa dari sila ke-3, Persatuan Indonesia. Kisah asal-usul Marga Sungkai yang merupakan perpaduan dari pendatang Komering dan masyarakat Abung setempat, yang kemudian diterima dan hidup berdampingan hingga membentuk satu kesatuan adat, adalah bukti nyata bagaimana adat Lampung mengakomodasi keberagaman.
Seperti kata pepatah lama, “Bepukoh-pukoh tajin, bepeli-peli beliung” (bermusyawarah untuk mencapai mufakat), inilah demokrasi yang lahir dari rahim budaya kita sendiri, sejalan dengan sila ke-4.
Menurut adat dan cerita lisan, setiap marga di Lampung, baik Pepadun maupun Saibatin, memiliki hubungan erat dengan aksara. Kitab-kitab kuno seperti Kuntara Raja Niti dan Keterem ditulis untuk mengatur tatanan kehidupan, termasuk di dalamnya silsilah dan legitimasi kepemimpinan. Jika generasi muda buta aksara, mereka pun buta terhadap sejarah bangsanya sendiri. Mereka tak akan bisa membaca Piil Pesenggiri dalam teks aslinya. Mereka akan kehilangan jati diri, seperti pepatah Sesikun berbunyi, “Kugha tengah dilom rat, sinji kik haga pesenggiri” (Bagai buah di pohon, yang sudah jatuh kehilangan harga diri).

Maka, mari kita sadar. Mengenalkan Had Lampung bukanlah sekadar mengajarkan huruf mati dan hidup, seperti ulan (tanda bunyi i/e), bicek, atau rejenjung. Ini adalah tentang menghidupkan kembali akar pohon besar yang bernama adat Lampung. Ini adalah upaya kita untuk menjaga marwah, agar generasi penerus tidak hanya pandai menatap layar ponsel, tapi juga mampu membaca warisan leluhur.
Mari kita ajak anak-anak kita mengenal aksara, bukan dengan paksaan, tetapi dengan cerita-cerita hangat di beranda. Karena, di sanalah identitas kita berpijak dan di sanalah roh kebangsaan kita bersemayam. Sebagaimana disarankan oleh pakar budaya seperti Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga dalam berbagai kajiannya, pelestarian dimulai dari kesadaran bersama akan nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang fasih berbicara, namun tuli terhadap bisikan leluhur. Jangan sampai Had Lampung hanya menjadi pajangan di museum, sementara kita kehilangan kemampuan untuk mengucapkan salam “Tabik pun” dengan penuh makna. Sebab, ketika generasi muda asing dengan aksaranya, maka mereka akan asing pula dengan jati dirinya. Ingatlah petuah tua, “Sekali air besar, sekali pasir berubah.” Namun, batu karang adat dan iman haruslah tetap tegak menjaga tepian. (*)

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 5 – Tata Krama Bertamu dan Menerima Tamu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. (Various works on Lampung adat and Kuntara Raja Niti). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1997). Aksara dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan.
2. Hadikusuma, Hilman. (1986). Adat Istiadat Daerah Lampung. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
3. Pudjiastuti, Titik. (1996). Aksara dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
4. Sabarudin. (2010). Mengenal Adat Istiadat Sastra dan Bahasa Lampung Pesisir Way Lima. Jakarta: Kemuakhian Way Lima. Suntan Baginda Dulu. (1997). Lampung Ragom.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini