Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 3 Sebalakan: Bahasa, Rasa, dan Hikmah dalam Simpul Adat Virtua. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dedi Suhendra, lelaki berusia 35 tahun, adalah aktivis budaya asal Way Kanan yang sudah lama merantau ke Jakarta. Di tengah rutinitasnya sebagai penulis konten kreatif dan editor lepas, ia menjadi moderator sebuah forum daring bernama Sumpah Adat Digital, sebuah komunitas online yang membahas kebudayaan Lampung.

Di tengah gempuran meme, bahasa gaul, dan komentar nyinyir yang mendominasi interaksi digital, Dedi merasa terpanggil untuk menyelamatkan satu konsep luhur yang perlahan terkikis: sebalakan.

Sebalakan, dalam tradisi Lampung, adalah bentuk pergaulan sopan santun dan etika bertutur yang menjunjung tinggi martabat orang lain. Namun di forum itu, ia melihat budaya debat kusir, sindiran, dan bahkan perundungan digital makin merajalela.

Dedi mengingat masa kecilnya di kampung, bagaimana ia diajarkan untuk menundukkan pandangan saat berbicara dengan orang tua, bagaimana tata bahasa dipilih dengan penuh hormat, dan bagaimana sapaan seperti kakak, adek, buwak, dan andak bukan sekadar panggilan, tetapi penghormatan terhadap tatanan sosial.

Sebalakan bukan hanya soal tutur kata, tapi juga soal rasa, memahami posisi, membaca situasi, dan menghindari luka dalam komunikasi. Ia adalah budaya interaksi yang bertumpu pada empati, keseimbangan, dan keharmonisan.
Di tengah kultur digital yang ringkas, cepat, dan sering kali kasar, nilai-nilai sebalakan seolah lenyap. Dedi merasa perlu menyuarakan kembali nilai ini.

Baca Juga :  Ike Edwin dan Kepeduliannya terhadap Masa Depan Adat Budaya Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga)

Dedi memilih jalan tak biasa. Alih-alih menulis kritik terbuka terhadap gaya interaksi netizen, ia menulis sebuah novel bersambung dalam forum tersebut. Ceritanya berpusat pada tokoh fiksi bernama Menak Gulindang, seorang bangsawan tua dari Pesisir yang terbangun di abad digital dan merasa asing di tengah jagat maya.

Dalam novel itu, Menak Gulindang menyaksikan bagaimana kata-kata dipakai tanpa adab, bagaimana orang menyerang tanpa saling mengenal, dan bagaimana suara hikmah dikalahkan oleh suara keras.
Setiap bab ditutup dengan kutipan adat: “Kata yang keluar ibarat perahu: kalau tidak hati-hati, karam ia membawa martabat.”
Cerita itu menjadi viral di forum. Banyak yang tertawa, banyak pula yang merasa tersindir. Diskusi mulai berkembang, bukan lagi soal meme, tapi soal makna. Perlahan, kata “sebalakan” mulai sering muncul.

Dalam tulisannya, Dedi memaparkan bahwa sebalakan adalah warisan komunikasi yang mengedepankan muakhi (persaudaraan), segak (rasa malu), dan tenggang (empati). Namun etika digital dewasa ini lebih didorong oleh algoritma: siapa yang paling viral, paling kontroversial, dan paling cepat merespons.

Komentar sinis menjadi norma, kritik berubah menjadi ejekan, dan budaya “cancel” menjadi senjata. Dalam konteks ini, sebalakan menjadi sangat relevan. Ia adalah filter nilai, menyaring apa yang perlu dikatakan, bagaimana cara mengatakannya, dan kapan waktu terbaik untuk bicara.
Dedi menyitir pepatah adat: “Ngomong dalam, duduk luar, maknanya jangan sembarangan berucap sebelum menakar rasa dan situasi.”

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam budaya Lampung, dialog, baik formal maupun informal, selalu diiringi tata cara. Ada urutan bicara dalam musyawarah adat, ada cara menyampaikan keberatan tanpa menjatuhkan, ada pula bentuk sindiran halus lewat pantun atau cerita.

Dialog bukan sekadar pertukaran informasi, tetapi peristiwa budaya: ruang menjaga relasi dan kehormatan.
Dedi membandingkan:
Komunikasi Adat Komunikasi Digital
Bertingkat dan berbasis usia Demokratis tapi brutal
Mengutamakan rasa Mengutamakan kecepatan
Penuh simbol dan makna Penuh jargon dan singkatan
Bertujuan harmoni Sering jadi ajang dominasi

Bahasa adat Lampung memiliki kekayaan makna yang luar biasa: satu kata bisa mengandung filosofi. Kata seperti juluk (gelar), adeq (saudara), dan kham (kamu dalam tinggi) mencerminkan struktur sosial dan rasa hormat.
Namun, di ruang virtual, semua disamaratakan. Tidak ada batas usia, posisi, atau kedudukan. Bahasa menjadi datar, atau bahkan tajam. Dalam kondisi ini, bahasa adat nyaris tak terdengar.
Dedi membuat eksperimen: ia mulai menyelipkan kata-kata Lampung dalam unggahan media sosialnya. Awalnya direspon sinis. Namun setelah ia menyertai setiap unggahan dengan konteks filosofis dan kisah adat, banyak yang mulai tertarik.
Dedi mencatat: *Ruang virtual bukan musuh, tapi medan baru. Bahasa adat bisa hidup kembali di sana, asal kita tahu cara menjahitnya.”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 6: Adat dalam Siklus Kehidupan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dari forum sederhana, diskusi tentang sebalakan mulai meluas. Sekelompok pemuda Lampung membuat kanal YouTube berisi cerita pendek berbasis etika adat. Ada pula akun TikTok yang membawakan sketsa humor bertema sebalakan.
Bahkan beberapa influencer Lampung mulai mengganti sapaan mereka dengan bahasa adat. “Kham” menggantikan “lu” dan “kau”, dan tagar seperti #SebalakanStyle dan #TuturAdat mulai tren. Dedi merasa haru. Ia menyadari, perubahan tidak harus besar, cukup satu simpul disulam ulang, dan yang lain akan mengikuti.

Seri “Sebalakan: Bahasa, Rasa, dan Hikmah dalam Simpul Adat Virtual” menghadirkan refleksi mendalam tentang pentingnya etika pergaulan dalam dunia maya. Sebalakan bukan sekadar cara bicara, tapi cara berpikir, merasa, dan menghormati.
Dalam dunia digital yang cepat dan penuh kebisingan, sebalakan menawarkan jeda, kedalaman, dan kehangatan. Ia menuntun kita kembali pada hakikat komunikasi sebagai sarana membangun, bukan menghancurkan.
Teknologi adalah alat, bukan nilai. Ruang digital akan memancarkan siapa diri kita, dan adat, termasuk sebalakan, bisa menjadi cahaya penuntun dalam gelombang virtual yang kadang membingungkan. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini