nataragung.id – Bandar Lampung – Hutan belantara Lampung pada masa silam adalah dunia yang penuh dengan misteri dan tantangan. Suara dengus babi hutan, raungan harimau Sumatera, dan desisan ular tedung adalah bagian dari simfoni alam yang tak terelakkan. Di tengah lebatnya rimba, di sebuah tiyuh (kampung) kecil di tepian Way (Sungai) Sekampung, hidup seorang gadis muda bernama Ratu Ayu.
Suatu senja, ia melihat ayahnya, Sang Penyimbang Tiyuh, tampak gelisah. “Ayah, ada apa?” tanyanya.
“Anakku, musim buah telah tiba di bukit tempat marga kita, tetapi musim ikan belum juga datang di sungai tempat marga Nyerupa. Persediaan garam dan kain kita juga hampir habis. Kita harus berjalan tiga hari tiga malam melintasi hutan untuk bertemu dengan mereka. Perjalanan itu berbahaya, dan tanpa jaminan mereka akan menyambut kita dengan baik,” keluh sang ayah.
Ratu Ayu terdiam, lalu matanya berbinar. “Ayah, bukankah sebentar lagi bulan purnama? Bukankah saatnya untuk ‘ngget’? Mengapa kita tidak mengirimkan tanda mata ke Marga Nyerupa, mengundang mereka untuk bersama-sama menumbuk tapai di bawah bulan purnama? Di sana, kita bisa menari Cangget, bertukar cerita, dan kemudian, dengan hati yang terbuka, kita bisa membicarakan kebutuhan kita.”
Sang ayah tertegun. Ide anaknya itu bukan sekadar ide, tetapi adalah jalan adat. “Kau benar, Nak. ‘Ngget’ bukan sekadar pesta. Ia adalah jembatan. Dengan menari bersama, kita mengingatkan bahwa kita masih saudara sebangsa dan setanah air, meski dipisahkan oleh rimba dan sungai. Kita akan mengingatkan mereka dengan syair-syair dalam tarian, bahwa tangan yang sama yang menabuh gendang untuk irama tarian, adalah tangan yang siap untuk membantu bila mereka membutuhkan.”
Maka, berangkatlah beberapa pemuda terbaik membawa undangan yang terbuat dari anyaman bambu berisi pinang sirih—lambang niat baik. Undangan untuk sebuah ritual besar: Cangget.
Cangget Awal: Merajut Ikatan di Tengah Jagad yang Membentang
Kisah Ratu Ayu dan ayahnya adalah potret nyata dari kondisi geografis dan sosial masyarakat Lampung kuno. Sebelum jalan aspal dan jembatan beton menghubungkan daratan, wilayah Lampung adalah sebuah mozaik luas dari komunitas-komunitas yang terisolasi. Pemukiman mereka tersebar di pedalaman yang dikelilingi hutan belantara dan di sepanjang pinggiran sungai-sungai besar. Isolasi ini merupakan tantangan terbesar bagi kelangsungan hidup sebuah peradaban yang justru dibangun di atas fondasi kekeluargaan yang kuat, bejuluk beadek (bergelar dan beradat).
Dalam konteks inilah, Cangget lahir. Ia bukan lahir dari masa damai dan mudah, tetapi justru dari kebutuhan yang sangat pragmatis dan mendesak: bertahan hidup dengan cara bersatu.
Kehidupan yang Tersebar dan Terisolasi
Masyarakat Lampung kuno hidup dalam unit-unit marga yang seringkali sangat berjauhan. Sebuah marga mungkin menguasai wilayah di sekitar aliran sungai yang subur, sementara marga lainnya hidup dari hasil buruan di perbukitan. Jarak antara satu tiyuh dengan tiyuh lainnya bisa ditempuh berhari-hari dengan berjalan kaki, melewati medan yang berbahaya.
Kondisi ini menciptakan beberapa masalah:
1. Kerentanan Ekonomi: Sebuah marga yang gagal panen atau kekurangan suatu komoditas akan sangat menderita karena tidak mudah mendapatkan bantuan.
2. Potensi Konflik: Isolasi bisa menimbulkan prasangka dan kesalahpahaman. Perebutan sumber daya seperti area berburu atau tambang emas tradisional bisa memicu perseteruan.
3. Pelemahan Identitas Budaya: Tanpa interaksi, setiap marga bisa berkembang menjadi entitas yang terlalu independen, melupakan ikatan persaudaraan yang lebih besar dalam satu suku.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah mekanisme untuk secara berkala meruntuhkan tembok isolasi ini. Dibutuhkan sebuah acara yang begitu berharga, begitu bermakna, dan begitu menyenangkan, sehingga setiap marga bersedia mengerahkan tenaga dan sumber dayanya untuk hadir. Itulah hakikat paling purba dari ritual Cangget.
Cangget sebagai Ritual Pertemuan dan Penguatan Ikatan
Cangget pada mulanya adalah sebuah ritual pertemuan antarmarga dalam satu suku. Istilah “ngget” sendiri bisa merujuk pada keramaian, perkumpulan, atau pesta adat besar-besaran. Ritual ini dirancang sebagai magnet sosial yang tidak tertahankan.
Fungsinya sangat multifaset:
1. Sarana Komunikasi (Nengah Nyappur): Dalam sebuah pertemuan Cangget, terjadi tukar-menukar informasi yang vital. Mereka membicarakan kondisi panen, pergerakan binatang buas, wilayah yang aman untuk dibuka, bahkan ancaman dari luar. Syair-syair (hahiwang) yang dinyanyikan dalam tarian seringkali berisi pesan-pesan terselubung atau pengingat akan sejarah bersama.
Sebuah kutipan dari tradisi lisan Lampung menggambarkan hal ini: “Dilom ai kuta bekasah, Dilom adat bepasanggihan.” (Dalam hutan kita bercerita, Dalam adat kita berembuk.)
Analisis Kutipan: “Bekasah” (bercerita) dan “bepasanggihan” (berembuk/bermusyawarah) adalah jantung dari fungsi komunikasi Cangget. Acara ini adalah ruang di mana informasi dibagikan dan masalah-masalah diselesaikan secara kolektif, sesuai dengan jiwa nengah nyappur (aktif bersosialisasi).
2. Sarana Perdagangan (Sikai Sambayan): Cangget adalah pameran dan pasar raya tradisional. Setiap marga membawa hasil bumi terbaiknya: rempah-rempah dari dataran rendah, damar dan madu dari pedalaman, garam dan ikan dari pesisir, serta kerajinan tangan seperti kain tapis dan perak. Pertukaran ekonomi ini tidak selalu dengan uang, tetapi lebih sering dengan sistem barter yang saling menguntungkan. Ini adalah perwujudan nyata dari sakai sambayan (tolong-menolong) dalam skala yang lebih luas.
3. Sarana Diplomasi dan Pencegah Konflik: Ini adalah fungsi yang paling cerdik. Dengan berkumpul dalam suasana sukacita dan seni, ketegangan antar marga dapat mencair. Sebuah perselisihan perbatasan kecil bisa diselesaikan oleh para Penyimbang di sela-sela acara, dengan didampingi semangat persaudaraan yang sedang diperkuat oleh irama musik dan kekompakan tarian. Cangget menjadi media “diplomasi budaya” yang sangat efektif.
Sebuah nasihat adat dalam Kuntara Raja Niti menyebutkan: “Tandang liwa tepung ku beghawa, Sirih pekhidang ku temon.” (Silaturahmi bertemu pada wadahnya, Sirih dihidangkan kepada tamu.)
Analisis Kutipan: “Tepung ku beghawa” (bertemu pada wadahnya) adalah metafora yang dalam. “Wadah” di sini adalah ritual Cangget. Cangget menyediakan wadah yang netral, beradab, dan penuh hormat untuk berbagai marga “bertemu”. Sirih yang dihidangkan adalah simbol penerimaan dan niat baik. Dengan demikian, konflik dapat dihindari karena semua pihak telah diingatkan bahwa mereka memiliki “wadah” bersama untuk menyelesaikan masalah.
Kerjasama Marga dalam Menyukseskan Ritual
Penyelenggaraan sebuah Cangget adalah proyek besar yang membutuhkan kerjasama solid dari semua marga yang terlibat. Biasanya, marga yang wilayahnya paling strategis (biasanya di titik tengah dari wilayah persebaran marga) atau marga yang sedang memiliki hajatan besar akan menjadi tuan rumah (marga tuan).
Pembagian perannya jelas:
* Marga Tuan: Menyiapkan lokasi utama (biasanya sebuah lapangan luas di tengah tiyuh), menyediakan hewan ternak untuk konsumsi, dan menjamin keamanan selama acara berlangsung.
* Marga Tetamu: Membawa serta hasil bumi dan kerajinan terbaik mereka untuk dipamerkan dan ditukar, serta menyiapkan kelompok penari dan pemusik terlatih mereka.
* Penyimbang dari Berbagai Marga: Bersama-sama memimpin musyawarah adat, menyelesaikan sengketa, dan memastikan seluruh ritual berjalan sesuai adat.
Proses persiapan ini sendiri sudah merupakan latihan sakai sambayan yang luar biasa. Ketika acara berlangsung, semua perbedaan terkikis. Yang ada hanyalah kekaguman pada penari dari marga lain, keriangan anak-anak muda yang berinteraksi, dan kebanggaan para tetua melihat ikatan yang mereka jaga tetap hidup.
Analisis Filosofis: Tarian sebagai Metafora Persatuan
Setiap gerakan dalam Tari Cangget, khususnya yang ditarikan secara massal, adalah metafora dari kehidupan bermarga yang ideal.
* Gerakan yang Kompak dan Terstruktur: Penari bergerak dalam formasi yang rapi, mengikuti irama gendang yang sama. Ini melambangkan bagaimana setiap individu dan setiap marga memiliki tempat dan perannya masing-masing dalam struktur sosial yang lebih besar. Mereka berbeda, tetapi bergerak menuju harmoni yang sama.
* Ekspresi Wajah yang Bersahabat: Penari Cangget tidak menunjukkan ekspresi sangar atau sedih, tetapi senantiasa tersenyum dan menunjukkan sikap penuh percaya diri dan keramahan (nemui nyimah). Ini adalah pesan diplomatik: “Kedatangan kami adalah untuk bersukacita, bukan untuk berperang.”
* Saling Mengitari dan Berhadapan: Pola lantai tarian seringkali melibatkan gerakan saling mengitari dan berhadapan antara kelompok penari laki-laki dan perempuan. Ini adalah simbol dari interaksi dan dialog yang terus-menerus terjadi antar marga.
Dengan demikian, Cangget bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah sebuah simulasi dan sekaligus penguatan dari tatanan sosial yang diidamkan. Melalui tarian, masyarakat Lampung kuno tidak hanya menyatakan persatuan mereka, tetapi secara aktif dan ritualistik menciptakan kembali persatuan tersebut di tengah-tengah ancaman disintegrasi oleh alam dan jarak.
Kesimpulan: Dari Need menjadi Ritual
Cangget awal adalah jawaban yang genius atas sebuah masalah eksistensial. Keterpencilan geografis telah menciptakan kebutuhan (need) untuk berinteraksi. Kebutuhan ini kemudian dibungkus dengan begitu indahnya dalam sebuah ritual (ritual) yang penuh dengan seni, makna, dan sukacita.
Ia adalah jembatan di atas sungai-sungai yang belum terbentang, adalah jalan setapak yang diterangi obor dan bulan purnama menembus kegelapan hutan, dan adalah pasar yang menghidupkan perekonomian. Lebih dari segalanya, Cangget adalah pengingat bahwa meskipun mereka hidup terpencar dalam marga-marga yang berbeda, dalam tarian yang sama, mereka adalah satu tubuh, satu jiwa, dan satu bangsa: bangsa Lampung yang menjunjung tinggi Piil Pesenggiri.
Ritual inilah yang menjadi cikal bakal dari semua perkembangan Tari Cangget yang lebih modern. Ia adalah embrio yang mengandung semua nilai luhur yang akan tetap hidup, selama masih ada orang yang mau menari bersama di bawah langit yang sama.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hilman, Hadikusuma. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Bab mengenai kehidupan komunitas tradisional dan fungsi adat).
2. Junus, Umar. (1985). Dari Perbendaharaan Lama: Ragam Puisi Lama Indonesia. Penerbit ITB: Bandung. (Berisi analisis tentang syair-syair tradisional seperti hahiwang).
3. Suryadi, A. (2004). Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Lampung sebagai Sumber Pengetahuan Hukum dan Kemasyarakatan. Lenggang Musi: Bandar Lampung. (Sebagai sumber kutipan naskah adat).
4. Wijaya, H. (2015). “Tari Cangget dalam Konteks Sosial-Budaya Masyarakat Lampung”. Jurnal Kajian Seni, 2(1), 45-60. (Menjelaskan fungsi sosial dan ekonomi dari penyelenggaraan Cangget).
5. Saptono, dkk. (2018). “Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Ngget pada Masyarakat Adat Lampung Pepadun”. Jurnal Socius, 7(2), 112-125. (Mengkhususkan pada analisis nilai-nilai filosofis dalam ritual pertemuan adat).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

