nataragung.id – Pemanggilan – Betapa sering manusia memiliki ingatan yang tajam terhadap kesedihan, tetapi ingatannya menjadi lemah ketika menghitung nikmat. Satu musibah yang datang seakan mampu menghapus seribu kebaikan yang telah Allah limpahkan.
Padahal, setiap hari kita masih diberi kesempatan untuk bernapas, menikmati kesehatan, berkumpul dengan keluarga, merasakan keamanan, dan memperoleh berbagai kemudahan yang tak terhitung jumlahnya. Namun ketika ujian datang, lisan ini terkadang lebih cepat mengeluh daripada bersyukur.
Allah Ta’ala telah menggambarkan tabiat manusia dalam firman-Nya:
إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Adiyāt: 6)
Kata “kanuud” (كَنُود) bermakna orang yang sering mengingat musibah dan kesulitan, tetapi melupakan nikmat dan kebaikan yang telah diterimanya. Ia menghitung penderitaan dengan teliti, namun lalai menghitung karunia Allah yang begitu banyak.
Jika kepada Allah Yang Maha Pengasih saja manusia sering lupa berterima kasih, lalu bagaimana keadaannya terhadap sesama manusia? Tidak jarang seseorang mengingat satu kesalahan orang lain, tetapi melupakan puluhan kebaikan yang pernah diberikan kepadanya.
Padahal, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur dan menghargai kebaikan sesama. Hati yang dipenuhi rasa syukur akan lebih mudah memaafkan, lebih ringan menerima kekurangan orang lain, dan lebih tenang menghadapi ujian kehidupan.
Karena itu, ketika musibah datang, jangan biarkan ia menutup mata kita dari lautan nikmat yang masih ada.
Hitunglah kembali karunia Allah yang setiap hari mengalir tanpa henti. Sebab, siapa yang senantiasa mengingat nikmat, ia akan menemukan ketenangan. Dan siapa yang hanya mengingat kesedihan, ia akan mudah tenggelam dalam keluh kesah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, yang lebih banyak mengingat nikmat daripada musibah, lebih banyak mengenang kebaikan daripada kesalahan, serta senantiasa menjaga lisan dan hati dari sifat kanūd.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” (*/276).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

