Gelar Adat Mahal, Ekonomi Rakyat Tertekan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di Dusun Panaragan, di wilayah Lampung Pepadun, masyarakat hidup dalam getar kegembiraan dan kecemasan. Sebentar lagi, kampung akan menggelar upacara adat Gelar Pepadun, sebuah prosesi pemberian gelar kehormatan bagi warga yang berhasil berjasa membangun kampung. Namun, gelar ini tidak sekadar penghargaan; ia datang dengan syarat berat: mahar adat, sesajen mewah, sapi gemuk, kain tapis tenunan tangan, serta uang tunai untuk perjamuan rakyat.
Akibatnya, ebah pun terdengar. Banyak keluarga petani menjerit, biaya untuk memenuhi syarat adat amat tinggi, sementara hasil panen padi kian menurun karena kemarau panjang.

Diskusi pun berkecamuk: bagaimana bisa mempertahankan warisan adat yang sangat kaya tetapi berpotensi menghancurkan ekonomi rakyat?
Ketua adat, Datuk Besi, menyadari kegelisahan ini. Ia mencoba mencari jalan tengah: menjaga harkat gelar adat sembari membebaskan rakyat dari jerat utang. Namun untuk itu ia harus menghadapi tradisi leluhur dan kehendak sebagian sanak keluarga besar.
Malam ini, sebelum pertemuan besar di balai adat, angin membawa bisikan para tetua dalam mimpi Datuk Besi:
“Kembalikan makna gelar sesungguhnya: bukan untuk membedakan, tetapi untuk menyatukan,” bunyi sosok lawas yang diyakini roh leluhur Adat Pepadun. Tatkala ia terbangun, Datuk Besi memutuskan sebuah eksperimen: menggelar upacara tanpa mahar mahal, namun berdasarkan ketulusan niat dan kehadiran. Ia pun memanggil tokoh masyarakat, sanak keluarga, petani muda, dan penenun.

Beberapa pekan menuju upacara, suasana di Panaragan berubah. Di bawah pohon besar Balai Keda (balai besar), pedagang sapi berdatangan, penenun tapis menyiapkan tenunan paling indah, sementara petani mengadu hasil panen untuk membantu memenuhi persyaratan adat. Ibu ibu membawa kunyit merah, beras ketan, sirih pinang, dan dupa harumnya menusuk udara.
Datuk Besi memulai rapat adat. Ia menyampaikan kabar yang menggoncang: omelan warga petani semakin keras, biaya hidup makin tinggi, tetapi upacara adat tidak bisa ditunda.
Seorang petani bernama Iman angkat bicara. “Datuk, istriku sakit, anak butuh sekolah. Kalau kami dituntut membeli sapi jantan seharga dua puluh juta, bagaimana kami?”
Nada tegas muncul dari Nai Azizah, tokoh perempuan. “Tradisi itu keras, Datuk. Tapi gelar adat bukan minta keuntungan. Ia menegaskan tanggung jawab dan kebanggaan kepada leluhur dan masyarakat.”
Datuk Besi meminta pendapat seluruh warga. Mendadak, kemacetan suara, antara keinginan menjaga tradisi dan tuntutan pragmatis ekonomi.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 9: Lampu Emas di Pelabuhan Kalianda. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Malamnya, Datuk Besi bermimpi. Ia berada di hadapan sosok nenek moyang bertubuh bercahaya. Suaranya tenggelam dalam gemerisik daun:
“Adat yang memisah, bukan adat. Mahar itu bukan untuk memperkaya keluarga besar, tetapi untuk memperkuat persaudaraan. Batalkan dagangan, lipatkan kain dengan tangan, nyanyikan mantra pengikat hati… Jadikan gelar pengikat sosial, bukan penghalang petani.”
Datuk Besi terbangun dengan mata berlinang. Bayangan kain tapis diubah menjadi simbol keikhlasan, bukan bisnis kaya kaya.

Hari upacara tiba. Datuk Besi tiba di balai adat mengenakan kain tapis sederhana dan membawa sesajen seadanya: sirih pinang, tembakau, daun lontar. Tidak ada sapi gemuk, tidak ada ton-terikan emas. Ia memulai prosesi dengan doa dalam bahasa Lampung:
“Tinggalah roh leluhur di tengah niat tulus. Jadilah gelar ini sebagai pengikat bukan pemisah… Gelar tidak untuk mereka kaya, tapi untuk mereka yang bekerja bersama.”
Sanak saudara terheran, beberapa aktivis adat menahan tawa. Ada yang menganggap penghinaan, ada yang mengambil nada sinis. Namun hal yang tak diduga terjadi: keluarga miskin maju membawa secarik kain tenunan sederhana, hasil tenun kampung, sebagai tanda persetujuan. Dan satu per satu warga mulai ikut maju: seorang penenun tua memberikan sepotong tapis buatan tangannya, seorang pemimpin tani membawa dua sisir pisang, dan seorang nenek miskin mendekat memberi secarik daun pisang berisi nasi dan lauk sederhana.

Ketika semua sesajen sederhana terkumpul, dipersembahkan dengan ikhlas, terjadi keheningan panjang. Neraca sosial merasakan getar, gelar adat bisa dilakukan tanpa membebani rakyat. Suara gong terdengar halus, dipukul Datuk Besi dengan tangan kanannya. Semua orang menangis, mencium kain tapis, dan membaur tanpa sekat sosial.
Rasa solidaritas tumbuh. Si petani miskin yang awalnya merasa dikucilkan kini dipeluk, diberikan peran sebagai pemberi utama. Makna gelar adat bergeser: dari simbol status tinggi menjadi simbol penyatuan dan rasa syukur.
Upacara ditutup dengan makan bersama menghadirkan lauk sederhana dan bubur merah santan. Dan gema mantra: “Adat itu bersuara dari hati, bukan kantong.”

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Senerus Saat Ini Buku – 4 Kisah-kisah nyata dan lisan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam cerita ini, mahar adat diwakili oleh persyaratan sapi mahal, kain tapis berharga tinggi, dan sesajen mewah. Hal ini mencerminkan realitas modern, biaya ritual sering kali menekan ekonomi rakyat. Namun, adat bukan melulu soal barang mewah. Filosofi adat Lampung pepadun mengutamakan ikatan sosial dan tanggung jawab bersama. Mahar seharusnya menjadi bentuk syukur, bukan leverage ekonomi. Eksperimen Datuk Besi, gelar tanpa mahar, mengembalikan makna asli: gelar adalah gelombang solidaritas bukan simbol status. Dengan mempermudah persyaratan, gelar menjadi inklusif, bukan meruntuhkan martabat petani.

Ketika warga miskin membawa sesajen sederhana, ini menunjukkan ikhtiar bersama. Gotong royong, karakter utama masyarakat adat, diwakili secara spiritual dalam berbagi bahan bukan hanya uang atau sapi. Ini sejalan dengan prinsip sekala sekepa: berbagi sesuai kemampuan. Gotong royong diupacarakan sebagai pengikat emosional, budaya, dan ekonomi. Tak ada yang diuntungkan selain masyarakat secara kolektif.

Mimpi Datuk Besi adalah representasi simbolik silaturrahmi ruhani. Tradisi Lampung memandang leluhur hidup melalui doa, kain tapis, dan ritual. Ketika masyarakat menunjukkan niat tulus, roh leluhur dianggap hadir menerima. Ini bukan mistik kosong, tetapi bentuk spiritualitas yang mengikat komunitas bersama dalam kesadaran kolektif. Adalah penting bahwa adat dijalankan dengan hati, bukan sekadar tampilan ritual.

Eksperimen prosesi adat ini merupakan model adaptasi budaya ketika menghadapi tekanan ekonomi. Ia membuat adat tetap relevan dengan mengubah mahar menjadi simbol keikhlasan. Hal ini mendemonstrasikan bahwa budaya hidup dapat berubah sesuai kebutuhan zaman tanpa menghancur. Filosofi adat tidak statis, tetapi dinamis dan inklusif.

Datuk Besi memegang peran kunci: ia menjadi mediator antara adat leluhur dan aspirasi rakyat. Seorang pemimpin adat harus mampu menerjemahkan kehendak leluhur nilai adat dalam bingkai kontekstual, ekonomi dan sosial. Transformasi Bali ini adalah contoh bahwa kepemimpinan spiritual memerlukan kerendahan hati dan rasa tanggung jawab bersama.

Kain tenunan sederhana yang diberikan petani miskin menjadi simbol kapasitas bersama: kain itu utuh meski sederhana. Tapis menjadi tanda penghormatan spiritual. Makna simbolis: budaya tangguh dari kesederhanaan dan kerja tangan komunitas. Ini menegaskan nilai estetika kebersamaan dan ketekunan masyarakat tradisional Lampung.

Baca Juga :  BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 3: TAHAPAN DAN PROSESI BEGAWI YANG SARAT MAKNA Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dengan menghapus mahar berat, gelar adat menjadi lebih demokratis. Ini membuka peluang bagi semua lapisan, petani, penenun, nelayan, ikut serta. Ritual ini bukan sekadar identitas, tetapi media distribusi sosial dan ekonomi. Dalam jangka panjang, ini bisa memperkuat jaminan sosial lokal: peristiwa adat menjadi ajang solidaritas dan saling bantu.

Fiksi ini memperlihatkan bahwa adat istiadat masyarakat Lampung, luar biasa kaya makna sosial dan spiritual, boleh dipertahankan tanpa membiayai rakyat dalam kondisi sulit. Transformasi mahar adat menjadi ritual ikhlas membuktikan bahwa kekayaan budaya sejati lahir dari nilai kesalehan sosial, bukan sekadar kekayaan materi.
Gelar adat dapat jadi sarana membangun persatuan dan keadilan sosial, asalkan nilai dasar, ikhlas, gotong royong, rasa syukur, dikembalikan ke pusat ritual. Ini membuka cakrawala baru: bagaimana adat hidup terus di era perubahan tanpa membuat rakyat terjebak utang. (*)

Daftar Pustaka
1. Ridwan, H. (2008). Adat Pepadun: Filosofi dan Struktur Sosial Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Pustaka Nusantara.
2. Siregar, E. (2012). Spiritualitas Lokal: Ritual dan Kepemimpinan Adat di Sumatera. Jakarta: Rajawali Pers.
3. Mardani, A. (2015). Jejak Kearifan Ekologis dalam Adat Lampung. Bandar Lampung: Kampus Lampung Press.
4. Nurhayati, D. (2017). “Sayang Alam, Sayang Leluhur: Perspektif Adat Pepadun.” Jurnal Antropologi Indonesia, 15(2), 45–68.
5. Sumanto, R. (2019). Upacara, Simbol dan Makna dalam Budaya Lampung. Yogyakarta: Andi Offset.
6. Zulla, M. (2020). Mantra dan Ritus: Tafsir Spiritual Masyarakat Tradisional. Surabaya: Pustaka Rohani.
7. Pratama, L. (2022). “Dinamisasi Tradisi: Studi Ekonomi Ritual di Lampung.” Majalah Budaya Nusantara, 11(3), 112–130.
8. Kartika, L. (2021). Transformasi Kebudayaan Lokal: Menjaga Identitas di Zaman Global. Jakarta: UGM Press.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini