nataragung.id – Natar – Di hamparan langit yang tidak pernah letih membentangkan kebesaran-Nya…
Di antara pergiliran malam yang sunyi dan siang yang ramai…
Ada sekelompok hamba yang tidak hanya memandang, tetapi merenung;
Tidak hanya mengetahui, tetapi menghayati;
Mereka disebut oleh Allah sebagai ulul albab,
Hamba-hamba yang hatinya hidup, mata batinnya peka, dan pikirannya jernih oleh cahaya dzikir.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
﴿ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الألْبَابِ ﴾
﴿ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal.
Yaitu mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring;
dan mereka yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata:
‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (Ali ‘Imran: 190–191)
Mereka adalah hamba yang matanya menembus lebih jauh dari apa yang tampak.
Ketika melihat cahaya fajar, mereka membaca kasih sayang-Nya.
Ketika menatap gelap malam, mereka mendengar bisikan kebesaran-Nya.
Ketika angin bergerak, mereka tahu bahwa Allah-lah yang menggerakkannya.
Ketika hati resah, mereka kembali pada satu kalimat yang menenangkan:
“Allah bersamaku.”
Di tangan mereka, dzikir menjadi bahan bakar jiwa,
dan fikir menjadi kompas perjalanan.
Dzikir menenangkan gelombang hati…
Fikir menuntun langkah menuju makna.
Ulul albab tidak hanya sibuk dengan dunia,
mereka menimbang setiap detik dengan timbangan akhirat.
Mereka tidak hanya ingin hidup,
tetapi ingin bernilai dalam hidup.
Mereka bukan sekadar mencari jawaban,
tetapi mencari Tuhan dalam setiap jawaban.
Dalam sepi malam, ketika bintang menjaga langit,
mereka tenggelam dalam renungan panjang:
“Dari manakah aku? Untuk apa aku hidup? Ke mana aku akan kembali?”
Dan setiap pertanyaan membawa mereka pada satu kesimpulan:
“Tidak ada kehidupan tanpa-Mu, ya Allah…”
Maka mereka pun bersujud,
bukan karena kewajiban,
tetapi karena cinta yang memanggil.
Mereka berdoa,
bukan karena takut,
tetapi karena rindu kepada Rabb yang selalu dekat.
Ulul albab adalah insan yang hidup dua dunia sekaligus:
dunia akal dan dunia hati.
Akal mereka menatap luasnya ciptaan…
Hati mereka bersandar pada Sang Pencipta.
Wahai jiwa yang sedang mencari tenang,
jadilah bagian dari mereka.
Biarkan hatimu basah oleh dzikir…
Biarkan pikiranmu terbang melalui fikir…
Sampai akhirnya engkau berdiri tegak di hadapan Allah dengan cahaya yang bersinar dari kedua sayap itu.
Karena hidup bukan hanya tentang apa yang kita lihat,
tetapi tentang apa yang kita pahami.
Bukan hanya tentang apa yang kita miliki,
tetapi tentang apa yang kita renungi.
Dan ulul albab telah menunjukkan jalan itu:
jalan kembali kepada Allah dengan dzikir yang hidup,
dan fikir yang jernih. (KIS).
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

